Deradikalisasi Lewat Storytelling: Perlukah Dai Belajar dari Netflix?

M. Ridho Hardisk Pratama

06/08/2025

4
Min Read
Storytelling

On This Post

Harakatuna.com – “Dakwah bukan sekadar menyampaikan, tapi memengaruhi.” Pernyataan klasik ini terus menggema di tengah tantangan zaman, terutama ketika dunia digital menjadi arena baru penyebaran ideologi, termasuk ideologi radikal. Di sinilah pertanyaan penting muncul, apakah para dai perlu belajar dari Netflix, platform raksasa yang dikenal jago memainkan emosi lewat cerita, untuk merancang narasi dakwah yang lebih efektif khususnya untuk tujuan deradikalisasi?

Ceramah-ceramah keagamaan kerap kali dibingkai dalam format satu arah, normatif, bahkan dogmatis. Meski secara historis metode ini tak pernah ditinggalkan, efektivitasnya mulai goyah ketika audiens muda terbiasa dengan narasi sinematik, visualisasi konflik emosional, dan resolusi yang menyentuh. Di sinilah kekuatan storytelling hadir, bukan sekadar hiburan, melainkan sebagai alat pembentuk opini, sikap, dan bahkan nilai hidup.

Penelitian yang dilakukan oleh Ilham Rahmat Maulana terhadap metode dakwah Ustaz Herman Sutiyana di Garut menunjukkan bahwa pendekatan dakwah bil qashash (cerita) dengan struktur naratif lengkap. Mulai dari eksposisi, konflik, hingga resolusi berhasil menarik perhatian anak-anak dan meningkatkan pemahaman mereka terhadap nilai-nilai Islam yang damai. Metode ini tak hanya menyampaikan pesan, tapi mengajak audiens mengalami perjalanan batin bersama tokoh dalam cerita. Itulah kekuatan narasi yang hidup dan yang membuat Netflix digdaya.

Netflix dan Narasi tentang Radikalisme

Serial Caliphate produksi Netflix menjadi salah satu contoh konten yang menggambarkan isu radikalisasi dengan pendekatan storytelling yang kompleks dan emosional. Serial ini mengikuti tokoh-tokoh yang terjebak dalam perekrutan ISIS, baik dari sisi korban maupun pelaku. Konflik internal, trauma, pencarian identitas, dan keterasingan menjadi benang merah yang membuat penonton larut dalam cerita dan merenungi bagaimana radikalisme bekerja. Bukan sekadar masalah doktrin, tapi juga luka, keterputusan sosial, dan kemarahan yang tak tersalurkan.

Apa yang bisa dipelajari dari sini? Storytelling yang efektif tidak datang dari sekadar “benar secara isi,” tapi harus menyentuh titik-titik emosional manusia. Dalam konteks dakwah, ini artinya dai perlu mulai belajar bagaimana menyusun narasi yang menyentuh hati, bukan hanya menekan kewajiban.

Ketika Dai Menjadi Storyteller: Praktik Nyata

Di Indonesia, beberapa tokoh sudah menerapkan pendekatan naratif dalam berdakwah. Habib Syahdu, misalnya, dikenal membawakan dakwah melalui kisah sejarah Islam, legenda lokal, hingga cerita rakyat yang sarat makna spiritual. Audiens remaja dan dewasa yang mendengarkannya tak hanya mendapatkan wawasan, tetapi juga merasa diajak masuk ke dalam cerita. Mengalami ketegangan, menyaksikan perubahan tokoh, dan merasakan hikmah secara batiniah.

Begitu pula dengan KH Achmad Chalwani Nawawi yang menggunakan YouTube sebagai kanal penyebaran dakwah deradikalisasi. Melalui konten yang dikemas dalam cerita sejarah, lagu kebangsaan, dan shalawat, ia menyisipkan pesan cinta tanah air, toleransi, dan Islam rahmatan lil ‘alamin. Strategi ini berhasil menyasar kalangan muda dan pengguna digital yang sebelumnya terpapar konten intoleran.

Di dunia digital, algoritma adalah medan pertempuran baru. Penelitian di YouTube menunjukkan bahwa sekitar 21% video yang direkomendasikan dari konten berbahasa Arab memiliki unsur intoleran. Jalur radikalisasi digital juga ditemukan lewat pola tontonan. Dari video “konservatif ringan” menuju konten ekstrem secara bertahap tanpa disadari penonton. Ini berarti, jika narasi moderat tidak hadir dan diperkuat di ruang digital, maka narasi ekstremlah yang akan mendominasi.

Di sinilah urgensi storytelling sebagai alat kontra-radikalisasi makin terlihat. Ceramah satu arah sulit bersaing dengan video berdurasi 3 menit yang penuh konflik, musik latar yang dramatis, serta tokoh yang relatable. Jika para dai tidak masuk ke ruang ini, maka kekosongan narasi akan diisi oleh ideologi lain yang lebih agresif.

Belajar Bercerita Tanpa Kehilangan Esensi

Belajar dari Netflix bukan berarti mendakwahkan nilai-nilai Netflix, tetapi menyerap teknik penyampaiannya. Bagaimana mengemas pesan dalam bentuk kisah yang menyentuh. Bagaimana membangun tokoh yang relatable. Bagaimana menggerakkan emosi, bukan hanya logika. Bagaimana menyisipkan nilai secara halus, bukan memaksakan dalil secara frontal.

Dakwah bukan hanya soal isi, tapi juga medium. Bukan hanya benar, tapi juga tepat sasaran. Ketika medium yang digunakan tak mampu menjangkau hati, maka pesan yang paling agung pun bisa berlalu tanpa bekas. Dalam era TikTok, YouTube Shorts, dan Netflix, maka keahlian bercerita menjadi alat dakwah yang bukan cuma perlu, tapi mendesak.

Radikalisme tak hanya disebarkan lewat ceramah, tapi lewat cerita. Maka melawannya juga harus lewat cerita. Cerita yang mengangkat luka dan penyembuhan. Cerita tentang manusia yang tersesat, lalu pulang. Cerita yang bukan hanya memerintah, tapi memahami.

Netflix dan para storyteller dunia digital telah membuktikan bahwa narasi bisa membentuk persepsi, bahkan ideologi. Kini saatnya para dai memahami bahwa medan dakwah telah berubah. Dan jika mereka ingin tetap relevan dan efektif, belajar dari Netflix bukanlah kompromi, melainkan strategi.

Leave a Comment

Related Post