Narasi Boikot Trans7 dan Kegagalan Membaca Ruh Pesantren

Zulkifli Wagola

17/10/2025

4
Min Read
Trans7

On This Post

Harakatuna.com – Hari-hari ini, jagat maya dihebohkan dengan seruan boikot terhadap Trans7 setelah salah satu programnya, XPOSE, menayangkan episode berjudul provokatif: “Santrinya Minum Susu Aja Kudu Jongkok, Emang Gini Kehidupan di Pondok?” Tayangan itu dianggap menyinggung dunia pesantren, khususnya Pondok Lirboyo di Kediri, dan menampilkan kehidupan santri dengan sudut pandang sempit.

Reaksi keras datang dari para santri dan alumni berbagai pesantren di seluruh Indonesia. Mereka menilai televisi arus utama masih gagal memahami pesantren sebagai lembaga yang menanamkan nilai-nilai disiplin, adab, dan spiritualitas—bukan tempat penindasan sebagaimana insinuasi dalam tayangan tersebut.

Fenomena ini jelas memperlihatkan jurang pemahaman antara masyarakat pesantren dan masyarakat urban yang memandang dunia santri dari luar pagar. Dalam pandangan sebagian publik, penghormatan seorang santri kepada kiainya kerap dianggap bentuk feodalisme.

Kedisiplinan di pesantren dinilai sebagai bentuk kekangan kebebasan, dan praktik pengabdian setelah lulus sering dipahami sebagai relasi subordinatif. Padahal, di balik simbol-simbol itu terdapat nilai yang jauh lebih dalam—yakni adab dan tabarukan, dua fondasi spiritual yang telah diwariskan ulama klasik sejak berabad-abad lalu.

Dalam khazanah Islam, adab adalah ruh dari ilmu. Thawus al-Yamani, seorang tabiin, menegaskan bahwa termasuk sunnah untuk memuliakan empat golongan: orang berilmu, orang tua, penguasa, dan orang tua kandung. Spirit bila dilihat dengan hati yang lapang jelas menegaskan bahwa ilmu tidak bisa dilepaskan dari sikap hormat kepada sumbernya.

Ibn Abbas—sahabat Nabi—pernah menuntun tunggangan gurunya, Zayd ibn Tsabit, sambil berkata: “Beginilah kami diperintahkan berbuat kepada ulama dan orang besar di antara kami.” Ia menunggu berjam-jam hanya untuk mendengar satu hadis. Sikap tersebut jelas bukan feodalisme, tetapi kesadaran spiritual bahwa ilmu tidak semata hasil berpikir, melainkan cahaya yang Allah titipkan kepada hati yang tunduk.

Tradisi tabarukan di pesantren Jawa lahir dari semangat yang sama. Mencium tangan kiai, memohon doa, bahkan mengikuti gerak-geriknya bukanlah kultus, tetapi simbol keterhubungan batin antara murid dan guru. Dalam keyakinan santri, keberkahan ilmu tidak hanya berasal dari teks kitab, tetapi dari ketulusan orang yang mengajarkannya.

Karena itu, kehidupan di pesantren diatur dengan disiplin tinggi: adab mendahului ilmu, dan kerendahan hati menjadi syarat utama pemahaman. Maka, ketika ada pihak luar menggambarkan kehidupan santri dengan narasi “taat membabi buta”, sesungguhnya mereka gagal membaca makna spiritual di balik disiplin tersebut.

Modernitas sering menilai dunia pesantren dengan ukuran rasional dan kebebasan individu, sementara pesantren menilai ilmu dari dimensi adab dan keberkahan. Di sinilah benturan cara pandang itu muncul. Media massa, yang terbiasa mengejar sensasi dan rating, mudah tergelincir menafsirkan praktik pesantren dengan kacamata profan.

Padahal, kehidupan santri adalah dunia yang membentuk manusia seutuhnya—mendidik akal sekaligus merendahkan ego. Santri yang diminta jongkok saat makan, misalnya, bukan sedang direndahkan, tetapi sedang diajarkan kesederhanaan dan pengendalian diri.

Kesalahan tafsir publik terhadap pesantren tidak lepas dari kecenderungan zaman yang menilai segala sesuatu dari permukaannya. Padahal, pesantren telah berabad-abad menjadi benteng moral bangsa. Dari pesantren lahir ulama, pendidik, dan tokoh masyarakat yang berakar kuat pada nilai kesantunan dan keikhlasan.

Tradisi tabarukan dan penghormatan terhadap kiai menjadi jembatan spiritual yang menjaga kesinambungan ilmu dari generasi ke generasi. Apa yang bagi orang luar tampak kolot, bagi santri justru menjadi jalan pembentukan karakter.

Gerakan boikot terhadap Trans7 jelas menunjukkan bahwa santri kini tidak lagi diam menghadapi stereotip lama. Mereka bukan menolak kritik, tetapi menolak disalahpahami. Dunia pesantren terbuka untuk evaluasi, tetapi tidak untuk direndahkan. Reaksi ini bukan semata emosi kolektif, melainkan bentuk kesadaran kultural bahwa pesantren memiliki martabat dan nilai yang layak dihormati.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, peristiwa ini memperlihatkan pentingnya literasi budaya keagamaan di ruang publik—bahwa memahami pesantren tidak cukup dengan kamera dan narasi media, melainkan dengan penghargaan terhadap makna batin yang melingkupinya.

Kita hidup di zaman ketika pengetahuan cepat menyebar, tetapi pemahaman makin dangkal. Tayangan televisi yang menyinggung pesantren adalah gejala dari krisis makna itu. Modernitas memuja kebebasan berpikir, tetapi sering lupa bahwa kebebasan tanpa adab hanya melahirkan kesombongan intelektual.

Pesantren dengan segala tradisinya justru menghadirkan keseimbangan antara akal dan jiwa. Ia mengajarkan bahwa ilmu tidak boleh dipisahkan dari penghormatan kepada guru, karena dari adab lahir keberkahan, dan dari keberkahan lahir kebijaksanaan.

Kritik publik terhadap tayangan Trans7 seharusnya dibaca bukan sebagai penolakan terhadap media, tetapi sebagai seruan agar ruang publik belajar menghargai tradisi keilmuan Islam. Pesantren bukan institusi tertutup, tetapi rumah spiritual yang memiliki tata nilai tersendiri.

Dunia luar perlu belajar mendengar sebelum menilai. Karena sesungguhnya, di balik santri yang jongkok saat menghadap atau berjalan di depan Kyai, justru tersimpan pelajaran luhur tentang kerendahan hati dan penghormatan terhadap ilmu—dua hal yang barangkali justru paling hilang dari masyarakat modern kita hari ini.

Wallahu a’lam bi ash-shawab

Leave a Comment

Related Post