PBB: Al Qaeda dan ISIS Manfaatkan Kekacauan di Suriah Selatan, 500 Tahanan Militan Dibebaskan

Ahmad Fairozi, M.Hum.

07/08/2025

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Damaskus — Kelompok militan Al Qaeda dan Islamic State (ISIS) tengah memanfaatkan instabilitas politik dan keamanan di Suriah, khususnya di wilayah selatan, untuk memperkuat posisi dan memperluas pengaruhnya. Hal ini diungkapkan dalam laporan terbaru dari Tim Pemantau Dukungan Analisis dan Sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dalam laporan yang dikutip oleh Long War Journal pada 31 Juli 2025, tim pemantau PBB menyatakan bahwa situasi pasca jatuhnya rezim Presiden Bashar al-Assad telah menciptakan kekosongan kekuasaan yang dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis. “Baik ISIS maupun Al Qaeda memanfaatkan kekacauan yang terjadi, termasuk menyita persenjataan berat milik pemerintah sebelumnya dan melancarkan serangkaian serangan mematikan,” ungkap laporan tersebut.

Salah satu sorotan utama dalam laporan adalah keberhasilan pelarian ratusan tahanan militan. Sejak runtuhnya pemerintahan Assad, sedikitnya 500 tahanan yang terkait dengan Al Qaeda dan ISIS telah melarikan diri dari fasilitas penahanan. “Insiden terbaru terjadi pada Maret lalu, ketika 70 tahanan berhasil kabur dari sebuah penjara di Aleppo,” sebut laporan itu.

Laporan juga menyoroti kesulitan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaeda dalam berintegrasi ke dalam struktur militer nasional Suriah. Salah satu kelompok tersebut, Hurras al Din, dikenal memiliki pandangan ekstrem dan menolak legitimasi pemerintahan baru di bawah Presiden Ahmad asy-Syaraa. “Sebagian elemen dari Hurras al Din bahkan terlibat dalam bentrokan bersenjata dengan rezim baru, meski tidak semua anggotanya turut serta,” jelas laporan Tim Pemantau.

Kelompok ini diperkirakan masih mempertahankan sekitar 2.000 pejuang aktif dan dipimpin oleh Samir Hijazi serta Sami al-Aridi. Keduanya diyakini berkegiatan di barat laut Suriah dan tengah menjalin koordinasi dengan mantan anggota Hai’ah Tahrir al Sham (HTS) untuk membentuk faksi baru di wilayah Idlib dan pesisir.

Sementara itu, ISIS dikabarkan masih mempertahankan sekitar 3.000 pejuang di Irak dan Suriah. Menurut PBB, kelompok ini terus memanfaatkan kondisi keamanan yang fluktuatif di wilayah tersebut untuk menjalankan misinya. “ISIS berusaha memicu ketegangan sektarian dan menjalankan kampanye multibahasa untuk mendiskreditkan pemerintahan asy-Syaraa, serta merekrut pejuang asing dan militan yang kecewa,” kata laporan tersebut.

Kelompok militan ini juga dilaporkan melakukan lebih dari 90 serangan, mayoritas menargetkan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di timur laut negara itu, di mana sekitar 400 pejuangnya masih aktif.

Isu pejuang asing turut mendapat sorotan serius. PBB memperkirakan lebih dari 5.000 pejuang asing masih berada di Suriah, sebagian besar dari mereka dianggap masih memiliki ambisi melancarkan operasi lintas batas. “Mereka tidak puas dengan pendekatan pemerintahan transisi dan kemungkinan besar beroperasi di luar kendali otoritas resmi,” sebut laporan.

Beberapa kelompok jihadis independen seperti Katibat al Tawhid wal Jihad, Ajnad al-Kawkaz, Ansar al-Tawhid, Ansar al-Islam, Ansar al-Din, dan Katibat al-Ghoraba al-Faransiya diduga tetap melakukan operasi militer yang tidak mendapat restu dari pemerintahan Suriah saat ini.

Salah satu kelompok yang paling menonjol adalah Saraya Ansar al-Sunnah, yang menyebut dirinya sebagai pecahan dari HTS. Kelompok ini secara terbuka menentang pemerintahan baru dan mengkritik keras Presiden Ahmad asy-Syaraa.

PBB juga memperingatkan bahwa sejumlah anggota Hurras al Din kemungkinan tengah mempertimbangkan untuk relokasi ke Afghanistan, Yaman, atau Afrika, di bawah koordinasi jaringan global Al Qaeda. “Keputusan pembubaran Hurras al Din dianggap sebagian besar bersifat simbolis oleh para pemimpinnya,” sebut laporan tersebut, menandakan bahwa aktivitas militan masih terus berjalan meski secara formal dibubarkan.

Laporan ini menegaskan bahwa situasi keamanan di Suriah tetap rentan terhadap eksploitasi kelompok ekstremis. Dengan ribuan militan bersenjata masih aktif, serta keberadaan pejuang asing yang tidak terkoordinasi dengan otoritas nasional, PBB mengingatkan bahwa potensi munculnya kembali kekuatan militan berskala besar tetap menjadi ancaman nyata bagi stabilitas kawasan.

Leave a Comment

Related Post