Harkatuna.com. Samarinda – Moderasi beragama menjadi salah satu topik penting dalam pembangunan karakter bangsa, khususnya menjelang Indonesia Emas 2045. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan akses informasi yang begitu terbuka, peran generasi muda, khususnya generasi Z dan generasi Alfa dalam menjaga nilai-nilai toleransi menjadi sangat vital. Mereka bukan hanya sekadar penerus, tetapi juga aktor utama dalam membentuk wajah keberagamaan Indonesia di masa depan.
“Generasi muda saat ini harus dibekali dengan pemahaman yang tidak fanatik dan tidak ekstrem dalam menjalankan agamanya,” ujar Machnun Uzni, saat menjadi narasumber dalam podcast bersama Pro4 RRI Samarinda beberapa waktu lalu.
Founder Sahabat Misykat Indonesia itu menilai, sikap fanatik yang berlebihan maupun tindakan ekstrem dalam beragama dapat mengancam kerukunan dan keutuhan sosial. Ia menegaskan, bahwa moderasi bukan berarti melemahkan identitas keagamaan, tetapi justru menguatkan dengan cara memahami dan menghargai perbedaan.
Menurutnya, literasi digital dan keagamaan harus menjadi fokus utama dalam mendampingi anak muda. “Hari ini, literasi bukan sekadar membaca dan mendengar. Kita harus bisa menuliskan dan menyampaikan informasi yang faktual serta bijak memilah mana yang layak dibagikan,” ucap Uzni.
Ia menambahkan, media sosial bisa menjadi sarana strategis untuk menyebarkan nilai-nilai moderasi asalkan digunakan dengan bijak.Dalam konteks keberagaman di Indonesia, generasi muda juga diharapkan menjadi pelaku aktif, bukan hanya objek. Mereka harus mampu menjadi agen perubahan dalam menyuarakan perdamaian dan toleransi.
“Jangan hanya menjadi penonton. Anak muda harus menjadi pelaku sesungguhnya dalam membumikan nilai-nilai moderasi beragama,” katanya.
Keberagaman yang dimiliki bangsa ini bukan hambatan, melainkan kekuatan besar jika dirawat dengan semangat kebersamaan dan keindonesiaan.








Leave a Comment