Kolombia Diguncang Teror: 17 Tewas dalam Dua Serangan Mematikan

Ahmad Fairozi, M.Hum.

23/08/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Bogotá – Serangkaian serangan mematikan terjadi di Kolombia pada Kamis (21/8/2025), menewaskan sedikitnya 17 orang. Serangan itu mencakup ledakan bom mobil dan serangan terhadap helikopter polisi di dua lokasi berbeda. Presiden Kolombia, Gustavo Petro, menyebut aksi tersebut didalangi oleh kelompok pembangkang dari Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) yang menolak perjanjian damai 2016.

Dalam insiden pertama, sebuah helikopter polisi diserang saat mengangkut personel ke wilayah Antioquia, Kolombia utara, dalam misi pembasmian tanaman daun koka — bahan baku utama kokain. Serangan itu menewaskan 12 petugas polisi.

“Awalnya kami menerima laporan delapan petugas tewas, namun informasi terbaru dari Gubernur menunjukkan empat orang lainnya meninggal, dan tiga lainnya luka-luka,” ujar Presiden Petro dalam konferensi pers.

Gubernur Antioquia, Andrés Julián Rendón, melalui unggahan di platform X (sebelumnya Twitter), menyatakan bahwa serangan dilakukan menggunakan pesawat nirawak yang menjatuhkan bahan peledak ke arah helikopter saat melintasi perkebunan koka.

Menteri Pertahanan Kolombia, Pedro Sánchez, menambahkan bahwa ledakan tersebut memicu kebakaran di dalam helikopter, yang kemungkinan besar menjadi penyebab utama jatuhnya pesawat.

“Sinyal awal menunjukkan bahwa serangan dari udara itu menyebabkan kebakaran di bagian dalam pesawat,” jelas Sánchez.

Dalam insiden terpisah, sebuah bom mobil meledak di kota Cali, Kolombia barat daya, tepat di dekat sebuah sekolah penerbangan militer. Sedikitnya lima orang tewas dan lebih dari 30 lainnya mengalami luka-luka akibat ledakan tersebut.

Pihak Angkatan Udara Kolombia belum merilis rincian lebih lanjut mengenai ledakan di Cali, namun pihak berwenang menduga serangan ini masih berkaitan dengan kelompok bersenjata.

Presiden Petro semula menyalahkan Klan Teluk—kartel narkoba terbesar di Kolombia—atas serangan terhadap helikopter. Ia menyebut serangan itu sebagai bentuk balas dendam atas penyitaan kokain milik kelompok tersebut.

“Ini kemungkinan besar adalah aksi pembalasan dari Klan Teluk setelah aparat kami berhasil menyita sejumlah besar kokain milik mereka,” jelas Petro.

Namun dalam perkembangan terbaru, Presiden menyebut bahwa seorang tersangka dari kelompok pembangkang FARC telah ditangkap di lokasi ledakan di Cali.

Baik kelompok pembangkang FARC maupun Klan Teluk diketahui aktif beroperasi di wilayah Antioquia, menjadikan daerah ini rawan konflik dan kekerasan.

Sementara itu, produksi daun koka di Kolombia terus meningkat. Menurut laporan terbaru dari Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), luas lahan yang digunakan untuk menanam koka mencapai rekor tertinggi yaitu 253.000 hektar pada tahun 2023.

Leave a Comment

Related Post