Harakatuna.com – 17 Agustus 2025 agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Di sejumlah daerah, di stori-stori WhatsApp teman, Merah Putih tampak tidak dikibarkan sendirian. Di bawahnya, mereka selipkan bendera One Piece. Bahkan, seorang rekan; guru, di sebuah sekolah swasta di Lengkong, Bandung, menghadiri upacara dengan kaos dalam berlambangkan bendera One Piece. Entah karena terprovokasi HTI atau apa, yang jelas, sepertinya, Republik ini belum merdeka.
One Piece memang lagi digandrungi hari-hari ini. Berdasarkan observasi, HTI ikut menungganginya untuk memprovokasi masyarakat. Tanggal 10 Agustus lalu, misalnya, di Bogor, bendera hitam dengan tengkorak khas kru Topi Jerami dari One Piece dikibarkan oleh Felix Siauw, ustaz populer sekaligus ideolog HTI.
Ironisnya, bendera itu dikibarkan bukan dalam event cosplay atau perayaan kelompok penggemar One Piece, melainkan di tengah kerumunan warga, di ruang publik, dengan satu tujuan: mengetes reaksi aparat. Eksperimen sosial, demikian klaimnya. Sekitar 30 menit kemudian, polisi datang dan menegur. Dialog berjalan tenang. Namun, yang lebih ramai adalah narasi yang menyusul di medsos.
Ustaz Felix mengunggah video dan mengekspresikan kejengkelannya. “Aku sebel karena hal kecil seperti ini dipermasalahkan. Seolah tidak ada persoalan lain di Indonesia,” katanya. Ia lalu melempar retorika sederhana, “Korupsi itu masalah gak? Yang bikin korupsi orang nonton One Piece atau nggak?” Pertanyaan yang disambut warga dengan jawaban serentak, “masalah.”
Sepintas, semua itu terlihat ringan. Seolah hanya seorang ustaz yang bosan dengan stigma aparat terhadap bendera, lalu mencari sensasi di medsos. Namun, justru karena tampak remeh, aksi Ustaz Felix tersebut berbahaya. Ia merupakan strategi propaganda aktivis khilafah. HTI mencoba masuk kembali ke ruang publik setelah dilarang pemerintah, dengan cara yang sangat halus, tampak gaul, dan sulit ditolak karena bertolak dari ‘dinamika politik’.
Politik Simbol ala HTI
Bagi penggemar One Piece, Jolly Roger merupakan simbol persaudaraan, kebebasan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Ustaz Felix memanfaatkan imaji itu; mengatakan bahwa siapa pun yang membawa bendera Luffy berarti menjunjung tinggi kebenaran. Narasi semacam itu sangat mudah diterima, apalagi oleh generasi muda yang muak dengan korupsi, muak dengan arogansi elite politik, dan haus pahlawan alternatif mirip di film-film anime.
Penting dicatat bahwa, apa yang dilakukan Ustaz Felix sebenarnya adalah political framing. Ia sedang menyamakan jalan cerita One Piece dengan narasi perjuangan HTI. Bahwa seperti Luffy melawan pemerintah dunia dalam anime, umat Islam pun harus melawan pemerintah di dunia nyata. Bahwa bendera hitam bukan simbol pemberontakan, melainkan lambang moralitas dan solidaritas. HTI membajak kultur pop untuk menyusupkan ideologi politik yang memang anti-NKRI.
Seluruh masyarakat harus tahu, propaganda yang efektif kerap lahir lewat simbol. Dari poster Revolusi Prancis, bendera palu arit Komunis, hingga swastika Nazi, semua mampu menggerakkan massa sangat cepat. Dengan pengalaman globalnya, para dedengkot HTI paham betul bahwa ideologi mereka tidak bisa dijual mentah-mentah di ruang publik pasca-pembubaran. Maka mereka mencari kendaraan baru: pop culture, meme, anime, dan segala hal yang tren di medsos.
Namun pertanyaannya, mengapa publik mudah terpesona narasi Ustaz Felix atau para dedengkot HTI lainnya? Jawabannya, karena pemerintah sendiri memberi panggung lewat ketidakbecusannya mengurus negara tercinta.
Data Transparency International 2024 menempatkan Indonesia di skor 34/100 untuk Indeks Persepsi Korupsi, stagnan bahkan menurun dibanding beberapa tahun sebelumnya. Kasus suap, korupsi bansos, hingga skandal pengemplangan pajak terus jadi headline, sementara hukuman koruptor ringan. Rakyat melihat langsung jurang ketidakadilan: hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah. Sudah dengar kabar bahwa Setya Novanto, si anjing koruptor, bebas bersyarat? Sungguh bikin muak!
Dalam situasi semacam itu, wajar bila simbol bajak laut, tokoh fiksi yang ‘melawan pemerintahan korup’, tampak lebih mulia dibanding birokrat dengan mobil dinas mewah hasil merampok negara. Ketika pejabat sibuk memperkaya diri, rakyat justru merasa lebih dekat dengan Luffy yang membagi daging kepada kru dan rakyat kecil. Ironis, tapi nyata: kegagalan pemerintah dalam menegakkan moralitas memberi ruang emas bagi propaganda HTI untuk merombak negara.
Dakwah Merongrong Kemerdekaan
HTI sejak lama memahami pentingnya soft approach dalam propaganda merongrong kedaulatan Indonesia. Setelah dilarang secara resmi melalui Perppu Ormas tahun 2017, mereka tak lagi bisa mengibarkan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid di ruang publik. Maka strategi berubah, mereka menyusup lewat ruang digital, lewat kelompok-kelompok anak muda, lewat simbol-simbol yang tidak langsung dikenali sebagai politik. Anime, misalnya, jadi sarana dakwah mereka.
Kasus Ustaz Felix mengibarkan bendera One Piece hanyalah puncak gunung es. Sebelumnya, akun-akun simpatisan HTI juga telah memproduksi konten meme tentang keadilan sosial, kritik korupsi, bahkan parodi politik, lalu menyelipkan narasi bahwa semuanya bisa selesai jika khilafah ditegakkan di Indonesia. Mereka menunggangi keresahan generasi muda, lalu menawarkan solusi utopis: dunia tanpa korupsi, tanpa oligarki, dengan janji moral yang bersih itu bersistem khilafah.
Yang terlampau berbahaya ialah bahwa narasi tersebut masuk tanpa disadari. Seorang remaja bisa saja membagikan meme tentang Luffy yang melawan pemerintah dunia, lalu tak sadar ikut menyebarkan framing yang ingin HTI tanamkan. Ketika ideologi masuk lewat jalur pop culture, ia tidak terasa seperti ceramah politik, melainkan hiburan, bahkan identitas yang keren. Para pelakunya melupakan satu fakta, bahwa semua itu merupakan dakwah perongrong kemerdekaan.
Mengapa HTI bisa berani bermain simbol di ruang publik? Karena mereka tahu, rakyat sudah muak dengan kemunafikan elite politik. Mereka sadar, ketika rakyat kehilangan rasa percaya pada bendera Merah Putih yang dipegang pejabat korup, maka bendera bajak laut bisa dipropagandakan sebagai alternatif yang kredibel. Inilah ironi HUT ke-80 RI: moral dan politik masih dijajah oleh triliunan curian koruptor, juga dijajah propagandis HTI.
HTI bermain cerdik; negara dirongrong kedaulatannya dan rakyat jadi korban. Jika pemerintah tetap tidak memperbaiki moral pejabat korupnya, maka propaganda khilafah akan terus menemukan momennya di tengah masyarakat. Rakyat butuh keadilan. Jangan sampai, rakyat merasa menemukan keadilan di serial anime, sementara pemerintah terus bermain licik membiarkan korupsi, ketidakadilan, dan segala siasat merampok kekayaan negara. Merdeka!
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…








Leave a Comment