Literasi Teknologi untuk Menangkal Radikalisasi

Sholy Khoirudin Zuhri

22/11/2025

4
Min Read
Literasi

On This Post

Harakatuna.com – Teknologi digital merevolusi cara ideologi disebarkan, ditanamkan, bahkan diperjualbelikan. Teknologi menjadi alat, di mana algoritma bekerja dan mampu menyentuh psikologis manusia hanya dalam hitungan detik. Dunia maya yang bebas dan terbuka menjadikan ruang digital sangat rentan bagi tumbuhnya radikalisme. Kelompok ekstrem memanfaatkan arus globalisasi, tren teknologi, serta fenomena fear of missing out (FOMO) sebagai momentum untuk merusak Islam yang penuh kasih sayang.

Nilai Islam yang dibangun atas dasar rahmat dapat digeser hanya dalam waktu singkat. Penyebaran paham radikal tidak lagi membutuhkan tatap muka, karena kini mereka bertransformasi dan masuk melalui TikTok, YouTube, Instagram, bahkan mulai ramai merebah dalam dunia game onlie, serta berbagai platform lain yang penuh tren dan hiburan.

Mesin digital bekerja tanpa mengenal ideologi, tugasnya hanya membuat pengguna bertahan lebih lama. Semakin emosional sebuah konten, semakin cepat ia menyebar. Celah inilah yang dimanfaatkan kelompok radikal, menggunakan algoritma untuk memunculkan konten pembelaan semu yang tampak relevan bagi pengguna yang sedang ‘rapuh’.

Fenomena ini menjadi semakin serius ketika banyak orang menjadikan media sosial sebagai pelarian dari tekanan hidup. Saat seseorang sedang sedih, tertindas, atau mengalami tekanan sosial-ekonomi, lalu menemukan konten yang selaras dengan emosinya, disitulah celah yang dapat dieksploitasi. Manipulasi psikologis bekerja melalui algoritma media sosial, menanamkan, membujuk hingga merekrut untuk jadi bagian mereka dengan cara tipuan semu. 

Untuk menghadapi situasi tersebut, umat Islam perlu membangun literasi digital yang kuat. Literasi bukan sekadar mampu mengoperasikan teknologi digital, tetapi memahami bagaimana teknologi bekerja, bagaimana informasi diproduksi, serta bagaimana algoritma mampu mempengaruhi cara seseorang berpikir dan merespons dunia.

Umat Islam harus memandang teknologi sebagai alat pencegah radikalisme, bukan ancaman yang harus dijauhi. Menutup diri dari perkembangan teknologi justru membuka peluang bagi kelompok ekstrem untuk bergerak lebih leluasa.

Islam sendiri sejak awal telah menegaskan pentingnya belajar, seperti dalam surah Al-Alaq:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ۝١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ۝٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ۝٣ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ۝٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ۝٥

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa perintah iqra’ memiliki makna luas. Membaca itu juga mencakup membaca fenomena sosial, membaca perkembangan zaman, serta membaca arus informasi digital. Dalam konteks teknologi modern, membaca berarti memahami pola algoritma, arus informasi, dan cara kerja dunia digital agar tidak mudah terjebak pada narasi radikal.

Upaya melawan gerakan ekstrem tidak dapat bergantung pada nilai-nilai Islam tradisional semata jika tidak dibarengi pemahaman teknologi. Jika umat Islam terus skeptis terhadap teknologi atau hanya berpegang pada pendekatan lama, maka kelompok ekstrem akan terus menguasai ruang digital dengan strategi yang lebih canggih.

Mereka menargetkan Gen Z dan Muslim yang minim literasi digital sebagai sasaran utama. Ketidaksiapan kita dalam menghadapi hal ini dapat menyebabkan hilangnya generasi muslim moderat yang sekaligus melek teknologi.

Karena itu, literasi digital perlu mencakup tiga kompetensi penting. Pertama, literasi digitalkritis, yaitu kemampuan menilai konten, mengenali propaganda, dan memahami bagaimana algoritma mempengaruhi emosi. Kedua, literasi keagamaan kontekstual, yakni pemahaman Islam yang terbuka, rasional, dan relevan dengan realitas modern.

Ketiga, literasi psikologis, yang membantu seseorang mengelola emosi dan tidak ada ruang kosong sehinggga tidak mudah dimanfaatkan oleh narasi ekstrem. Jika ketiga aspek ini dimiliki, radikalisme digital akan kehilangan ruang untuk berkembang.

Pada saat yang sama, para pendakwah moderat perlu menjadikan teknologi sebagai alat penyebaran nilai Islam rahmatan lil alamin yang lebih efektif. Dakwah tidak harus hadir dalam bentuk ceramah panjang, namun bisa tampil sebagai video singkat, infografik, dialog kreatif, yang membumikan ajaran Islam yang damai. Dengan kemasan menarik, dakwah moderat mampu menandingi narasi ekstrem dan bahkan lebih mudah diterima generasi muda.

Selain itu, upaya pencegahan radikalisme digital harus dilakukan bersama. Keluarga berperan membentuk karakter anak sejak dini agar mencintai Islam yang penuh kasih. Sekolah perlu memasukkan literasi digital ke dalam kegiatan belajar agar siswa dapat mengenali hoaks keagamaan dan propaganda ekstrem.

Kelompok keagamaan harus membuka ruang dialog inklusif, bukan ruang yang dipenuhi otoritas keagamaan, menghilangkan daya fikir kritis, empati, hingga moral. Ketika tiga pilar ini bergerak bersama, radikalisasi digital perlahan akan kehilangan arah.

Menghadapi radikalisme digital ialah tentang membangun daya tahan intelektual, emosional, dan spiritual umat. Jika umat Islam mampu memadukan tradisi keilmuan dengan kecakapan teknologi, maka Islam rahmatan lil alamin akan tetap berdiri kokoh di tengah derasnya arus digital.

Literasi digital bukan sekadar keterampilan tambahan, namun adalah kebutuhan moral umat Islam agar tidak menjadi mangsa manipulasi, tetapi mampu menjadi aktor yang bijak dalam menghadapi dunia digital. Dengan demikian, generasi muslim masa depan dapat tumbuh sebagai pribadi yang cerdas, toleran, melek teknologi, dan menjaga kemurnian ajaran Islam dari sebaran “tindak tanduk” radikalisasi.

Leave a Comment

Related Post