Harakatuna.com – Banyak warganet luar negeri penasaran dengan aksi demonstrasi yang merata hampir di seluruh penjuru tanah air. Berhari-hari, warga tak henti melakukan demonstrasi, dan kericuhan seperti gedung terbakar, rusaknya failitas umum, serta penjarahan tak bisa dihindarkan. Riuh antara massa aksi dan polisi, juga panasnya perdebatan di sosial media semakin mempertontonkan besarnya amukan rakyat.
Mereka mengerti bahwa rakyat Indonesia marah karena masifnya korupsi yang dilakukan kaum elit. Mereka tahu bahwa ada beberapa anggota DPR mengejak rakyat dan berjoget-joget nirempati. Dan melaui video yang viral, mereka ikut menyaksikan tragedi Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang mati dilindas rantis polisi. Tetapi demikian, mereka masih terkejut dan tidak habis pikir bagaimana warga Indonesia yang selama ini dikenal ramah, murah senyum dan dermawan, ternyata sangat mengerikan ketika marah dan mengamuk.
Hal-hal besar yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, memiliki satu benang merah yakni DNA gotong-royong, yang mungkin tidak bisa dipahami warga luar. DNA yang menjadi modal sosial masyarakat Indonesia untuk bisa resiliensi terhadap berbagai situasi dan kondisi.
Rakyat marah karena ketika penyelenggara negara menekan mode hemat dengan kebijakan efisiensi, kaum elit enggan bersolidaritas dan bergotong-royong melakukan hal yang sama. Alih-alih mempertontonkan kekayaan dan kemewahan dengan pongah dan jumawa sehingga rakyat merasa tidak dibersamai, dikhianati.
Ketika tragedi Affan Kurniawan terjadi, solidaritas rakyat dengan mudahnya terbentuk karena kita memiliki perasaan yang sama-sama terkoyak. Perasaan serupa sebagaimana kita ikut berduka melihat rakyat Palestina dibantai dengan membabi-buta. Perasaan murni sebagai manusia dan sebagai sebuah bangsa.
Pendengung Sebagai Tantangan Gerakan Kolektif
Di medsos, warganet Indonesia sangat berisik saling debat bahkan memperdebatkan sesuatu yang tidak substansial seperti meributkan simbol warna gerakan. Keriuhan di medsos tidak saja terjadi saat ini, namun sudah berulang kali terjadi khususnya di masa-masa perhelatan politik. Tetapi, pada dasarnya kita bukanlah bangsa yang suka ribut, alih-alih selalu mengedepankan keselarasan. Keributan, distorsi opini dan masyarakat yang terpolarisasi, terjadi secara anorganik yang artinya ada pihak lain yang sengaja menciptakan kondisi demi kepentingan segelintir pihak.
Kondisi riuh di tengah masyarakat diciptakan menggunakan alat propaganda yang kita kenal sebagai pendengung atau buzzer. Kehadirannya sangat efektif sebagai alat propaganda politik, terlebih di zaman AI seperti saat ini, sementara tingkat literasi media dan politik masyarakat masih rendah.
Keberadaan pendengung yang sangat massif dalam menyebarkan propagandanya, menjadi tantangan berat bagi gerakan kolektif masyarakat. Contohnya seperti saat ini, ketika sebagian dari kita telah bersusah-payah memperjuangkan tuntutan 17+8, masyarakat dengan mudahnya terpecah bahkan banyak pihak yang menyerang personal para pemengaruh (influencer).
Sebelumnya narasi-narasi rapuh banyak beredar di ruang digital, dari mulai pembakaran dan kerusakan fasilitas umum, penjarahan yang menyalahkan para demonstran, anak abah, meributkan warna merah jambu, dan bahkan narasi makar terhadap presiden. Semua narasi tersebut disebarluaskan oleh pendengung guna memecah-belah masyarakat dan menciptakan konflik horizontal sebagai sesama warga sipil.
Tetapi saya percaya kita akan kembali pada khittahnya sebagai bangsa yang mengedepankan keselarasan dan harmoni sebab leluhur telah mewariskan tradisi kolektivisme dengan DNA gotong-royong yang kuat.
Memetik Karma Baik Kedermawanan
Salah satu hal yang cukup membuat hati kita menghangat di masa Agustus-September kelabu kemarin adalah munculnya solidaritas dari berbagai negara di kawasan Asia. Negara-negara seperti Malaysia, Singapora, Thailand, Filipina meminjamkan pundaknya dengan ramai-ramai memberikan donasi makanan melalui platform Grab. Gerakan ini banyak disebut sebagai gerakan SEAbling yang menggambarkan negara-negara yang sering beradu argumen dan ribut tetapi menjadi yang paling pertama memberikan pundaknya ketika ada yang terluka, seperti hubungan bersaudara yang adakala ribut tapi saling sayang.
Simpati dan empati terus berdatangan tidak saja datang dari negara tetangga namun juga dari negara-negara lain baik di kawasan Asia, Amerika maupun Eropa. Banyaknya dukungan dari negara lain tidak sekadar karena parahnya kondisi Indonesia, namun juga karena selama ini warga Indonesia menunjukkan diri sebagai bangsa yang paling dermawan. Berdasarkan laporan World Giving Index (WGI) 2024 oleh Charities Aid Foundation (CAF), Indonesia dinobatkan sebagai negara paling dermawan sedunia dan gelar ini telah didapatkan berturut-turut selama 7 tahun sejak 2017.
Gelar sebagai negara paling dermawan, meskipun menurun ke angka 21 pada tahun 2025, tidak mengubur fakta bahwa Indonesia merupakan bangsa yang dermawan. Dan karakter ini adalah cerminan dari spirit kolektivisme dan budaya gotong-royong masyarakat. Saya rasa karena hal ini pula, warga dunia berbondong-bondong memberikan simpatinya baik dalam bentuk dukungan moral maupun material. Sebuah karma baik yang sedang dipetik.
Gotong-Royong dan Wajah Kolektif Sebuah Bangsa
Dari masa ke masa, bangsa Indonesia telah mampu melewati banyak hal. Masih hangat di ingatan bagaimana mencekamnya kondisi pandemi Covid-19 beberapa tahun yang lalu dimana kondisi perekonomian kita morat-marit, akses dibatasi dan berita buruk datang setiap menitnya. Namun dibandingkan dengan negara lain, kondisi ekonomi Indonesia di masa pandemi masih terbilang lebih moderat.
Terlepas dari kebijakan penyelenggara negara, masyarakat di akar rumput saling bahu-membahu sesama warga. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya inisiator lintas komunitas mengumpulkan donasi untuk saling membantu. Gotong-royong saling bantu warga tidak hanya dalam bentuk material namun juga saling menjaga kredibiltas informasi, medis dan lain sebagainya.
Selain di momen kritis seperti Covid-19 dan Agustus-September kelabu, wajah kolektivisme masyarakat Indonesia juga bisa dilihat di momentum olahraga seperti pertandingan sepak bola. Pada tahun 2023, supporter Indonesia mendapatkan penghargaan sebagai ‘Suporter Paling Aktif di Piala Asia 2023’ dari Fan Engagement Program LOC AFC kepada Ultras Garuda yang ada di Qatar.
Supporter Indonesia juga disebut media Belanda Voetbalprimeur.nl sebagai supporter paling gila. Sebutan tersebut tersemat pasca pertandingan Timnas Indonesia vs Bahrain dalam lanjutan babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Istilah gila di sini merujuk pada kekompakan supporter dalam mendukung Timnas seperti memunculkan koreografi Garuda raksasa ataupun spanduk dukungan, dan menyanyikan lagu kebangsaan secara serempak.
Dari beberapa contoh kondisi Indonesia, dalam kondisi pandemi yang mencekam, Agustus-September kelabu, ataupun di momen bahagia menonton Tim Nasional berlaga, Indonesia menunjukkan wajah kolektifnya. Bangsa yang mengedepankan nilai-nilai gotong-royong dalam kehidupan sehari-hari dan inilah modal sosial yang tidak semua bangsa memilikinya.








Leave a Comment