Harakatuna.com. Suriah – Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didominasi oleh kelompok Kurdi melaporkan bahwa pasukannya terlibat bentrok dengan militer pemerintah Suriah di Provinsi Aleppo, Senin lalu. Insiden ini terjadi di tengah upaya integrasi antara SDF dan pemerintah pusat Damaskus yang telah disepakati sejak Maret, dan kini berada dalam bayang-bayang ketegangan baru serta potensi kebangkitan kembali kelompok teroris ISIS di kawasan.
SDF merupakan sekutu utama Amerika Serikat dalam memerangi kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Mereka memainkan peran sentral dalam operasi militer yang berhasil menggulingkan kekuasaan ISIS pada tahun 2019, setelah kelompok tersebut sempat menguasai sebagian besar wilayah di Suriah dan Irak. Hingga kini, SDF masih bertanggung jawab atas keamanan sejumlah kamp dan penjara yang menampung ribuan mantan kombatan dan keluarga anggota ISIS.
Setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, pemerintahan baru di Damaskus menandatangani perjanjian dengan SDF pada bulan Maret 2025. Kesepakatan itu mencakup integrasi pasukan Kurdi dan lembaga-lembaga administratif lokal ke dalam struktur negara, dalam upaya merekonsiliasi faksi-faksi bersenjata dan menyatukan kembali negara yang telah terpecah oleh konflik selama lebih dari 14 tahun.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan adanya retakan dalam proses tersebut. Menurut SDF, pasukan pemerintah menyerang empat pos militer mereka di daerah Dayr Hafir, Aleppo.
“Kami menilai pemerintah Damaskus sepenuhnya bertanggung jawab atas provokasi ini. Pasukan kami siap untuk membela diri secara sah dengan kekuatan penuh,” tegas SDF dalam pernyataan tertulis (SDF, 2025).
Ketegangan juga meningkat di kota Manbij pada akhir pekan sebelumnya. Pemerintah Suriah menuduh SDF meluncurkan serangan roket ke pos militer, sementara SDF membantah tuduhan itu dan mengatakan bahwa mereka hanya membalas serangan artileri pemerintah yang mengenai warga sipil.
Insiden-insiden ini menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas kawasan timur laut Suriah, tempat konsentrasi utama bekas wilayah ISIS dan lokasi kamp-kamp pengungsi yang menampung puluhan ribu warga, termasuk keluarga eks kombatan ISIS. Banyak analis khawatir bahwa jika konflik antara SDF dan pemerintah pusat terus berlanjut, hal ini bisa dimanfaatkan oleh sisa-sisa jaringan ISIS yang masih aktif melakukan serangan sporadis di wilayah gurun dan daerah terpencil.
“Setiap ketegangan antara aktor lokal seperti SDF dan Damaskus bisa membuka celah keamanan yang memungkinkan kelompok-kelompok ekstremis seperti ISIS untuk membangun kembali kekuatannya,” kata seorang analis keamanan Timur Tengah dari Crisis Group (Crisis Group, 2025).
Dengan tantangan keamanan yang masih tinggi, serta proses integrasi yang rapuh, Suriah kini menghadapi risiko kembali terjerumus ke dalam kekacauan, jika konflik internal tidak segera diredam dan fokus terhadap pemberantasan radikalisme tidak dipertahankan secara kolektif.








Leave a Comment