KSP Sebut Setahun Pemerintahan Prabowo-Gibran Fokus ke Perut, Gizi dan Pangan Rakyat

Ahmad Fairozi, M.Hum.

23/10/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta – Satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka dinilai membawa perubahan arah kebijakan pembangunan yang lebih nyata dan langsung dirasakan masyarakat. Demikian disampaikan oleh Kantor Staf Kepresidenan (KSP) melalui Kepala KSP, Muhammad Qodari.

“Pemerintah sekarang fokus ke kebutuhan dasar. Semuanya diarahkan untuk memperkuat rakyat bawah,” ujar Qodari dalam acara Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) “Potret Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran”, yang digelar pada Rabu (22/10/2025) di Jakarta.

Qodari menjelaskan, terdapat tiga poros kebijakan utama yang menjadi fokus pemerintahan: pertama, bidang kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG); kedua, bidang pendidikan dan gizi melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG); dan ketiga, ketahanan pangan melalui program Ketahanan Pangan Nasional.

Mengenai program CKG, Qodari menyatakan bahwa langkah ini adalah “fundamental” karena memberikan kesempatan bagi setiap warga untuk mengetahui kondisi kesehatannya sendiri. “Wah, belum pernah ada presiden yang melakukan ini. Semua orang bisa tahu kondisi kesehatannya dan itu penting untuk kualitas hidup,” katanya.

Dari pemeriksaan massal tersebut, pemerintah sekarang memiliki peta besar penyakit yang paling dominan di masyarakat, yang kemudian akan menjadi dasar kebijakan publik — misalnya penambahan dokter gigi dan pengendalian konsumsi gula.

Dalam hal pendidikan, Qodari menekankan bahwa pendekatan kini telah bergeser ke arah yang lebih manusiawi: bukan hanya soal kurikulum dan guru, tetapi juga memastikan kondisi anak didik agar pembelajarannya optimal. “Kalau siswa belum sarapan, mau gurunya sepintar apa pun, hasilnya tidak maksimal,” tuturnya.

Program MBG disebut sebagai jawaban konkret untuk memastikan anak-anak sekolah memperoleh gizi cukup agar kecerdasannya berkembang. “Intinya sederhana, pendidikan dimulai dari perut yang kenyang,” tambah Qodari.

Sementara itu, dalam sektor pertanian dan pangan, Qodari mengatakan bahwa produksi beras nasional tahun ini mencapai sekitar 38 juta ton, melebihi kebutuhan nasional yang diperkirakan sebesar 31 juta ton. Ini menurutnya merupakan bukti bahwa ketahanan pangan Indonesia mulai menguat.

Dengan demikian, Qodari menyimpulkan bahwa pemerintahan sekarang telah menunjukkan perubahan paradigma pembangunan — dari yang sebelumnya hanya berorientasi pada angka pertumbuhan ekonomi menjadi pembangunan manusia sebagai pusat perhatian. “Presiden ingin membangun sumber daya manusia,” ujarnya.

Leave a Comment

Related Post