Arkeologi Teror Rapoport: Menyelami Jejak Kekerasan Lintas Abad

João Raphael da Silva

19/10/2025

4
Min Read
Terorisme

On This Post

Judul Buku: Waves of Global Terrorism: From 1879 to the Present, Penulis: David C. Rapoport, Tahun Terbit: 2022, Kota Terbit: New York, Penerbit: Columbia University Press, ISBN: 978-0-231-13303-6.

Harakatuna.com – David C. Rapoport menghadirkan karyanya yang paling dikenal, teori gelombang terorisme, dengan ambisi untuk merekonstruksi dan memperluas peta historis fenomena yang sama-sama politis dan destruktif. Waves of Global Terrorism: From 1879 to the Present bukan sekadar ringkasan kronologis insiden-insiden kekerasan politik.

Buku tersebut merupakan upaya sistematis untuk menempatkan tindakan teror dalam arus gagasan, teknologi, struktur organisasi, dan respons negara yang membentuknya dari akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-21. Rapoport menolak pembacaan yang sempit dan ahistoris: terorisme bukanlah produk tunggal budaya atau agama tertentu, melainkan fenomena yang berulang dengan pola—atau “gelombang”—yang beresonansi segenap generasi.

Buku ini tersusun secara kombinasi kronologis dan tematik. Rapoport memulai dari periode pra-1879, menunjukkan bahwa akar kekerasan politis dan religius jauh melampaui batasan yang sering diasosiasikan dengan istilah modern “terorisme”. Ia kemudian membedah empat gelombang besar yang selama ini menghiasi literaturnya: Anarkis (kira-kira 1879–1920an), Antikolonial (1919–1960an), New Left (1960an–1990an), dan Religius (1979–2020an?).

Pada masing-masing gelombang Rapoport menelusuri tidak hanya peristiwa-peristiwa sentral, tetapi juga perubahan dalam taktik, sasaran, jaringan transnasional, dan pembenaran ideologis yang disuguhkan aktor-aktor kekerasan kepada publik dan pendukungnya.

Konseptualisasi ini, sederhana dalam wujudnya tetapi kompleks dalam implikasinya, tetap menjadi kekuatan utama buku: ia mengajarkan pembaca untuk membaca terorisme sebagai siklus sosial-politik, bukan sekadar ledakan kekerasan yang terisolasi.

Salah satu kontribusi penting Rapoport pada edisi ini adalah pembacaan ulang terhadap kelahiran dan konsolidasi “Religious Wave”, yang ia kaitkan dengan rangkaian peristiwa krusial tahun 1979—Revolusi Iran, invasi Soviet ke Afghanistan, dan Perjanjian Damai Mesir–Israel—yang bersama-sama memicu transformasi besar dalam politik keagamaan global.

Rapoport juga menghubungkan gelombang ini dengan peristiwa-peristiwa belakangan, termasuk Arab Spring 2011, sebagai katalis yang memperluas medan perekrutan dan operasi kelompok-kelompok tertentu. Pendekatan historis semacam ini memberi bobot empiris yang kuat pada klaim teori gelombang: ia bukan sekadar metafora, melainkan alat analitis yang mampu menjelaskan kontinuitas dan disjunktur dalam perilaku kekerasan politik.

Namun demikian, buku ini tidak bebas dari kekurangan. Secara naratif dan redaksional terdapat kecenderungan pengulangan yang pada beberapa bagian mengurangi ketajaman argumen. Contoh-contoh tertentu—seperti penjelasan mengenai pertukaran tahanan antara Israel dan Hamas yang muncul berulang kali—memberi rasa deja-vu yang menyiratkan perlunya penyuntingan yang lebih ketat.

Kekaburan kronologis juga muncul ketika Rapoport mencoba menjustifikasi kapan tepatnya Religius Wave “benar-benar” dimulai; penjelasan yang satu kali mengacu pada akhir 1970an kemudian tampak direvisi atau dipertegas pada bagian lain, sehingga pembaca yang mencari titik awal yang tegas mungkin merasa kurang puas.

Masalah ini bukan lemah konseptual yang fatal, tetapi menurunkan efisiensi argumen: bila tujuannya adalah memberi peta temporal yang preskriptif, inkonsistensi semacam itu membutuhkan klarifikasi.

Secara substansial, Rapoport menunjukkan kehati-hatian akademik ketika menolak sekadar memosisikan Islam sebagai sumber tunggal terorisme. Ia mengingatkan pembaca bahwa agama lain—Yudaisme dan Kekristenan—juga memiliki sejarah kekerasan politik, dan bahwa sekularisme sendiri tidak kebal dari aksi-aksi teror. Kritik ini penting: ia menantang narasi Barat yang sering memonopoli label teroris kepada kelompok Muslim, sambil memberikan konotasi positif kepada kekerasan yang berpakaian lain.

Namun kritik tersebut juga menuntut bukti empiris yang konsisten, dan di sini Rapoport menghadapi tantangan: menempatkan berbagai bentuk kekerasan dalam satu skema komparatif selalu berisiko mereduksi perbedaan konteks yang bermakna—misalnya perbedaan antara pemberontakan antikolonial yang terlokalisasi dan jihad transnasional yang memanfaatkan jaringan global.

Bab khusus yang membahas kemungkinan munculnya “Gelombang Kelima”—yaitu terorisme sayap kanan ekstrem—menunjukkan bahwa Rapoport tidak mengklaim finalitas teori lamanya. Serangan-serangan seperti Oslo (2011), Christchurch (2019), dan El Paso (2019) ia baca sebagai potensi indikasi perubahan pola.

Pembahasan ini merupakan bagian terbaik dari buku dalam hal relevansi kontemporer: ia memaksa pembaca dan pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan pluralitas sumber ancaman, termasuk domestik, dan tidak semata-mata terfokus pada ancaman transnasional yang selama ini mendominasi diskursus keamanan internasional.

Secara metodologis, buku ini memperlihatkan kekuatan tradisi kajian sejarah politik yang teliti: arsip, kronik peristiwa, dan sintesis literatur mengalir bersama untuk membentuk narasi. Di sisi lain, pembaca yang mengharapkan model teoritis yang lebih matematis atau kuantitatif mungkin akan kecewa—ini bukan kritik pada mutu akademiknya, melainkan pada ekspektasi metodologis. Rapoport memilih kedalaman historis ketimbang generalisasi statistik; pilihan ini memberinya otoritas naratif, namun membatasi kemampuan untuk membuat prediksi terukur.

Keseluruhan, Waves of Global Terrorism menegaskan posisi Rapoport sebagai salah satu pemikir sentral dalam studi terorisme. Buku ini wajib dibaca oleh ilmuwan politik, sejarawan, pembuat kebijakan keamanan, dan siapa pun yang ingin memahami terorisme bukan sebagai fenomena singular tetapi sebagai proses historis yang berulang dan berubah bentuk.

Kritik terhadap penyuntingan dan beberapa inkonsistensi kronologis tidak menghapus nilai intelektual buku ini; melainkan menggarisbawahi bahwa proyek memahami terorisme adalah usaha panjang yang terus memerlukan revisi, presisi, dan keberanian untuk memperbarui kategori konseptual ketika dunia berubah. Rapoport memberikan alat berpikir yang tajam—dan tantangan bagi pembaca untuk menggunakannya dengan lebih reflektif dan konteksual.

Leave a Comment

Related Post