Gen Z, Media Sosial, dan Masa Depan Islam Moderat di Indonesia

Galih Setiawan, S.Sos.I

27/08/2025

4
Min Read
Islam Moderat

On This Post

Harakatuna.com – Dulu, di banyak kampung, mushalla menjadi pusat denyut kehidupan remaja dan anak muda. Seusai azan Magrib, jalanan desa ramai oleh langkah-langkah kecil yang bergegas ke sana. Ada yang tekun belajar mengaji, ada yang sekadar duduk bersila sambil menunggu giliran, dan tak sedikit yang bercanda hingga larut malam, mengisi ruang itu dengan tawa. Mushalla kala itu menjadi ruang sosial yang membentuk karakter, mempertemukan hati, dan menanamkan nilai.

Namun, zaman terus bergeser. Ruang-ruang berkumpul itu kini semakin sepi, bukan karena generasi muda kehilangan arah, tetapi karena lanskap interaksi mereka berubah. Ruang kebersamaan kini tidak lagi berupa bangunan dengan lantai tikar dan aroma karpet basah oleh wudhu; ia sering kali berwujud layar ponsel yang tak pernah lepas dari genggaman.

Dari Mushalla ke Layar Digital

Generasi Z—mereka yang lahir antara akhir 1990-an hingga awal 2010-an—tumbuh di tengah percepatan teknologi dan derasnya arus informasi. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam di kafe sambil menjelajahi TikTok, mencari inspirasi di YouTube, atau mengikuti perbincangan panas di Instagram dan X. Jika dulu agama mereka pelajari lewat ustaz di mushalla atau majelis taklim, kini cukup satu menit video di beranda yang bisa mengubah cara pandang.

Karakter Gen Z berbeda dengan generasi sebelumnya: cepat, visual, ringkas, dan mengutamakan kedekatan emosional. TikTok dan YouTube menjadi buku harian mereka yang tak tertulis. Figur yang dianggap panutan pun bergeser: bukan lagi sekadar kiai atau ustaz dengan jubah panjang, tetapi juga influencer yang komunikatif, kreator konten yang jenaka, atau bahkan komedian yang pandai menyelipkan nilai.

Sayangnya, dunia digital bukanlah ruang netral. Ia ibarat pasar malam penuh warna, di mana siapa pun bisa membuka lapak, termasuk kelompok-kelompok yang menyebarkan paham eksklusif, intoleran, bahkan radikal. Mereka lihai meramu pesan dalam bentuk video pendek yang emosional, dikemas dramatis, dan sering kali lebih menggugah daripada kajian panjang berjam-jam. Jika dakwah moderat abai terhadap realitas ini, ruang kosong akan segera terisi oleh narasi yang sempit dan mengeras.

Menjadi Ustaz di Dunia Maya

Di sinilah media sosial menjadi ladang dakwah baru—bukan pengganti mushalla fisik, melainkan perluasan ruang ke mana generasi muda bergerak. Anak muda kini mencari hiburan, pengetahuan, sekaligus ketenangan batin di ruang digital. Dakwah moderat harus bertransformasi, bukan sekadar mempertahankan tradisi, melainkan menjemput zaman. Bagaimana caranya?

  1. Gunakan bahasa yang akrab. Gen Z alergi pada bahasa kaku dan formal berlebihan. Mereka lebih menerima analogi sehari-hari, kalimat ringan, bahkan humor spontan. Menjelaskan arti sabar misalnya, akan lebih mengena jika dikaitkan dengan pengalaman menunggu pesan WhatsApp yang tak kunjung dibalas, atau menanti jodoh yang tak datang-datang.
  2. Manfaatkan kekuatan visual. Video singkat, animasi ringan, infografis, meme islami, hingga reels penuh energi jauh lebih melekat dibanding ceramah dua jam tanpa interaksi.
  3. Bangun narasi positif. Jangan hanya sibuk membantah radikalisme. Tawarkan kisah-kisah Islam yang ramah, optimis, penuh kasih: bagaimana Rasulullah menghadapi penolakan Quraisy, bagaimana para sahabat merespons cemoohan dengan keteguhan hati, atau bagaimana dakwah penuh cinta mampu menembus dinding kebencian.
  4. Hadirlah untuk berdialog. Gen Z senang jika bisa memberi komentar, bertanya, atau sekadar curhat. Dakwah digital bukan sekadar soal unggah konten, tetapi juga hadir, mendengar, dan merespons dengan empati.

Benih Dakwah Kreatif Sudah Ada

Di YouTube dan TikTok, kita mulai melihat tanda-tanda perubahan. Ada Habib Ja’far yang diterima luas oleh kalangan muda dan selebriti, dengan gaya yang ringan, jenaka, dan penuh makna. Ada Ustaz Dennis Lim yang aktif mengedukasi anak muda untuk menjauhi judi online.

Ada pula ustaz-ustaz muda lain yang tampil dengan hoodie dan bahasa santai, tetapi mengajarkan Islam secara mendalam. Di berbagai kampus, kelompok kreatif mulai membuat podcast keislaman, mengangkat tema toleransi, dan menyajikan sesi Q&A singkat ala Gen Z yang mudah dibagikan ulang.

Fenomena ini membuktikan satu hal: dakwah moderat bukan tidak diminati, hanya perlu dibungkus dengan cara yang tepat.

Menentukan Wajah Islam Indonesia

Moderasi beragama bukan sekadar jargon birokrasi atau wacana seminar. Ia adalah kebutuhan riil untuk menjaga Indonesia tetap menjadi rumah yang teduh bagi semua umat. Generasi Z adalah pewaris panggung sejarah berikutnya. Dalam satu atau dua dekade mendatang, merekalah yang akan menentukan arah kebijakan, memimpin masyarakat, dan menjadi rujukan dalam beragama.

Jika ruang digital terus dibiarkan dipenuhi narasi intoleran, kita sedang membiarkan masa depan yang sempit, keras, dan mudah diadu domba. Namun jika dakwah moderat berani masuk, hadir dengan wajah ramah, kreatif, dan relevan, Islam rahmatan lil alamin akan semakin mengakar, bukan di mushalla desa saja, namun juga di lini masa dan ruang-ruang virtual yang membentuk kesadaran zaman.

Dakwah, pada akhirnya, bukan hanya soal isi pesan, tapi juga keberanian menemukan medium yang sesuai dengan generasinya. Dari lantunan iqamah di mushalla hingga notifikasi di layar ponsel, perjalanan itu harus terus berlanjut—agar agama tak sekadar dihafal, tetapi dihidupi dengan penuh cinta dan kedewasaan.

Leave a Comment

Related Post