Menelusuri Motif Psikologis Teroris sebagai Titik Tolak Kontra-Terorisme

Bima Wahyudin Rangkuti

25/08/2025

5
Min Read
Psikologi Teroria

On This Post

Harakatuna.com – Apa yang membuat seseorang terjerembab dalam kubangan terorisme? Jawabannya tentu saja beragam. Salah satu asumsi populer untuk menjawabnya adalah, bahwa semata-mata mereka yang terbenam itu, sejatinya telah terperangkap oleh indoktrinasi yang menginternalisasi keyakinan semu serta absolutisasi terhadap ajaran ekstrem itu sendiri. 

Namun, benarkah sesederhana itu? Apakah para pelaku tindakan terorisme selalu merupakan produk dari komitmen ideologis yang begitu mendalam? Bila menelisik pada kajian-kajian psikologis mengenai terorisme, akan ditemukan pelbagai determinan yang bertali-temali secara kompleks. 

Masuk dan Keluar dari Kelompok yang Dideterminasi secara Psikologis

Studi Max Abrahms yakni What Terrorists Really Want: Terrorist Motives and Counterterrorism Strategy, menyatakan bahwa kelompok yang teridentifikasi sebagai organisasi teroris memiliki tendensi untuk menarik orang-orang yang mengalami keterasingan atau alienasi secara sosial. Studi itu juga menyadur dua data demografis.

Pertama, menunjukkan bagaimana sebagian besar anggota dari organisasi-organisasi tersebut terdiri dari pria muda lajang atau wanita janda yang tidak memiliki pekerjaan tetap sebelum bergabung. Boleh jadi, dengan ini menjadikan mereka merasa kurang memiliki keterhubungan sosial yang mantap. Dan kedua, bahwa banyak di antara mereka merupakan imigran yang gagal berbaur dengan lingkungan baru, di samping kehilangan koneksi dengan teman maupun keluarganya.

Dari sini, nyatanya teridentifikasi berupa faktor-faktor psikologis, seperti kebutuhan menjadi bagian dari kelompok ataupun komunitas, a sense of belonging, yang itu menjadi di antara pemicu ataupun gerbang masuk bagi mereka, dengan kesepian pun keterasingan yang mereka alami.  

Sebagai halnya argumen Abrahms itu sendiri, yang melihat teroris sebagai social solidarity seekers, atau pencari solidaritas sosial. Ia menemukan bahwa motivasi utama mereka sejatinya untuk membangun ikatan emosional laiknya keluarga baru. Motif inilah yang sering kali menjadi lebih penting ketimbang komitmen pada ideologi kelompok itu sendiri.

Studi lainnya, yang juga relevan adalah serangkaian wawancara yang dilakukan oleh John Horgan dalam kurun 18 bulan dengan 29 eks-teroris, serta 23 orang yang terdiri dari para pendukung, anggota keluarga, serta sahabat dari narasumber utama. Itu dimuat dalam Walking Away from Terrorism: Accounts of Disengagement from Radical and Extremist Movements.

Dari wawancara yang dilakukan itu, di antaranya didapati perihal bagaimana akhirnya mereka bisa melepaskan diri dari aktivitas terorisme tersebut. Mula-mula Horgan melakukan pembedaan antara disengaged, yakni telah melepaskan diri, tidak terlibat lagi dalam kelompok teroris. Dan de-radicalised, yang berarti telah terderadikalisasi, dengan meninggalkan ideologi radikal yang menjadi dasar keyakinan yang selama ini dianut. 

Dan menariknya adalah, nyatanya seorang mantan teroris bisa saja berhenti, tidak lagi terafiliasi dengan organisasi, tetapi ia masih sepenuhnya setuju dengan ideologi kelompok lamanya. Dan terdapat beberapa faktor psikologis yang membuat mereka melepaskan diri dari kelompok, seperti kelelahan, konflik internal dengan sesama anggota, kekecewaan pada kehidupan kelompok, hingga keinginan untuk membangun keluarga dan kehidupan normal. Alhasil, sama dengan masuknya, gerbang keluar bagi mereka pun dideterminasi oleh ihwal psikologis pula.

Riwayat Traumatis, Ketidakadilan, hingga Pencarian Signifikansi

Tidak jarang, bersama dengan faktor-faktor psikologis yang dibahas sebelumnya, yang pula menjadi motif dari bergabungnya seseorang dengan kelompok teroris, terdapat beberapa dorongan, seperti pengalaman yang cenderung menyakitkan secara personal serta persepsi akan ketidakadilan yang mendalam.

Dalam Psychology of Terrorism oleh Randy Borum, dijelaskan bagaimana riwayat kekerasan, trauma masa kecil, penghinaan yang dialami, serta adanya perasaan ketidakadilan, sering kali menonjol dalam biografi seorang teroris.

Hanya saja, penting untuk dicatat, luka batin serta persepsi ketidakadilan itu bukanlah sebuah keadaan yang semata-mata boleh dianggap membawa seseorang secara otomatis menuju terorisme. Memang beberapa di antaranya menjadi bagian yang berkontribusi untuk menimbulkan sekaligus melanggengkan agresi.

Seperti halnya studi Bill Sands dalam The Seventh Step, yang dinukil Frank G. Goble dalam The Third Force: The Psychology of Abraham Maslow. Studi itu membincang bagaimana para narapidana memiliki kebencian yang teramat, atas riwayat perlakuan tidak mengenakkan yang mereka dapati semasa kanak-kanak.

Terkategorisasi pula di dalamnya kondisi tiadanya ketulusan serta ketidakadilan yang mereka alami. Inilah yang mengimplikasikan pelbagai tindakan yang menjadikan mereka berstatus sebagai narapidana, yang sejatinya merupakan penentangan, pembangkangan, maupun pemberontakan yang mengambil wujudnya. Tidak hanya itu, pidana yang mereka alami, tidak semata-mata meredupkan kesumat yang bersemayam dalam diri.

Sebagian di antara mereka justru menggebu-gebu ingin segera bebas, untuk dapat membuktikan kembali ketidakterimaan terhadap ketidakadilan yang diperoleh. Bentuknya boleh beragam, namun mengambil peran yang sama sebagai sublimasi dari agresi. Dan itu didapati, tidak terkecuali dengan masuk ke dalam kelompok serta melakukan aksi-aksi terorisme itu sendiri. 

Namun, sekali lagi perlu digarisbawahi, bahwa seseorang yang mengalami pengalaman yang sama, dengan persepsi atas ketidakadilan yang sama, belum tentu menempuh jalan yang sama pula. Karenanya, hal ini lebih tepat dipandang sebagai indikasi dari kerentanan, yang menjadikan individu itu lebih mudah terpengaruh.

Penelitian Fathali M. Moghaddam, yang berjudul The Staircase to Terrorism: A Psychological Exploration, memperkenalkan konsep The Staircase to Terrorism, guna memahami proses psikologis menuju terorisme. Konsep itu merupakan metafor dari sebuah tangga.

Setiap lantai pada tangga tersebut, merepresentasi tahapan psikologis yang berbeda. Setidaknya terdapat lima lantai, termasuk lantai dasar. Di lantai dasar inilah, persepsi ketidakadilan, perasaan frustrasi, serta rasa malu mendapati tempatnya. Itu terjadi melalui mekanisme deprivasi relatif. 

Inilah bukti dari kerentanan tersebut, kendati tidak semua orang akan terus menaiki tangga-tangga yang pada akhirnya menjadikan mereka sebagai teroris. Tetapi, melalui Significance-Quest Theory, Arie W. Kruglanski, memberikan warning bahwa terdapat kekuatan yang mendorong menuju perilaku ekstrem pun terorisme yang disebut quest for significance atau pencarian signifikansi. Itu merupakan kebutuhan mendasar untuk menjadi seseorang, menjadi berarti dan dihargai. 

Kala seseorang mengalami significance loss, baik sebab kegagalan, penghinaan pribadi maupun kelompok, perasaan terpinggirkan, dan lainnya, ia menjadi amat rentan. Akhirnya, ia berupaya mencari signifikansi itu, dan kelompok-kelompok ekstrem hadir, dengan menjanjikan pemenuhan signifikansi itu melalui narasi-narasi heroik. Alhasil, menjadinya seseorang masuk dan terlibat tidak lebih sebagai pemenuhan kebutuhan psikologis yang sifatnya personal.

Akhirnya, memahami bahwa akar masalah kerap kali dideterminasi motif-motif psikologis, meniscayakan penyesuaian pendekatan yang lebih strategis, yang menyasar langsung pada kerentanan psikologis itu sendiri. Upaya pencegahan terorisme harus berada pada tataran adu kekuatan narasi dan seberapa mantap kapasitas setiap bagian dari masyarakat, maupun keseluruhan, untuk memosisikan diri sebagai oase pemenuhan kebutuhan serta penyembuhan. 

Leave a Comment

Related Post