Rakyat, Aksi, dan Anarkisme: Waspadai Provokator dan Penumpang Gelap Demonstrasi

Ahmad Khairi

02/09/2025

5
Min Read
demonstrasi

On This Post

Harakatuna.com – Indonesia mencekam. Media nasional bungkam, namun media internasional menyorot total berbagai aksi demo di seantero negeri. New York Times, salah satunya. Di luar konteks penjarahan yang ilegal dan melawan hukum, aksi demo hari-hari ini mempertontonkan aspirasi rakyat yang merata. Namun, anarkisme kemudian bak ampas dari aksi itu sendiri yang diprovokasi pihak-pihak tertentu. Demonstrasi pun menghadapi satu tantangan bernama ‘penumpang gelap’.

Kalau flashback ke empat belas tahun silam, sesuatu yang hampir sama pernah terjadi di Arab. Kisahnya datang dari negeri jauh: Mohamed Bouazizi, penjual buah di Tunisia, yang membakar dirinya setelah dipermalukan aparat, memantik gelombang Arab Spring. Kini, di depan mata rakyat, seorang driver ojol jadi nama baru dalam daftar panjang rakyat kecil yang tumbang ketika negara memilih merepresi ketimbang meresolusi. Sementara, korupsi dan ketidakadilan terus menjadi-jadi.

Di balik tragedi ini, pertanyaan besar mengintip: mengapa rakyat yang datang membawa aspirasi sah justru dibalas kekerasan? Mengapa tuntutan keadilan disambut tameng dan gas, sementara tangan-tangan yang menggarong anggaran tetap bebas mencopet negara? Jawabannya pahit: karena di negeri ini, suara rakyat kerap dianggap ancaman, bukan amanah. Sekitar tujuh orang telah jadi korban sejak demonstrasi berlangsung pada 25 Agustus.

Lebih getir lagi, aksi-aksi rakyat hari ini merupakan pengejawantahan gelombang kemarahan rakyat yang jadi santapan empuk bagi mereka yang berhasrat menungganginya. Politisi datang melayat korban untuk menanam bendera. Provokator menyusup ke barisan demonstran untuk mengubah aksi jadi amuk yang anarkis. Dan rakyat? Lagi-lagi jadi korban: di depan mereka dipukul, di belakang mereka diperalat untuk kepentingan pribadi. Benar-benar berat jadi rakyat Indonesia.

Inilah saatnya bicara jujur: Indonesia sedang di tepi jurang. Pemerintah boleh terus omon-omon usut tuntas korupsi, DPR boleh terus bicara tentang etika dan moral sambil menyembunyikan laporan gratifikasi di laci, tetapi rakyat—yang lapar, yang marah, yang muak—akan terus bermunculan. Affan Kurniawan telah jadi simbol, dan simbol-simbol seperti itulah yang dalam sejarah sering kali mengubah nasib bangsa. Aspirasi yang mewujud aksi bukti bahwa kedaulatan di tangan rakyat.

Aksi Damai dan Aspirasi yang Ditunggangi

Gelombang demonstrasi yang meletup di penghujung Agustus kemarin bermula dari aspirasi yang idealnya sahih: keresahan rakyat terhadap kebijakan yang dianggap timpang, kemarahan yang dipupuk korupsi yang kian telanjang, serta keputusasaan di tengah krisis ekonomi yang tidak juga terobati. Ribuan orang dari berbagai latar belakang: buruh, mahasiswa, driver ojol, bahkan pegawai swasta, menyatu dalam aksi protes rakyat.

Mereka datang dengan poster-poster buatan tangan, suara serak karena orasi, dan niat yang dalam untuk didengar. Awalnya, semuanya berlangsung damai. Yel-yel bergema, spanduk terbentang, dan aparat berbaris menjaga jarak. Namun, seperti sejarah selalu mengajarkan, demonstrasi adalah magnet bagi mereka yang melihat kesempatan di tengah chaos. Malam demi malam, di sela-sela orasi dan unjuk rasa, muncul wajah-wajah yang tak jelas juntrungannya: kelompok yang bukan bagian dari jaringan aksi, figur yang ujug-ujug hadir lalu lenyap saat situasi memanas.

Mantan Kepala BIN, A.M. Hendropriyono, mengendus gejala tersebut ketika ia mengingatkan publik ihwal adanya pihak-pihak yang mencoba menunggangi situasi. Dalam wawancara dengan Rhenald Kasali pada Minggu (31/8), ia bahkan menyebut potensi revolusi dapat membawa korban terbesar di kalangan anak-anak. Peringatannya sekilas terdengar paternalistik, namun memotret kecemasan lama negeri ini: demonstrasi yang lahir dari aspirasi selalu dipelintir alias ditunggangi.

Fenomena ganjil pun merebak di lapangan. Penjarahan, pembakaran, dan sejenisnya, yang ternyata pelakunya tidak berasal dari rombongan demonstran melainkan perusuh asli yang didatangkan dari berbagai daerah oleh orang tak dikenal. Sekalipun sejumlah pengamat melihat gerakan aksi kali ini bukan dikomando satu tangan besi melainkan bersifat rizomatik: cair, tanpa pusat, tanpa dalang tunggal, dan sulit dipetakan, namun iklim “ditunggangi”-nya juga tidak terbantahkan.

Di titik itulah berbagai kekerasan pecah. Di antara ribuan yang ingin pulang dengan selamat, seorang pengemudi ojek daring bernama Affan Kurniawan justru meregang nyawa di bawah roda baja Barracuda. Apakah ia korban dari demonstrasi, atau korban kekacauan yang sengaja dibiarkan tumbuh? Tidak ada jawaban pasti. Semalam, dua kampus di Bandung juga diserang aparat, apakah mereka juga ditunggangi? Untuk menelisik itu, masyarakat harus punya satu bekal: cerdas.

Masyarakat Harus Cerdas

Setiap gelombang protes selalu membawa dua wajah: wajah yang jujur menyuarakan aspirasi, dan wajah yang tersembunyi di balik asapnya. Tragedi yang menimpa Affan atau enam kasus lainnya yang sama-sama merenggut nyawa membuktikan betapa mudahnya aksi rakyat yang lahir dari kekecewaan dibelokkan jadi panggung kepentingan. Suara rakyat dihilangkan, diganti narasi-narasi yang dibentuk oleh pihak yang justru tidak pernah turun ke tengah panasnya aspal.

Apakah masyarakat akan terus menjadi penonton reaktif atau belajar jadi warga yang cerdas, yang mampu membedakan mana gerakan tulus dan mana provokasi murahan. Aksi demonstrasi adalah hak demokratis, tetapi ketika berubah jadi anarki maka yang menderita selalu rakyat biasa. Anak-anak yang tak bisa sekolah, pekerja harian yang harus WFH, dan pedagang kecil yang tak sempat menyelamatkan dagangannya menuai kerugian besar.

Masyarakat harus belajar membaca tanda-tanda penunggang gelap: seruan di medsos yang anonim tapi menghasut atau opini-opini yang sengaja menyalakan kebencian tanpa memberi jalan keluar. Hendropriyono benar ketika ia berkata, revolusi selalu memakan korban yang tak siap. Namun, kesadaran publik juga benar bila menolak hidup dalam ketidakadilan yang terus dipelihara.

Tentu, menjadi cerdas ialah mampu memilah cara menyuarakan keadilan agar tidak dijadikan bahan bakar kekacauan. Masyarakat berhak marah, tetapi juga bertanggung jawab agar kemarahan itu tidak berbalik menghancurkan dirinya. Jangan sampai yang diuntungkan oleh kerusuhan adalah mereka yang bersembunyi di baliknya demi kepentingannya sendiri. Pernah nonton konten YouTube Ferry Irwandi? Kurang lebih seperti itu; berdemolah tapi waspadai provokasi atau bahkan ekstremisme!

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post