Ketika Hijrah jadi Hashtag dan Gaya Hidup Digital

Salma Mustafidah

05/11/2025

4
Min Read
Hijrah

On This Post

Harakatuna.com – Fenomena hijrah di kalangan anak muda sekarang memperlihatkan perubahan besar dalam cara manusia memaknai kesalehan. Jika dahulu hijrah dimengerti sebagai perjalanan spiritual menuju kedekatan dengan Tuhan, kini maknanya meluas hingga menjadi bagian dari gaya hidup di media sosial.

Unggahan bertema hijrah, kutipan motivasi religius, hingga video dakwah singkat seakan menjadi “ritual baru” bagi generasi digital. Setiap unggahan bukan hanya ekspresi iman, tetapi juga simbol transformasi diri di hadapan publik. Di sinilah pandangan Victor Turner tentang ritual dan liminalitas membantu kita memahami bagaimana hijrah digital bekerja sebagai proses sosial yang penuh makna.

Victor Turner memandang ritual sebagai proses peralihan identitas, di mana seseorang meninggalkan status lama dan memasuki fase baru yang belum sepenuhnya terbentuk (Rahmawati, 2022). Fase ini disebut liminalitas yakni masa ambang, ketika seseorang tidak lagi sepenuhnya menjadi “yang lama”, tetapi juga belum sepenuhnya menjadi “yang baru”.

Jika diterapkan pada fenomena hijrah digital, fase liminalitas terlihat pada masa seseorang mulai meninggalkan gaya hidup lamanya, namun masih beradaptasi dengan lingkungan religius yang baru. Proses ini sering kali tampak di media sosial lewat narasi “before-after hijrah”, unggahan reflektif, atau testimoni perubahan hidup. Semua itu bukan sekadar dokumentasi pribadi, tetapi ritual simbolik yang memperkuat rasa transisi dan pencarian makna diri.

Pada teori Turner, di dalam ritual selalu muncul communitas atau rasa kebersamaan dan solidaritas yang lahir dari proses transisi tersebut (Nugroho, 2022). Dalam konteks hijrah digital, communitas itu hadir dalam ruang virtual seperti grup kajian daring, komunitas dakwah, hingga influencer hijrah yang saling memberi dukungan moral. Mereka menciptakan ruang sosial baru yang menggabungkan religiusitas dan teknologi.

Komunitas ini sering kali menjadi tempat berbagi pengalaman, belajar agama, sekaligus mencari pengakuan sosial. Dengan kata lain, media sosial berfungsi layaknya ruang sakral baru, tempat nilai keagamaan dan identitas sosial bertemu. Turner menyebut fenomena semacam ini sebagai “ritual sosial kontemporer”, di mana batas antara yang sakral dan yang profan menjadi cair (Rohman, 2021).

Namun, ritual tidak selalu berakhir dengan transformasi yang sempurna. Dalam banyak kasus, hijrah digital juga memperlihatkan dua sisi dari proses liminalitas. Ketika kesalehan menjadi konsumsi publik, muncul dorongan untuk mempertahankan citra religius daripada mendalami makna spiritualnya.

Turner mengingatkan bahwa setelah fase liminal, seseorang seharusnya sampai pada tahap reintegration atau kembali ke masyarakat dengan identitas baru yang lebih matang. Tetapi dalam realitas hijrah digital, sebagian orang justru terjebak di fase liminal yang berkepanjangan seperti sibuk mempertahankan simbol, tetapi belum sungguh mengalami kedalaman makna (Fauzan, 2023). Inilah yang membuat gerakan hijrah di dunia maya sering tampak semarak di permukaan, namun rapuh dalam praktik.

Di tengah situasi itu, muncul kebutuhan akan cara pandang baru terhadap hijrah yang bukan sekadar simbol kesalehan, tetapi juga proses reflektif yang membuka ruang dialog. Pandangan neo-modernisme menawarkan semangat tersebut. Gerakan ini menekankan bahwa menjadi religius tidak harus eksklusif atau berlawanan antara “lama dan baru”, “benar dan salah”.

Dalam kerangka Turner, neo-modernisme bisa dibaca sebagai tahap reintegration yang menyeimbangkan antara spiritualitas dan realitas sosial. Hijrah tidak lagi dimaknai sebagai perpindahan dari dunia biasa ke sakral, tetapi sebagai upaya menyatukan keduanya secara sadar. Di ruang digital, semangat ini tampak pada komunitas yang tidak hanya menonjolkan tampilan luar, tetapi juga membangun dialog lintas perbedaan serta menumbuhkan kepedulian sosial (Hidayat, 2020).

Neo-modernisme juga mengingatkan bahwa kesalehan tidak harus ditampilkan, tetapi dihayati. Ketika ruang digital menjadi panggung keagamaan, maka kejujuran dan keseimbangan menjadi nilai utama agar agama tidak kehilangan makna terdalamnya. Dalam konteks ini, teori Turner membantu kita melihat bahwa ritual hijrah seharusnya berujung pada transformasi nilai, bukan sekadar perubahan citra.

Proses spiritual mestinya membawa manusia menuju tahap kemanusiaan yang lebih luhur, sebuah fase komunitas sejati yang menumbuhkan empati, keadilan, dan solidaritas di tengah perbedaan.

Fenomena hijrah digital pada akhirnya menunjukkan bahwa agama selalu menemukan bentuknya sesuai dengan ruang dan zaman. Media sosial memang menghadirkan tantangan baru, tetapi juga membuka peluang bagi lahirnya ritual sosial yang lebih kreatif dan reflektif.

Yang penting bukan seberapa sering seseorang berbicara tentang hijrah, tetapi seberapa dalam perubahan itu menumbuhkan kesadaran dan kemanusiaan. Mungkin inilah tantangan kita hari ini: menjaga makna hijrah agar tetap tulus di tengah derasnya arus digital.

Daftar Rujukan

Fauzan, M. (2023). Media Sosial dan Transformasi Identitas Religius Anak Muda. Yogyakarta: UII Press.

Hidayat, R. (2020). Kapitalisme Religius dan Budaya Konsumsi Muslim. Bandung: Mizan.

Nugroho, D. (2022). Komunitas Hijrah dan Ritual Digital di Indonesia. Jakarta: LP3ES.

Rahmawati, S. (2022). Ritual Digital dan Solidaritas Komunitas Hijrah. Malang: UIN Maliki Press.

Rohman, A. (2021). Dakwah di Era Media Sosial: Fenomena Hijrah Milenial. Malang: UIN Malang Press.

Leave a Comment

Related Post