Ketika Tubuh Perempuan Jadi Medan Ideologi: Antara Hijab dan Hak Milik Diri

Dewi Muthiah Wijayanti

29/10/2025

5
Min Read
Perempuan

On This Post

Harakatuna.com – Tubuh perempuan selalu menjadi medan ideologi dari berbagai pandangan dan kepentingan yang saling berebut makna. Selama berabad-abad tubuh perempuan tidak pernah berdiri sebagai ruang pribadi yang bebas. Ia terus diperlakukan sebagai simbol moralitas kelompok.

Pada masa tradisi patriarki tubuh perempuan dikendalikan oleh keputusan sosial yang ditopang kuasa laki-laki. Lalu feminisme menantangnya dengan klaim bahwa tubuh perempuan hanya boleh ditentukan oleh dirinya sendiri. Setelah itu kapitalisme masuk dan mengambil momentum tersebut untuk mengkomersialisasikan tubuh perempuan.

Di sinilah narasi bergeser, dari tubuh sebagai ruang pembebasan menuju tubuh sebagai pasar. Standar kecantikan tidak lagi sekadar konstruksi sosial, tetapi komoditas yang diproduksi, dijual, dan dieksploitasi. Hal itu kian mudah apalagi jika sudah bergerak ke layar telepon genggam.

Filsuf feminis seperti Sandra Bartky menjelaskan bahwa tubuh perempuan dalam budaya modern menjalani bentuk disiplin yang halus yaitu pengawasan diri berbasis tatapan publik. Medsos menjadikan tubuh perempuan sebagai konten yang senantiasa diukur dengan angka.

Mau tak mau, standar semakin cantik semakin disukai menjadi realita. Tidak jarang, tubuh yang lebih terbuka mendapatkan perhatian yang lebih besar di ruang digital, sehingga muncul insentif untuk terus menampilkan versi tubuh yang paling disukai pasar visual.

Perempuan akhirnya merasa dihargai ketika tampil sesuai standar visual yang sedang tren. Bukan sesuai nilai yang ia yakini. Hal ini tanpa sadar menjadi bentuk baru dari kontrol terhadap tubuh perempuan. Kontrol yang tidak lagi tampak keras tetapi bekerja melalui komentar komentar dan algoritma.

Dalam Islam, tubuh bukan sekadar milik pribadi, melainkan amanah dari Tuhan. Kesadaran itu seharusnya menjadi dasar ketika bicara tentang hijab dan otonomi diri. Sebab hari ini, konsep “hak milik tubuh sendiri” yang sering dibungkus jargon modern “my body, my choice” telah menjelma jadi ideologi baru. Ia menegaskan kebebasan total atastubuh, tapi lupa bahwa kebebasan tanpa arah hanya melahirkan kekosongan, bahkan berpotensi menjerumuskan.

Konsep berhijab sendiri telah tertulis dalam Al-Qur’an Surah An-Nur ayat 31 yang artinya: Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…”

Dalam QS. Al-Ahzab: 59, hijab juga disebut bukan sekadar instruksi pakaian, melainkan sebagai identitas yang melindungi perempuan. Artinya, tubuh perempuan tidak seharusnya menjadi objek kebingungan sosial atau eksploitasi visual.

Namun, dunia modern menciptakan logika lain dimana tubuh pun kini dijadikan alat ekspresi diri, simbol identitas, bahkan pasar. Hijab yang semestinya perwujudan kesadaran ibadah, kini sudah beralih eksistensi dalam estetika digital. Ia dikurasi agar indah di kamera, dipadukan dengan busana “modest fashion” yang berputar di antara kesalehan simbolik dan selera publik. Kesopanan dikalkulasi dari like dan engagement, bukan dari niat dan penghayatan.

Hal inilah yang kemudian membentuk ideologi baru yaitu kesalehan yang dikomodifikasi. Fenomena hijabers influencer dan pasar fashion muslim yang masif membuktikan bahwa spiritualitas kini juga ikut direpresentasikan dalam bentuk gaya hidup. Di satu sisi, ini menunjukkan kebangkitan ekspresi identitas Islam di ruang publik. Tapi disisi lain, hijab yang dahulu menjadi wujud penyerahan diri, kini menjadi alat pembentukan citra diri.

Krisis itu semakin parah ketika publik figur berhijab terseret kasus moral yang memalukan. Seketika, bukan hanya individu yang dipersalahkan, tapi juga simbolnya. Masyarakat lalu menyimpulkan “Berhijab pun belum tentu baik.” Kalimat sederhana itu akhirnya berkembang menjadi pembenaran populer, “Mending tidak berhijab tapi berhati baik.”

Sekilas terdengar bijak, padahal kalimat itu menyimpan logika yang retak. Ia memisahkan kebaikan dari ketaatan, seolah-olah cukup menjadi manusia sosial yang baik tanpa harus tunduk kepada perintah Tuhan. Narasi seperti ini lahir karena publik sering kecewa melihat mereka yang tampil religius namun tersandung moral. Kekecewaan itu wajar. Namun, menjadikannya alasan untuk meniadakan perintah syariat adalah lompatan logika yang berbahaya.

Dalam Islam, akhlak dan syariat adalah dua sisi dari satu kesadaran. Kebaikan sejati lahir ketika moral sosial berjalan seiring dengan ketaatan spiritual. Keduanya bukan pilihan yang saling menggantikan karena keduanya saling menyempurnakan.

Paradoks ini menyingkap krisis yang lebih dalam dimana masyarakat kehilangan bahasa untuk membicarakan kesalehan secara utuh. “Asal tidak berlebihan,” kata sebagian. Ukuran moral bergeser dari kesadaran spiritual menjadi etika visual. Aurat pun diganti istilah yang lebih netral seperti “fashion sense.” dan pada akhirnya, nilai spiritual tersisihkan oleh logika estetika.

Dalam situasi seperti itu, hijab kehilangan makna ideologisnya sebagai bentuk penolakan terhadap objektifikasi tubuh. Padahal perempuan muslim bukan pion pasif. Banyak yang memilih hijab sebagai kesadaran taat. Saba Mahmood menyebutnya sebagai pious agency, yakni keberdayaan yang lahir dari ketaatan, bukan dari pembebasan impulsif.

Maka, persoalannya bukan pada hijab, tetapi ketika kesadaran itu digantikan oleh tuntutan estetika publik. Padahal dalam Islam, kesalehan tidak dilihat dari bentuk luar, tapi dari kesadaran bahwa tubuh adalah amanah.

Jika filsafat liberal menyebutnya tubuh sebagai self-ownership atau properti pribadi. Maka Islam menawarkan perspektif yang lebih luhur dimana tubuh adalah amanah. Allah berfirman bahwa manusia dimuliakan dengan beban tanggung jawab (QS. Al-Isra’: 70). Maka, perempuan yang menutup aurat bukan berarti kehilangan hak atas tubuhnya, melainkan justru kepemilikan yang disertai tanggung jawab kepada Sang Pemilik kehidupan.

Beberapa pemikir Muslim kontemporer seperti Tariq Ramadan menjelaskan bahwa identitas Muslim dibangun oleh hubungan antara kebebasan dan penghambaan. Perempuan tidak sedang memilih antara hijab atau kebebasan. Ia sedang memilih untuk menyelaraskan kebebasan dengan ketaatan.

Tubuh perempuan akan selalu menjadi pusat tarik menarik ideologi. Namun Islam memberi jalan agar tubuh tidak sepenuhnya ditentukan oleh manusia lainnya, dan hijab adalah bentuk membebaskan diri dari standar dunia yang terus berubah. Ketika perempuan berhijab karena Allah, hijab tidak akan terpengaruh oleh citra siapa pun yang memakainya. Hijab tidak kehilangan makna hanya karena ada yang belum mampu menujunya dengan akhlak sempurna.

Pertanyaan sejatinya bukan sekadar “memakai atau melepas hijab.” Pertanyaannya jauh lebih eksistensial; siapa yang diizinkan untuk mendefinisikan tubuh perempuan? Tren pasar yang berubah setiap musim? Atau Tuhan yang abadi dalam mengetahui isi hati? Di sana perempuan menemukan otoritas yang paling adil atas dirinya sendiri.

Leave a Comment

Related Post