Harakatuna.com – Menulis adalah perjalanan yang sunyi. Tidak ada penonton yang bersorak, tidak ada kembang api yang meledak di langit, bahkan tidak ada pelukan hangat ketika satu kalimat berhasil lahir. Kita hanya sendirian, duduk di depan selembar kertas kosong atau layar putih dokumen komputer dengan tatapan tajam.
Pada momen itu, pena menjelma pedang, dan kata-kata berubah menjadi anak panah yang harus ditembakkan ke tengah kegelapan. Di sanalah seorang penulis sadar, menulis bukan sekadar kegiatan merangkai kalimat, melainkan seni berperang melawan dirinya sendiri.
Setiap kali seseorang duduk di depan kertas kosong, ia sedang memasuki medan perang. Ruang yang tampak hening itu sejatinya penuh dengan suara-suara yang mengatakan agar berhenti menulis dan mengikuti perasaan saja. Suara kecil yang berbisik itu mengatakan bahwa apapun yang ditulis tidak akan pernah cukup baik. Seperti itulah pertarungan ketika menulis. Pertarungannya itu sunyi, namun nyatanya ada dalam pikiran dan perasaan kita.
Dalam proses menulis. Musuh pertama yang sering datang dalam diri kita adalah rasa malas. Entah bagaimana, tangan begitu berat untuk mulai mengetik, mata begitu mudah tergoda oleh hal-hal kecil di luar jendela, bahkan secangkir kopi pun bisa jadi alasan menunda satu kalimat. Dalam momen itu, seorang penulis menyadari bahwa dirinya sedang berhadapan dengan musuh yang licik, yaitu rasa malas.
Rasa malas selalu punya seribu dalih sebagai strategi perang agar kita bisa kalah dalam perang. Rasa malas akan mengatakan: “Nanti saja,” “Hari ini terlalu penat,” atau “Besok pasti lebih baik.” Kalau kita tidak mampu menghancurkan strategi perang rasa malas itu, maka hal itu dapat membuat kita berhenti dalam menulis.
Agar bisa mengatasi rasa malas itu, kita perlu menyadari bahwa seni menulis justru ada pada keberanian menaklukkan rasa malas itu. Seorang penulis belajar bahwa satu-satunya cara mengalahkan musuh ini adalah dengan disiplin. Menulislah di waktu luang meski sangat sulit mendapatkan inspirasi, menulislah meski hanya menghasilkan satu paragraf pendek.
Dengan disiplin kita sedang berusaha melawan rasa malas. Selain itu, kita juga harus menyadari bahwa perang tidak bisa dimenangkan dengan sekali serang, melainkan sebelum perang kita butuh melalui proses latihan berkali-kali bahkan hingga bertahun-tahun lamanya.
Setelah melewati rasa malas, musuh kedua yang ada dalam diri kita ketika menulis adalah rasa takut. Takut tulisannya salah, takut tulisan dibaca oleh orang lain kemudian ditertawakan, takut tulisan kita dianggap tidak berbobot secara isinya. Banyak tulisan gugur sebelum lahir hanya karena penulisnya kalah dalam peperangan batin ini. Layar kosong menjadi saksi bisu dari begitu banyak pikiran yang tidak pernah sempat disuarakan.
Padahal, keberanian menulis tidak pernah lahir dari ketiadaan rasa takut, melainkan dari kesediaan melangkah meski takut. Menulis adalah seni menerima ketidaksempurnaan, seni merangkai kata sambil sadar bahwa mungkin saja akan ada orang-orang yang mencibir tulisan kita.
Musuh ketiga yang ada dalam diri kita ketika menulis adalah ego. Dalam menulis seringkali seseorang ingin terlihat pintar, ingin memikat pembaca dengan kalimat-kalimat megah, ingin meninggalkan kesan mendalam. Ego ini, meskipun tampak memberi energi, bisa juga menjadi sebuah jebakan. Alih-alih menulis agar pembaca bisa merasakan manfaat dari tulisan kita, justru kita sebagai penulis terperangkap dalam pencitraan.
Penulis hanya fokus membuat kalimat dan kata-kata yang sangat puitis biar dianggap keren, tetapi secara isi tulisannya tidak mengandung pesan atau makna yang ingin disampaikan kepada pembaca. Efek dari mengikuti ego ini, tulisan kita memang terlihat memikat, tapi isinya hanya retorika kosong.
Musuh keempat dalam menulis adalah menjaga konsistensi. Menulis bukan sekadar menyalakan semangat sesaat, tetapi sebuah perjalanan panjang. Ada hari-hari dimana kata-kata mengalir sangatlah deras, namun juga ada momen lebih banyak hari dimana setiap kata terasa kering. Banyak orang menyerah di titik ini karena mereka mengira menulis hanyalah tentang menunggu inspirasi. Sehingga orang-orang tidak akan konsisten menulis karena tidak adanya inspirasi.
Padahal, inspirasi tidak datang kepada mereka yang berpangku tangan. Inspirasi mendatangi mereka yang terus menulis, bahkan ketika hati sedang hambar. Inilah yang membuat menulis serupa dengan seni berperang. Bukan sekali-dua kali pertempuran, melainkan peperangan panjang yang menuntut kesetiaan.
Kita mungkin bertanya, mengapa menulis disebut seni berperang melawan diri sendiri? Karena pada akhirnya, yang dihadapi seorang penulis bukanlah dunia luar, melainkan cermin dirinya sendiri. Setiap kata yang ia tulis adalah pantulan dari isi pikirannya, isi hatinya, bahkan luka-luka yang disembunyikan. Menulis memaksa seseorang berhadapan dengan diri sendiri, menggali pertanyaan-pertanyaan yang mungkin selama ini dihindari.
Tidak semua orang berani melakukan itu. Menulis dalam artian ini adalah perjalanan spiritual. Dia menuntut keberanian untuk menyelami batin terdalam, mengekspresikan hal-hal yang mungkin tidak ingin diakui. Dalam proses itulah, penulis berperang bukan untuk menang atas orang lain, melainkan untuk menang atas dirinya sendiri.
Meski penuh pertarungan, menulis menghadirkan buah manis. Setiap kali seseorang berhasil menaklukkan rasa malas, mengalahkan rasa takut, meredam ego, dan menjaga konsistensi, ia menemukan sebuah kemenangan kecil. Tulisan yang lahir bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan bukti bahwa ia berhasil memenangkan perang batinnya hari itu.
Menulis juga mengajarkan kerendahan hati bahwa tidak semua tulisan akan sempurna, tidak semua gagasan akan diterima, namun setiap usaha meninggalkan jejak. Bahkan, tulisan yang sederhana pun bisa memberi pengaruh besar bagi orang lain. Inilah keajaiban menulis. Dari peperangan batin yang penuh luka, lahir sesuatu yang bisa memberi cahaya bagi orang lain.
Menulis memang bukan pekerjaan mudah. Menulis menuntut lebih dari sekadar keterampilan teknis, tetapi juga keberanian mental. Menulis adalah seni berperang melawan diri sendiri. Melawan rasa malas, rasa takut, ego, dan inkonsistensi. Perang itu tidak pernah benar-benar usai, namun justru di situlah letak keindahannya.
Setiap kali pena digerakkan, setiap kali jari menekan tombol keyboard. Seorang penulis sedang berkata kepada dirinya sendiri: “Aku memilih untuk bertarung hari ini.” Dan setiap tulisan yang lahir, betapapun kecilnya, adalah tanda bahwa ia telah memenangkan pertempuran. Sehingga pada akhirnya, menulis bukan hanya tentang menghasilkan karya, melainkan tentang menjadi manusia yang lebih berani menghadapi hambatan internal yang ada dalam dirinya ketika menulis.







Leave a Comment