Harakatuna.com – Kata siapa HTI bubar? Gagasannya tidak lenyap bersama surat keputusan pemerintah. HTI menyelinap lebih dalam ke ruang-ruang privat masyarakat dan tumbuh tanpa hiruk-pikuk seperti organisasi klandestin yang belajar dari kegagalan masa lalunya. Itulah yang membuat HTI berbeda dari ancaman ekstremisme lainnya. Mereka mengangkat ideologi yang perlahan merongrong benteng demokrasi dari dalam, tanpa selalu disadari publik.
Di saat banyak orang menganggap ancaman terorisme di Indonesia meredup setelah berbagai operasi kontra-teror dilakukan terhadap JI dan JAD, HTI justru menapaki rute lain: gerilya ideologis. Mereka tidak memobilisasi bom atau senjata. Mereka memobilisasi wacana dan keresahan masyarakat. Dan setelah nyaris satu dekade dilarang, yang tumbuh jauh lebih besar dari perkiraan banyak orang. Jaringan mereka mengakar, cair, dan adaptif, bahkan masyarakat pun tak sadar ada HTI di sekitaran mereka.
Data yang muncul dari seorang eks-amir HTI memperlihatkan peningkatan anggota yang mencengangkan. Ada puluhan ribu hingga seratus ribu lebih simpatisan aktif. Tentu angka itu bisa diperdebatkan, tetapi tren pergerakannya sulit dibantah. Kajian online HTI tetap masif dan regenerasi berjalan melalui kampus, sekolah, bahkan pengajian. HTI memiliki ekosistem yang sulit dibubarkan dibanding organisasi.
Penting dicatat bahwa, ancaman ideologis tidak pernah muncul dengan dentuman yang memekakkan telinga. Ia tumbuh seperti retakan kecil pada fondasi bangunan; tidak terlihat pada awalnya, tetapi tetap merambat, memperlebar jaraknya, hingga suatu saat bangunan itu runtuh dan memakan korban. Begitulah HTI. Mereka tengah menggoyahkan legitimasi negara secara perlahan, menciptakan jarak antara warga dan konstitusi, antara masyarakat dan spirit kebangsaan. Di sinilah letak bahaya radikalisasi senyap.
Ketika publik sibuk mengukur ancaman dari kelompok radikal-teror, mereka cenderung lupa bahwa transformasi sosial yang paling berbahaya itu lewat perubahan opini, persepsi, dan keyakinan yang terdengar “wajar”. Dan HTI mahir memainkan wilayah itu. Mereka mengemas ideologi politik transnasional ke dalam bahasa kepedulian umat dan kekecewaan sosial. Mereka tidak datang sebagai penyulut konflik, melainkan penyelesai masalah. Itulah kekuatan mereka.
Karena itu, sebelum masuk pada bagaimana HTI membangun gurita sosialnya di masyarakat dan mengapa Indonesia harus waspada terhadap manuver ideologis mereka, penting untuk meletakkan satu kesadaran dasar: bahwa radikalisasi kadang berwajah ramah, berpendidikan tinggi, dan hadir melalui orang-orang yang kelihatannya tidka bahaya. HTI memahami medan dengan sangat baik, maka Indonesia harus memahami pergeseran itu segera sebelum menggurita.
Gurita HTI di Masyarakat
HTI bak gurita yang menyembunyikan tubuhnya di kedalaman, sementara tentakelnya menjulur ke segala arah tanpa mudah terlihat. Setelah bubar pada 2017, HTI berubah bentuk dari struktur yang jelas jadi jaringan cair, dari rapat terbuka jadi halakah privat, dari kampanye besar ke strategi infiltrasi . Mereka menghilang sebagai entitas legal, tetapi semakin mencengkeram berbagai ruang hidup masyarakat. Di titik itulah HTI menunjukkan daya adaptasi yang selama ini diremehkan.
Tentakel terkuat gurita tersebut berada di lingkungan pendidikan, terutama kampus dan sekolah. HTI memahami bahwa ideologi tak perlu dipaksakan dengan ancaman, cukup ditanamkan lewat diskusi intelektual dan kelompok belajar yang dikemas sebagai ruang pencarian makna. Banyak mahasiswa cerdas yang lelah dengan politik partisan dan bingung dengan arah negara, lalu menemukan “ketertiban ideologis” di tangan HTI.
Saat ini, di tangah HTI, ide khilafah tidak dijual sebagai doktrin, tetapi sebagai solusi akademik yang logis dan ilmiah. Di situlah HTI unggul dibanding kelompok ekstrem lainnya: mereka menguasai semesta wacana. Tentakel lainnya merayap ke grup keluarga. Keluarga jadi medium paling efektif untuk mempertahankan ideologi lintas generasi. Pengajian kecil di rumah hingga kelompok perempuan profesional telah lama jadi lahan subur diseminasi ideologi khilafah.
Selain itu, HTI juga memanfaatkan ruang digital sebagai habitat utama gerilya ideologis mereka. Medsos dipenuhi konten analisis geopolitik dan isu moral yang pada permukaannya tampak netral, tetapi secara perlahan menggeser orientasi politik publik ke arah anti-demokrasi dan anti-NKRI. Mereka membangun narasi tentang kegagalan negara, kebobrokan demokrasi, dan kerinduan pada sistem tunggal: one ummah, yang diklaim syar’i. Tidak ada ajakan eksplisit menggulingkan negara, hanya rangkaian opini untuk menciptakan kelelahan ideologis terhadap sistem NKRI.
Yang sering luput dibahas adalah bagaimana HTI juga mengincar kelas menengah-baru Indonesia, yaitu profesional muda, pekerja kantoran, bahkan ahli di bidang sains dan teknologi. Mereka melihat mereka sebagai motor perubahan yang bisa menggerakkan opini publik sekaligus membangun jaringan strategis di institusi penting. Di situlah gurita HTI efektif: memasarkan radikalisme sebagai kecerdasan moral.
Karena HTI bekerja dengan cara yang nyaris tanpa suara, banyak orang keliru mengira bahwa mereka telah hilang. Padahal, yang hilang hanya atributnya, yang bertumbuh adalah jaringannya. Gurita HTI muncul dalam percakapan di kelas, obrolan keluarga, grup WhatsApp, dan konten medsos yang lewat di beranda setiap hari. Dan jika tidak segera ditindak, maka gurita itu akan mencengkeram masyarakat Indonesia semakin kuat dan merusak nasionalisme.
Selamatkan Negeri Kita dari HTI!
Menyelamatkan Indonesia dari ancaman HTI bukan berarti membenci anggotanya. Ancamannya terletak pada ideologi yang mereka bawa, bukan pada manusia yang memercayainya. Orang-orang HTI adalah sesama warga negara. Banyak yang cerdas dan murni ingin melihat negeri ini jadi lebih baik. Tetapi ketika sebuah ideologi mengajarkan bahwa negara yang mereka tinggali tidak sah, bahwa konstitusi adalah produk kufur, dan bahwa demokrasi adalah sistem cacat yang mesti diganti, maka negara tidak boleh diam.
Seruan “menyelamatkan Indonesia dari HTI” adalah seruan untuk melek ideologi. Selama ini publik terlalu fokus pada ancaman aksi teror, hingga lupa bahwa yang lebih sulit diberantas adalah gerakan yang bekerja melalui pengaruh pikiran. Teroris bisa dimusnahkan dalam satu malam, tetapi ideologi tidak bisa ditangkap dan diborgol. HTI harus dilawan dengan pemahaman dan kesiapan negara memasuki ruang yang selama ini dikuasai HTI: ruang diskusi, ruang intelektual, ruang kampus, dan ruang digital.
Indonesia juga harus memahami bahwa HTI merupakan gerakan politik transnasional, dengan tujuan akhir yang tidak pernah berubah meski strategi mereka berubah. Ketika negara membubarkan HTI secara legal, HTI kembali ke bentuk asalnya: jaringan klandestin global yang mampu bertahan tanpa struktur formal. Jika negara tidak menanggapi akar ideologinya, maka HTI akan selalu punya tempat untuk bertumbuh.
Menyelamatkan negeri ini juga berarti menyelamatkan generasi muda dari ketertarikan pada ideologi yang tampak intelektual namun sebenarnya berbahaya. HTI menawarkan jalan pintas yang indah: sistem tunggal yang katanya suci, utuh, dan bebas konflik. Bagi banyak orang, itu terdengar meyakinkan. Tetapi negeri ini dibangun dengan kesadaran bahwa keragaman adalah keniscayaan, bukan sesuatu yang harus ditentang.
Menjaga Indonesia dari HTI berarti menghidupkan kembali kepercayaan publik terhadap negara. HTI tumbuh karena mereka mengisi ruang kosong: ruang ketidakpuasan, ketidakadilan, dan kekecewaan yang gagal dijawab pemerintah. Jika negara ingin mengurangi daya tarik HTI, maka negara harus hadir dengan keadilan sosial, literasi digital, dan edukasi ideologis agar masyarakat tidak mudah digoyahkan narasi anti-demokrasi. Perangi silent radicalization!
Memang, Indonesia tidak sedang menghadapi perang fisik. Namun jika propaganda HTI dibiarkan menguasai pikiran publik, maka panggung keretakan besar tengah menunggu di masa depan. Karena itu, seruan merupakan peringatan. Menyelamatkan negeri kita dari HTI adalah menyelamatkan masa depan Indonesia. Negeri ini dapat bertahan hanya jika berdiri pada demokrasi dan Pancasila. Waspada gerilya HTI!
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…








Leave a Comment