Taliban dan ISIS-K: Ancaman Nyata atau Strategi Politik? Ini Penjelasannya

Ahmad Fairozi, M.Hum.

14/08/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Kabul – Meski Taliban dan ISIS-Khorasan (ISIS-K) kerap digambarkan sebagai musuh bebuyutan, sejumlah pengamat menyebut hubungan kedua kelompok ini jauh lebih kompleks. Dugaan berkembang bahwa Taliban memanfaatkan kehadiran ISIS-K sebagai alat untuk memperkuat kekuasaan dan mendapatkan legitimasi internasional.

Sejak 2021, ISIS-K melancarkan berbagai serangan di Afghanistan, namun sebagian besar terjadi di wilayah yang juga menjadi basis operasi “anti-ISIS” Taliban seperti Nangarhar dan Kunduz. Analis menilai kampanye ini bukan sekadar perang melawan teror, melainkan cara Taliban menargetkan aktivis, mantan aparat keamanan, dan kelompok etnis tertentu.

“Taliban membingkai konflik ini sebagai upaya heroik melawan terorisme, padahal bisa jadi ini strategi penghapusan lawan-lawan politik,” ujar seorang pakar keamanan regional yang enggan disebutkan namanya.

Jaringan Haqqani, sayap intelijen Taliban yang dikenal dekat dengan kelompok militan lintas negara, diduga memiliki hubungan tersembunyi dengan beberapa elemen ISIS-K. Serangan besar terhadap hotel diplomat asing di Kabul memunculkan dugaan adanya “koordinasi diam-diam” atau minimal toleransi.

Selain untuk kepentingan domestik, Taliban disebut menjadikan ancaman ISIS-K sebagai kartu tawar di kancah diplomatik. Kepada negara-negara seperti Tiongkok, Rusia, dan Iran, Taliban menyatakan diri sebagai satu-satunya benteng yang mampu menahan penyebaran terorisme lintas batas.

“Tanpa kami, ISIS-K bisa menyebar ke Asia Tengah,” ujar seorang pejabat Taliban dalam pertemuan bilateral yang dikutip media lokal.

Meski belum ada bukti kuat adanya kolusi langsung, banyak analis menilai Taliban tidak berniat sepenuhnya menghancurkan ISIS-K. Sebaliknya, keberadaan kelompok itu justru memperkuat posisi Taliban sebagai aktor “yang diperlukan” dalam stabilitas regional.

Sementara itu, rakyat Afghanistan tetap menjadi korban dalam dinamika kekuasaan yang belum menunjukkan titik akhir.

Leave a Comment

Related Post