Harakatuna.com – Sepanjang sejarah peradaban, laki-laki memegang pena, dan suara perempuan jarang terdengar. Islam menegaskan bahwa pengetahuan adalah hak semua orang, tanpa memandang jenis kelamin. Karena itu, membangun literasi yang sensitif gender bukanlah tuntutan yang sempit, melainkan bagian dari misi Islam, yang mendorong peradaban yang seimbang.
Dunia literasi, terutama di bidang akademik dan ilmiah, masih dipenuhi dengan dominasi penulis laki-laki. Dominasi ini tidak hanya berasal dari jumlah, tetapi juga dari masalah perspektif. Pertanyaan penting juga muncul: apakah literasi yang lahir dari pena seorang laki-laki dapat ‘bicara’ kepada seorang perempuan? Atau apakah itu adalah gema dari satu suara yang menenggelamkan pengalaman setengah populasi dunia?
Literasi yang didefinisikan dari sudut pandang maskulin cenderung memprioritaskan logika dan analisis yang kering. Di sisi lain, banyak perempuan lebih terhubung dengan aspek emosional, sosial, dan kemanusiaan. Perbedaan ini bukan sekadar stereotip, tetapi mencerminkan realitas bahwa dunia sosial laki-laki sangat berbeda dari dunia perempuan.
Perbedaan Cara Berpikir
Melalui Men are from Mars, Women are from Venus, John Gray memang mengungkapkan perbedaan cara berpikir perempuan dan lelaki. Pria lebih dapat berpikir secara logis dan analitis, sedangkan yang perempuan lebih bersifat afektif, menghubungkan dengan perasaan, dan lebih bersifat sosial. Meskipun teorinya kerap mendapat kritik, satu hal yang dapat diambil adalah bahwa pengalaman sosial akan memengaruhi cara seseorang paham dan cara menyampaikannya.
Tulisan laki-laki lebih faktual dan berorientasi data, dapat dipastikan akan kurang menyentuh dimensi emosional yang lebih sering dicari perempuan. Perempuan lebih menyukai teks yang mengangkat tema hubungan antarpersona, perasaan, dan nilai sosial yang lebih dekat dengan kenyataan hidup dan pengalaman mereka. Literasi yang tidak menyentuh sisi emosional ini terkadang terasa kurang relevan dan jauh.
Perintah dalam Islam pada umatnya ialah menjadikan membaca sebagai pintu pertama wahyu. Perintah iqra’ yang turun kepada Nabi Muhammad merupakan ajakan untuk membaca realitas, memahami kehidupan, dan menumbuhkan kesadaran. Perintah tersebut bersifat universal untuk laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, tanpa sekat dan diskriminasi. Allah berfirman:
“Katakanlah: Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9).
Ayat ini bukan sekadar pertanyaan retoris, tetapi pernyataan tegas bahwa kedudukan orang berilmu jauh lebih tinggi di sisi Allah. Ketika ayat ini dibaca dari perspektif perempuan, ia menjadi pengingat bahwa kita pun memiliki hak yang sama untuk mencapai derajat kemuliaan itu melalui ilmu. Tidak ada ayat yang membatasi pencarian ilmu hanya bagi laki-laki; batas itu hanyalah konstruksi sosial, bukan perintah agama.
Rasulullah menegaskan, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim (laki-laki maupun perempuan),” (HR. Ibn Majah). Kata “setiap Muslim” di sini adalah jaminan kesetaraan. Menolak atau membatasi akses perempuan terhadap ilmu sama saja menentang sabda Nabi.
Histori Keteladanan Perempuan
Sejarah mencatat banyak perempuan yang menjadi mercusuar ilmu bagi masyarakat. Aisyah binti Abu Bakar adalah salah satunya, yang bukan sekadar istri Nabi, melainkan seorang ulama besar yang meriwayatkan lebih dari 2.000 hadis. Para sahabat dan tabiin datang kepadanya untuk bertanya tentang hukum, tafsir, bahkan masalah politik. Bayangkan, seorang perempuan di abad ke-7 mampu menjadi rujukan hukum bagi laki-laki dan pemimpin umat. Ini adalah bukti bahwa ilmu dan otoritas keilmuan tidak mengenal batas gender.
Fatimah al-Fihri, perempuan Muslim dari Fez, Maroko, yang lahir pada abad ke-9 mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin. Ia membangun institusi pendidikan yang hingga kini diakui UNESCO sebagai universitas tertua di dunia yang masih beroperasi. Lebih dari seribu tahun yang lalu, Fatimah sudah memahami bahwa ilmu harus diwariskan lintas generasi—dan ia memastikan perempuan menjadi bagian dari pewarisan itu.
Melihat teladan tersebut, jelas bahwa literasi bagi perempuan bukan hanya hak, tetapi juga amanah. Islam telah memberi kita izin, bahkan perintah, untuk menjadi pencari dan penyebar ilmu. Penghalang kita hari ini bukan ajaran agama, tetapi tembok sosial yang dibangun oleh bias dan patriarki.
Meskipun literasi yang dihasilkan oleh laki-laki bersifat analitis dan berbasis data, tidak berarti perempuan tidak bisa menemukan nilai dalam tulisan tersebut. Literasi akan lebih relevan bagi perempuan, membutuhkan pendekatan yang lebih inklusif. Literasi yang menyoroti pengalaman perempuan, ketidakadilan sosial, dan perjuangan hak perempuan mudah diterima karena perempuan dapat merasakan keterhubungannya dengan topik-topik tersebut.
Namun, jika literasi tetap berfokus pada perspektif laki-laki yang dominan dalam menganalisis masalah-masalah sosial dan politik, maka perempuan mungkin merasa tidak terwakili dalam tulisan-tulisan tersebut.
Perempuan dan Literasi
Literasi yang menyentuh dimensi emosional dan sosial perempuan lebih mudah diterima dan mengundang empati. Hal itu bisa dicapai dengan menulis tentang pengalaman perempuan, baik dalam kehidupan sehari-hari, dalam konteks ketidaksetaraan gender, maupun dalam perjuangan mereka untuk mendapatkan hak-hak mereka. Literasi yang berbicara langsung tentang isu-isu ini akan lebih dekat dengan perempuan karena mereka merasa bahwa pengalaman mereka dihargai dan diwakili.
Di sisi lain, literasi yang mengabaikan pengalaman sosial dan emosional perempuan bisa membuat mereka merasa terasing. Karena itu, penulis yang ingin membuat literasi lebih relevan bagi perempuan harus memperhatikan cara mereka menyampaikan informasi, dengan mempertimbangkan dimensi perasaan dan pengalaman sosial yang menjadi bagian penting dalam kehidupan perempuan.
Literasi sensitif gender adalah literasi yang berbicara kepada semua dan dari semua. Islam telah memberi kerangka normatifnya, sejarah telah membuktikannya, dan kini tugas kita adalah menghidupkannya kembali.
Setiap teks adalah pilihan, yaitu membangun jembatan atau menambah jarak. Literasi yang adil memilih membangun jembatan antara laki-laki dan perempuan, antara logika dan rasa, dan antara ilmu dengan kemanusiaan.







Leave a Comment