Gubernur DKI: Ulama Penjaga Stabilitas Sosial Jakarta di Tengah Transformasi Kota Global

Ahmad Fairozi, M.Hum.

13/09/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa peran ulama sangat sentral dalam menjaga stabilitas sosial ibu kota, terutama di tengah proses transformasi Jakarta menuju kota global.

Hal itu ia sampaikan saat meresmikan kantor baru Forum Silaturahmi Ulama Indonesia (FSUI) di kawasan Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (12/9/2025). Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Gubernur sebagai simbol penggunaan gedung baru yang dibangun melalui program hibah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

Dalam sambutannya, Pramono mengapresiasi kontribusi para kiai dan tokoh agama yang tergabung dalam FSUI dalam menjaga keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat ibu kota.

“Para ulama di forum ini adalah penjaga kesejukan Jakarta. Mereka telah menunjukkan bahwa agama bisa menjadi perekat, bukan pemecah,” ujar Pramono.

Ia menekankan bahwa pembangunan Jakarta tidak hanya berkutat pada infrastruktur, tetapi juga pada penguatan karakter dan nilai. Menurutnya, ulama memiliki peran strategis dalam menjaga moralitas publik sekaligus menyuarakan moderasi beragama di tengah tantangan zaman.

“Transformasi Jakarta harus dibarengi dengan ketahanan sosial. Dan ketahanan itu salah satunya bertumpu pada peran ulama sebagai penjaga nilai dan etika,” tuturnya.

Lebih lanjut, Pramono berharap kantor baru FSUI menjadi ruang terbuka untuk dialog lintas umat sekaligus pusat gerakan dakwah yang menyejukkan. Ia menyebut forum tersebut sebagai wujud nyata kemitraan antara pemerintah (umara) dan ulama.

“Kami percaya, kedekatan umara dan ulama adalah pondasi dari kota yang tenteram dan beradab,” kata Pramono.

Pramono menambahkan, Pemprov DKI berkomitmen memperkuat lembaga-lembaga keagamaan melalui dukungan sarana, prasarana, serta program pemberdayaan sosial. Menjelang peringatan 500 tahun Jakarta pada 2027, ia menegaskan bahwa modernisasi kota harus tetap berakar pada nilai dan budaya.

“Modernisasi tidak boleh menggerus nilai. Justru nilai dan budaya adalah kompas yang mengarahkan kita agar tidak kehilangan arah dalam membangun kota,” tandasnya.

Leave a Comment

Related Post