Harakatuna.com – Ada satu pertanyaan yang tak pernah kehilangan relevansi: apakah pendidikan Islam hari ini mampu melahirkan generasi yang terbuka, toleran, dan ramah perbedaan, atau justru tergelincir menjadi ruang sempit yang menumbuhkan ekstremisme?
Pertanyaan ini muncul bukan tanpa sebab. Di tengah derasnya arus informasi digital, kita sering menjumpai anak muda yang tiba-tiba fasih mengutip ayat, tetapi cara membacanya terasa kaku dan serba hitam-putih. Mereka seolah memandang dunia hanya terdiri atas dua warna: benar dan salah, muslim dan kafir, surga dan neraka.
Sebagian dari gejala itu berakar pada cara pendidikan agama diajarkan. Tidak jarang, ruang kelas agama berjalan dalam pola satu arah. Guru berbicara, murid mencatat. Kitab dipandang final, tafsir dianggap selesai.
Sementara itu, pertanyaan kritis sering dipandang tanda kurang iman, bahkan ancaman terhadap keyakinan. Cara seperti ini, meski dimaksudkan untuk menjaga kemurnian ajaran, kerap menjadikan agama sekadar dogma beku. Padahal, iman yang tidak dibarengi pemahaman kritis sering kali rapuh, mudah direbut oleh narasi ekstrem yang mengklaim diri paling benar.
Sejarah Islam justru menunjukkan hal sebaliknya. Peradaban Islam tumbuh besar karena keberanian membuka ruang dialog. Pada masa keemasan Baghdad, para ulama tidak segan berdiskusi dengan pemikir Yunani, ilmuwan Persia, maupun tradisi India. Dari percakapan lintas budaya itu lahir ilmu kalam, fiqh, filsafat, hingga tasawuf.
Semua berkembang dalam keyakinan bahwa kebenaran bisa diperkaya melalui perdebatan sehat. Al-Qur’an sendiri memuat semangat dialog itu. Surah An-Nahl ayat 125 mengingatkan: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
Bahkan Rasulullah memberi teladan nyata. Beliau tidak menutup pintu bagi pertanyaan, dan sering memberi jawaban yang berbeda sesuai situasi penanya. Ini tanda bahwa konteks dan dialog adalah ruh pendidikan Islam.
Bahaya pendidikan dogmatis terlihat jelas ketika iman berhenti pada ritual tanpa makna sosial. Murid mungkin rajin ibadah, tetapi gagal menangkap pesan kasih sayang di baliknya. Mereka bisa fasih membaca teks, tetapi tak pernah benar-benar belajar menimbang makna. Pada titik inilah narasi radikal mudah masuk, memanfaatkan ruang kosong pemahaman untuk menanamkan doktrin intoleran.
Sebaliknya, pendidikan berbasis dialog menawarkan ruang belajar yang lebih hidup. Murid tidak hanya mendengar, tetapi juga diajak bertanya, berdiskusi, dan menimbang dalil. Mereka belajar bahwa perbedaan tafsir para imam mazhab bukanlah alasan perpecahan, melainkan kekayaan tradisi Islam.
Guru dalam posisi ini bukan lagi “sumber tunggal kebenaran”, tetapi fasilitator yang mengarahkan percakapan. Paulo Freire, seorang pemikir pendidikan dari Brasil, menyebut pendekatan ini sebagai pendidikan yang membebaskan—berbeda dengan model “bank” yang hanya mengisi murid dengan pengetahuan tanpa mengajak mereka berpikir.
Bayangkan jika pola ini menjadi kultur pendidikan Islam di Indonesia. Murid bukan hanya tumbuh menjadi muslim yang saleh secara ritual, tetapi juga warga negara yang sadar hidup di tengah keberagaman. Mereka akan memahami bahwa menjaga harmoni sosial adalah bagian dari jihad zaman sekarang.
KH. Hasyim Asy’ari pernah menegaskan dalam resolusi jihadnya, hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah bagian dari iman. Pendidikan berbasis dialog membuat ungkapan ini terasa nyata: mencintai tanah air berarti menolak intoleransi, menjaga kerukunan, dan menghormati sesama.
Dialog juga memperkuat iman itu sendiri. Keyakinan yang lahir dari percakapan, dari pergulatan nalar dan hati, jauh lebih kokoh daripada sekadar hafalan. Iman seperti ini tidak mudah goyah hanya karena potongan video di media sosial atau ajakan sesaat dari kelompok radikal.
Al-Ghazali pernah mengingatkan dalam Ihya’ ‘Ulumiddin bahwa ilmu tanpa pemahaman hanyalah beban, sementara pemahaman tanpa dialog bisa berubah menjadi kesombongan. Kata-kata ini terasa begitu relevan ketika kita menyaksikan bagaimana ekstremisme berusaha mencuri wajah ramah agama.
Contoh kecil bisa kita lihat pada anak-anak muda yang aktif di kampus. Ketika mereka terbiasa berdiskusi, membaca berbagai referensi, dan membandingkan tafsir, mereka cenderung lebih tahan terhadap narasi radikal.
Sebaliknya, mereka yang hanya hidup dalam lingkaran eksklusif, mendengar ceramah satu arah tanpa ruang bertanya, lebih mudah percaya pada klaim absolut. Dari sini kita bisa melihat bahwa dialog bukan sekadar metode, melainkan vaksin yang melindungi iman dari virus ekstremisme.
Melawan ekstremisme memang sering ditempuh lewat pendekatan keamanan. Namun pendekatan ini hanya menyentuh permukaan. Yang lebih mendasar adalah membongkar akar epistemologisnya: cara kita memahami dan mengajarkan agama. Selama pendidikan Islam berani bergerak dari dogma yang beku menuju dialog yang hangat, kita memiliki harapan untuk melahirkan generasi muslim yang berilmu, beriman, sekaligus beradab.
Dengan begitu, pendidikan Islam tidak hanya menjadi ruang transmisi pengetahuan, melainkan juga arena tumbuhnya manusia yang matang secara spiritual dan intelektual. Manusia yang sadar bahwa perbedaan adalah rahmat, bahwa dialog adalah jalan menemukan hikmah, dan bahwa iman sejati tidak anti kritik, melainkan justru tumbuh semakin kuat di tengah percakapan yang terbuka. Wallahu a’lam.








Leave a Comment