Harakatuna.com – Pernahkah kita berhenti sejenak, menatap layar laptop atau halaman buku catatan, lalu bertanya dalam hati: “Betapa mudahnya menulis sekarang… tapi sudahkah aku benar-benar bersyukur?” Pertanyaan sederhana ini sering luput dari perhatian karena di era serba cepat seperti sekarang.
Menulis telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Kita menulis status di media sosial, mengetik pesan singkat, membuat catatan kuliah, atau menyusun artikel panjang. Namun, jarang sekali kita menyadari bahwa di masa lalu, hak untuk menulis bukanlah sesuatu yang dimiliki semua orang.
Mari kita melangkah mundur, ratusan tahun ke belakang. Bayangkan hidup di abad pertengahan atau era dark age. Kita hidup di sebuah kota kecil yang dikuasai bangsawan dan rohaniawan. Saat itu buku sangat mustahil dimiliki orang biasa. Harga kertas sangat mahal, bahkan orang-orang lebih memilih membeli makanan untuk hidup daripada membeli kertas. Pena bulu angsa hanya milik segelintir cendekiawan.
Kemampuan membaca pun menjadi hak istimewa. Tidak semua orang pada masa itu bisa membaca. Lalu bagaimana dengan menulis? Dulu menulis itu bukan sekadar pekerjaan. Menulis itu adalah kemewahan yang hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang.
Dahulu pada masa dark age, apa yang kita tulis bisa menyeret kita ke pengadilan dan penjara bawah tanah. Satu kalimat yang dianggap menghina penguasa atau bertentangan dengan doktrin otoritas resmi, bisa berujung pada hukuman mati. Begitulah nasib banyak penulis pada masa itu.
Giordano Bruno sebagai seorang penulis harus dibakar hidup-hidup karena gagasan kosmologinya yang ia tulis dianggap sesat. Galileo Galilei dipaksa menyangkal hasil penelitiannya yang ia tuliskan demi menyelamatkan nyawanya. Kebenaran yang lahir dari pena pada masa lalu sering kali terkubur oleh kekuasaan yang takut pada cahaya ilmu.
Kini, kita hidup di dunia yang berbeda. Kita hidup pada era pencerahan. Sebuah masa di mana kebebasan berpikir dan mengekspresikan diri jauh lebih luas dibandingkan masa lalu. Cahaya ilmu tidak lagi tersembunyi di ruang-ruang rahasia, melainkan memancar dari layar ponsel di genggaman kita. Menulis tidak lagi menjadi hak istimewa, tetapi keterampilan yang bisa dilakukan siapa saja. Dengan satu ketukan jari, kata-kata kita dapat melintasi benua, melewati batas negara, bahkan menembus perbedaan bahasa.
Kita tidak perlu lagi menunggu izin penerbit besar atau restu penguasa. Seorang anak di desa terpencil bisa mempublikasikan puisi maupun tulisannya di internet dalam hitungan detik, dan karyanya itu bisa dibaca oleh banyak orang hingga seluruh penjuru dunia.
Teknologi percetakan yang dulu hanya dimiliki segelintir pihak kini bisa diakses melalui self-publishing. Platform digital seperti blog, media sosial, dan portal berita memberi panggung bagi siapapun untuk berbagi ide. Tidak ada lagi jarak geografis yang menghalangi untuk tulisan kita bisa dibaca oleh orang lain.
Sayangnya nikmat ini seringkali kita lupakan. Kita terbiasa mengetik di layar tanpa memikirkan betapa mahalnya hak seseorang untuk menulis di masa lalu. Kita mencari referensi dari jutaan buku digital tanpa mengingat bahwa dahulu, seorang pelajar harus menempuh perjalanan berhari-hari hanya untuk membaca satu manuskrip.
Kita saat ini, jika ingin menulis di aplikasi, maka sekarang sudah dimudahkan dengan adanya sistem otomatis memperbaiki ejaan. Padahal dulu, satu kesalahan tinta bisa membuat penulis mengulang seluruh naskah dari awal.
Namun, semua kemudahan ini juga menuntut sebuah tanggung jawab. Kebebasan berekspresi tidak berarti bebas menyebarkan kebencian atau informasi palsu. Justru di era keterbukaan informasi, etika menulis menjadi semakin penting. Ibaratnya menulis itu seperti menabur benih di ladang pikiran orang lain. Benih itu bisa tumbuh menjadi pohon kebaikan atau racun yang merusak. Di tangan kita, pena atau dalam bentuk modernnya, yaitu keyboard. Alat ini bisa menjadi alat yang menyalakan obor pengetahuan, atau justru menyulut api kebencian.
Mensyukuri nikmat menulis bukan sekadar mengucapkan terima kasih di dalam hati, tetapi menggunakannya untuk tujuan yang benar. Menulis bisa menjadi ibadah, sedekah ilmu, atau warisan gagasan yang akan tetap hidup meski tubuh kita telah kembali ke tanah.
Jika di masa lalu para penulis harus melawan tirani hanya demi untuk menyuarakan kebenaran lewat tulisannya, maka di masa ini tantangan kita adalah melawan kelalaian dan kemalasan dalam menulis. Kita tidak lagi hidup di zaman dahulu yang menulis itu bisa membuat tangan kita terborgol ataupun digantung di tiang pancang untuk dibakar hidup-hidup. Sekarang kita hidup di masa banjirnya informasi yang sering kali menenggelamkan suara-suara yang layak didengar.
Generasi muda perlu diajak untuk menyadari bahwa menulis adalah bentuk kekuatan. Sekarang pena dalam arti modern adalah ponsel dan laptop kita. Sekarang ini, setiap kata yang kita tulis punya potensi mempengaruhi pikiran dan hati orang lain.
Hari ini, ketika pena kita telah berubah menjadi cahaya di layar, maka marilah kita mensyukuri nikmat menulis tersebut pada zaman engligmetenment ini. Kita harus jadikan menulis sebagai bagian dari kontribusi kita pada peradaban. Isi halaman demi halaman dengan ide-ide yang membawa manfaat, bukan sekadar memenuhi ruang kosong. Kita juga perlu menyadari bahwa siapa yang menulis untuk kebenaran dan kebaikan, maka di balik setiap kata yang kita tulis itu ada jejak yang mungkin akan menjadi pelita bagi seseorang yang sedang berjalan dalam kegelapan.
Menulis di era pencerahan modern adalah sebuah kemewahan yang dahulu tak terbayangkan oleh orang-orang di masa lalu. Jika di abad pertengahan pada masa dark age, seorang petani bahkan tak pernah menyentuh buku, maka hari ini seorang anak di pelosok desa pun bisa mengunggah tulisannya ke internet. Jika dahulu satu ide bisa membuat penulisnya kehilangan nyawa, sekarang satu ide bisa mengubah dunia dan anda tidak perlu takut akan kehilangan nyawa.
Maka, jangan biarkan kemudahan yang kita miliki ini membuat kita lengah. Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen tulisan, tapi lupa menjadi penciptanya. Kita perlu ingat bahwa dunia tidak hanya butuh pembaca. Dunia juga butuh seorang penulis yang berpikir, peduli, dan berani menyampaikan gagasan pemikirannya lewat tulisan.
Akhirnya, mari kita renungkan bersama bahwa jika di tangan kita hari ini ada pena, di hadapan kita ada kertas, dan di zaman kita sekarang ada kebebasan dalam menulis. Maka sudah seharusnya kita mensyukuri nikmat tersebut. Dengan mulai menulis sebanyak-banyaknya. Dengan harapan tulisan itu bisa memberikan motivasi, inspirasi, harapan, dan manfaat besar bagi peradaban manusia.







Leave a Comment