Harakatuna.com – Laku menulis adalah laku masuk ke dalam diri. Mengenal diri lebih dalam, menyelami lebih dalam siapa diri kita dan apa yang sebenarnya kita butuhkan, inginkan, dan mimpikan dalam hidup. Laku menulis menjadi semacam membaca ke dalam. Membaca diri dengan seksama, secara perlahan dan hati-hati. Orang yang menulis ia mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang, terutama dalam karyanya.
Terkadang ketika seorang penulis sedang menulis, maka tulisan itu keluar tanpa kendali, dan ketika tulisan itu selesai ia merasa lega, lalu tiba-tiba saja semua keberatan hati dan separuh kesukaran hidupnya seperti sudah ditumpahkan ke dalam tulisannya.
Ya, menulis memang bisa menjadi hal yang seistimewa itu, karena ia bisa menjadi media terapi bagi orang-orang yang tertekan, menulis bisa menjadi media pelarian, tapi sekaligus juga kembali ke dalam diri, menulis dengan jujur sama dengan menulis untuk menemukan diri sendiri.
Selain itu, jika kita teliti lebih dalam, laku menulis tidak hanya menggerakkan sensor motorik tangan, atau otot tangan kita saja, tapi juga otot otak yang kita pekerjakan dengan baik, kita dayagunakan dengan optimal. Maka menulis menjadi semacam latihan motorik tangan dan otak, dengan begitu kita telah melakukan dua latihan sekaligus dalam akitivas menulis, pertama cara kerja tangan, dan kedua bagaimana mempekerjakan pikiran. Dan ada satu hal yang tak boleh terlewat, bahwa menulis tidak hanya soal pikiran, tidak hanya soal akal, tapi juga hati.
Nah tulisan yang berasal dari tangan dan pikiran dan disatukan oleh hati inilah yang kemudian menjadi tulisan yang bernas dan begitu mendalam dan membekas bagi pembacanya, karena ada pepatah mengatakan bahwa apa yang keluar dari hati maka akan sampai kepada hati. Inilah luar biasanya tulisan. Seorang penulis bisa menghasilkan tulisan yang begitu jernih.
Lalu bagaimana cara kita kemudian untuk menumbuhkan kejernihan itu? Pada dasarnya kejernihan terlahir dari sikap dan jujur terhadap diri sendiri, terhadap apa yang akan ditulis. Ketika sesuatu tulisan itu ditulis dengan cara yang lebay, berlebihan, dan dibuat-buat, maka kejernihan dan kebernasan tulisan perlahan akan pudar dan menghilang. Begitulah ketika tulisan tidak ditulis dengan jujur dan fokus.
Lalu bagaimana kita bisa menilai tulisan itu bernas atau tidak, tulisan itu bagus atau tidak? Pertama adalah jam terbang, kedua adalah sensibilitas dan yang terakhir adalah sensitivitas. Ketiga faktor inilah yang akan menentukan seseorang itu bisa menilai layak tidaknya, bagus tidaknya, bermutu tidaknya sebuah tulisan.
Jadi ini lagi-lagi kembali ke soal jam terbang, pengalaman, rasa, dan intelektualitas yang tentu saja masing-masing orang atau pembaca memilikinya dan tentu saja bersifat relatif, sekali lagi relatif. Tergantung siapa yang sedang membaca tulisan itu. Jadi latar belakang, umur, selera, pendidikan, lingkungan, dan bacaan itu menjadi amat sangat menentukan bagaimana seseorang bisa memandang, melihat, dan menilai sebuah tulisan.
Dan pada titik ini, kita sebagai seorang penulis sudah seyogyanya bisa memberikan tulisan-tulisan atau karya-karya yang jujur, yang menyuarakan keresahan pribadi, sekaligus keresahan sosial, keresahan yang dirasakan oleh masyarakat kita. Dan kita mesti menuliskannya dengan fokus, disiplin, dan jujur. Karena seperti yang pepatah katakan tadi, bahwa apa yang ditulis dari hati akan sampai ke hati. Dan tulisan-tulisan macam inilah yang kemudian jarang kita temukan hari-hari ini.
Bahwa menulis dengan otak itu memang penting, tapi menulis dengan hati ternyata tak kalah penting. Karena sebuah tulisan akan memiliki rasa, ketika tulisan itu benar-benar bisa menyelami perasaan dan pengalaman hidup seorang manusia. Ia tidak hanya membagikan pengalaman intelektual seseorang, tapi juga tentang pengalaman perasaan seseorang.
Tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa mendalami dan menguraikan dengan baik bagaimana kompleksitas pikiran dan perasaan manusia. Dan hal itu hanya bisa dilakukan ketika yang ditulis adalah tulisan yang benar-benar ditulis dengan jujur, dalam, kompleks, dan bisa mengorek luka, trauma, dan kegelapan manusia.
Menulis dengan jujur tidaklah mudah, karena ia benar-benar akan membuat kita jadi menelanjangi diri sendiri, dan itu artinya kita harus bisa melihat diri kita apa adanya, sebagai seorang manusia yang memiliki kekurangan dan kelebihan, sebagai manusia yang apa adanya, tidak melebih-lebihkan, bahkan kita benar-benar bisa jujur untuk mengatakan hal yang kita tidak sukai, hal yang membuat kita tidak nyaman.
Dan begitulah memang ketika kita bisa menulis dengan jujur, kita bisa mafhum terhadap kekurangan-kekurangan yang ada di dalam diri kita sendiri. Dan jika kita sudah bisa melakukan itu, artinya kita sudah bisa jujur kepada diri sendiri, kita sudah bisa berdamai dengan diri sendiri, dan memang menulis dengan jujur butuh latihan dan jam terbang yang tinggi.







Leave a Comment