Israel Gempur Fasilitas Publik Gaza, Warga Hadapi Krisis Air dan Layanan Kesehatan Lumpuh

Ahmad Fairozi, M.Hum.

20/09/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Gaza – Serangan darat pasukan pendudukan Israel di Kota Gaza semakin menyasar fasilitas publik yang menjadi penopang kehidupan warga. Media Quds Press melaporkan pada Jumat (19/9), penargetan ini dimaksudkan untuk merusak fondasi kehidupan sehari-hari dan memaksa penduduk meninggalkan kota.

“Target fasilitas publik bertujuan merusak fondasi kehidupan untuk memaksa penduduk meninggalkan Gaza,” tulis Quds Press dalam laporannya.

Sejak hampir sebulan lalu, melalui operasi militer yang disebut Operasi Gideon 2, pesawat tempur Israel menghancurkan sebagian besar sumber air di Gaza, termasuk sumur, stasiun pompa, hingga pabrik desalinasi. Akibatnya, warga kini menghadapi krisis air minum dan kebutuhan rumah tangga yang semakin parah.

Kondisi kian sulit lantaran Gaza dikepung dari empat arah – barat laut, utara, timur, dan selatan – membuat kru teknis tidak bisa memperbaiki sumur maupun jaringan air yang rusak. Laporan lapangan menyebutkan, banyak warga terpaksa berjalan jauh untuk mencari galon air di tengah ancaman tembakan artileri yang terus berlanjut.

Tak hanya air, fasilitas kesehatan juga menjadi sasaran. Dalam serangan terbaru, pesawat nirawak Israel mengebom Rumah Sakit Abdul Aziz al-Rantisi dan menghancurkan sistem energi surya yang menopang operasionalnya. Beberapa rumah sakit lain, seperti Al-Awda, Kamal Adwan, dan Rumah Sakit Arab Nasional (Baptist), dilaporkan tidak lagi berfungsi setelah berulang kali dihantam serangan darat.

Sementara itu, dua rumah sakit besar, Al-Shifa dan Al-Quds, masih beroperasi sebagian meski menampung puluhan ribu warga yang mengungsi di sekitarnya. Namun, ancaman penutupan total semakin nyata seiring pergerakan tank-tank Israel yang mendekat.

Di sisi lain, Gaza juga menghadapi isolasi komunikasi hampir total. Selama dua hari terakhir, jaringan telekomunikasi dan internet terputus setelah menara pemancar serta gedung yang menampung perangkat penguat sinyal hancur akibat serangan. Selain itu, kabel bawah tanah utama ikut diputus, ditambah pembatasan ketat akses bahan bakar yang memperburuk kelumpuhan komunikasi.

Leave a Comment

Related Post