PNIB Gencarkan Kirab Merah Putih untuk Tangkal Intoleransi dan Radikalisme

Ahmad Fairozi, M.Hum.

13/08/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta — Organisasi kemasyarakatan lintas agama, budaya, dan tradisi Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) menjadi satu-satunya ormas yang konsisten menggelar kirab merah putih di berbagai daerah. Aksi ini digelar sebagai bentuk solidaritas kebangsaan sekaligus upaya menangkal fenomena intoleransi, radikalisme, terorisme, dan penyalahgunaan narkoba yang masih marak di tengah masyarakat majemuk.

Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho—akrab disapa Gus Wal—menegaskan bahwa menjaga persatuan di tengah kemajemukan adalah tantangan terberat bagi bangsa Indonesia. “Saat krisis multidimensi melanda, harapan seluruh anak bangsa hanya satu: negara ini tidak boleh terpecah belah. Kirab merah putih PNIB bukan sekadar tontonan hura-hura, tetapi wujud esensi bahwa kita masih merasa menjadi bagian dari Indonesia,” ujar Gus Wal di hadapan awak media.

Menurutnya, nasionalisme tidak cukup diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan berkesinambungan. Ia mengingatkan bahwa aksi intoleransi yang masih terjadi merupakan bukti adanya rongrongan terhadap persatuan bangsa. “Ada kelompok yang bergerak senyap memprovokasi tindakan intoleran. Pelaku perusakan atau pelarangan tempat ibadah sering kali hanyalah korban provokasi, sementara dalang utamanya berpindah tempat untuk memicu konflik di lokasi lain,” jelasnya.

Gus Wal juga menyoroti penangkapan terduga teroris di sejumlah daerah sebagai tanda bahwa gerakan khilafah belum sepenuhnya diberantas. “Di Indonesia, paham khilafah dan negara Islam telah menjelma menjadi aksi terorisme jihad yang keliru. Mereka masih masif merekrut kader baru yang terpapar ajaran Wahabi, kombatan ISIS, dan pendakwah impor. Kader ini didoktrin membenci penganut agama lain, dan pada tingkat militansi tertentu dibentuk menjadi martir teroris,” paparnya.

Meski memiliki cabang terbatas, PNIB mampu menggelar kirab merah putih di berbagai kota tanpa pendanaan khusus. Kegiatan itu terlaksana berkat semangat gotong royong anggota dan simpatisan. “Militansi PNIB adalah mencintai Indonesia tanpa koma. Merah putih adalah harga mati, dan nasionalisme adalah keberanian menolak paham asing, termasuk Wahabi, khilafah, dan terorisme yang berawal dari intoleransi,” tegas Gus Wal.

Di akhir pernyataannya, Gus Wal mendesak pemerintah menetapkan 16 November sebagai Hari Toleransi Nasional sebagai perekat kerukunan antarumat beragama.

Leave a Comment

Related Post