Harakatuna.com. Jakarta — Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus, tokoh pemuda, dan perwakilan masyarakat sipil berkumpul di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta, Sabtu (6/9), dalam kegiatan bertajuk Diskusi Publik dan Doa Lintas Iman. Acara ini digelar oleh Aliansi Mahasiswa Indonesia sebagai respons atas peristiwa kerusuhan nasional yang terjadi pada Agustus lalu.
Mengusung tema “Kerusuhan Agustus 2025 Berkedok Demonstrasi: Siapa yang Diuntungkan, Siapa yang Dirugikan?”, kegiatan ini terbagi dalam dua sesi utama: diskusi terbuka mengenai dampak sosial-politik kerusuhan, serta doa lintas iman untuk keselamatan dan persatuan bangsa.
Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana kegiatan, Emon, menegaskan bahwa forum ini bertujuan sebagai upaya mahasiswa untuk menjadi garda terdepan dalam merawat perdamaian nasional pasca kerusuhan.
“Kerusuhan Agustus 2025 meninggalkan luka sosial yang mendalam. Melalui forum ini, mahasiswa ingin menyerukan bahwa kekerasan bukanlah solusi. Perdamaian adalah jalan terbaik untuk menjaga keutuhan bangsa,” ujarnya di hadapan peserta.
Ia juga menambahkan pentingnya solidaritas lintas iman dan keberanian untuk menolak segala bentuk provokasi yang dapat memecah belah masyarakat.
Menolak Provokasi, Menjaga Demokrasi
Diskusi publik menghadirkan dua pembicara utama: Charles Gilbert, Koordinator Pusat BEM Kristiani Seluruh Indonesia, dan Achmad Baha’ur Rifqi, Presidium Nasional BEM PTNU. Dalam paparannya berjudul “Kebebasan Berpendapat dalam Bingkai Kebangsaan dan Toleransi”, Charles menekankan bahwa kebebasan berekspresi harus tetap berada dalam koridor damai dan menghargai keberagaman.
“Kebebasan berpendapat adalah hak setiap warga negara, namun harus disalurkan dengan cara yang damai dan bertanggung jawab. Mahasiswa Kristiani menegaskan pentingnya toleransi, menghormati perbedaan, dan menolak aksi provokatif yang merusak demokrasi,” tegas Charles.
Sementara itu, Achmad Baha’ur Rifqi membahas topik “Aspirasi Mahasiswa dan Tantangan Penunggang Gelap”, mengulas bagaimana gerakan mahasiswa rentan disusupi oleh kepentingan lain yang bisa menyulut kekacauan.
“Kerusuhan Agustus lalu menunjukkan adanya pihak-pihak yang menunggangi aspirasi rakyat. Mahasiswa PTNU melihat ini sebagai tantangan serius. Kita harus menjaga agar gerakan tetap murni, fokus pada kepentingan rakyat, dan menegakkan demokrasi tanpa kekerasan,” jelas Baha.
Doa Lintas Iman dan Deklarasi Perdamaian
Setelah sesi diskusi, acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh pemuka agama dari berbagai keyakinan, termasuk ustadz dan pendeta. Doa lintas iman ini menjadi simbol harapan akan Indonesia yang damai, adil, dan bersatu.
Puncak kegiatan ditandai dengan pembacaan Deklarasi Perdamaian Gedung Joang 45, yang berisi komitmen mahasiswa untuk:
- Menolak segala bentuk kekerasan dalam menyampaikan aspirasi,
- Menjaga persatuan dan keutuhan bangsa,
- Belajar dari tragedi kerusuhan Agustus 2025,
- Serta mendukung upaya pemerintah dalam menindak tegas para pelaku kerusuhan.
Mahasiswa Sebagai Agen Perdamaian
Kegiatan ini menjadi refleksi atas peran mahasiswa sebagai agen perubahan dan penjaga moral bangsa. Di tengah situasi politik yang memanas, mahasiswa menyerukan pentingnya dialog konstruktif, memperkuat toleransi antarumat beragama, serta mempertahankan nilai-nilai demokrasi yang damai.
“Kita tidak boleh membiarkan kekerasan menjadi alat untuk menyampaikan ketidakpuasan. Mahasiswa harus menjadi pelopor kedamaian, bukan korban provokasi,” tutup Emon.







Leave a Comment