Serangan Jihadis di Niger Barat Tewaskan 20 Tentara

Ahmad Fairozi, M.Hum.

13/09/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Niamey – Sedikitnya 20 tentara Niger dilaporkan tewas dalam serangkaian serangan yang diduga dilakukan kelompok jihad terafiliasi Al Qaeda dan Islamic State (ISIS) di wilayah Tillabéri, barat Niger, pada Rabu (10/9/2025).

Dilansir AFP, serangan itu terjadi di perbatasan dengan Burkina Faso dan Mali, daerah yang selama ini dikenal sebagai basis aktivitas kelompok jihadis.

“Banyak tentara yang tewas dalam dua insiden terpisah kemarin di wilayah Tillabéri,” ungkap seorang mantan pejabat lokal kepada AFP, Kamis (11/9).

Mantan pejabat tersebut menyebutkan, “20 tentara tewas oleh teroris.” Namun, sumber lain menambahkan bahwa jumlah korban sebenarnya lebih tinggi, termasuk anggota Garda Nasional.

Jaringan jurnalis keamanan Sahel, Wamaps, melaporkan serangan tersebut dikaitkan dengan cabang ISIS. “Mereka melancarkan beberapa serangan, termasuk terhadap posisi tentara Niger di dekat bandara Tillabéri, yang menyebabkan tewasnya 12 tentara Angkatan Bersenjata Niger,” kata Wamaps dalam laporannya.

Selain itu, Wamaps menambahkan dua serangan lain terjadi di wilayah Tillabéri tengah, tepatnya di lingkungan Digga Banda, dekat sebuah sekolah. “Sedikitnya dua warga sipil tewas dalam insiden tersebut. Saat menanggapi serangan, 15 anggota Garda Nasional juga gugur,” jelas Wamaps.

Serangan ini memicu kecaman luas, termasuk dari G25, koalisi masyarakat sipil yang dekat dengan mantan presiden Niger yang digulingkan dalam kudeta 2023. “Kami mengutuk keras serangan teroris di Tillabéri dan menegaskan bahwa cabang regional ISIS berada di balik aksi keji ini,” tulis pernyataan G25. Koalisi itu juga menyebut korban mencapai 12 tentara dan 15 anggota Garda Nasional.

Di sisi lain, lembaga internasional Human Rights Watch (HRW) menyoroti minimnya perlindungan terhadap warga sipil di kawasan rawan konflik tersebut. “Otoritas Niger harus mengambil langkah lebih tegas untuk melindungi masyarakat di Tillabéri, yang terus menjadi target serangan mematikan ISIS sejak Maret,” ujar HRW.

Wilayah Tillabéri sendiri telah lama menjadi salah satu episentrum konflik bersenjata di Sahel, di mana kelompok jihadis memanfaatkan lemahnya kontrol pemerintah untuk memperluas pengaruh dan melancarkan serangan.

Leave a Comment

Related Post