Kelompok Bersenjata Terkait ISIS Serang Gereja Katolik di Kongo, 38 Orang Tewas

Ahmad Fairozi, M.Hum.

28/07/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Komanda Sedikitnya 38 orang dilaporkan tewas dan puluhan lainnya terluka dalam serangan brutal terhadap sebuah gereja Katolik di wilayah timur laut Republik Demokratik Kongo (RDK), pada Minggu (27/7). Serangan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok pemberontak Pasukan Demokratik Sekutu (ADF), yang diketahui berafiliasi dengan militan Islamic State (ISIS).

Menurut laporan otoritas lokal, para penyerang menyasar para jemaat yang sedang bermalam di dalam gereja Katolik di kota Komanda, Provinsi Ituri. “Para jemaat dibunuh dengan parang atau senjata api,” kata Christophe Munyanderu, seorang aktivis hak asasi manusia yang berada di lokasi saat kejadian, seperti dikutip dari Associated Press (AP), Senin (28/7).

Ia menambahkan bahwa suara tembakan terdengar sepanjang malam, namun sebagian warga awalnya menyangka itu hanyalah aksi pencurian biasa.

Koordinator masyarakat sipil Komanda, Dieudonne Duranthabo, menyebutkan bahwa jenazah para korban masih berada di lokasi dan sedang disiapkan untuk dikuburkan secara massal di kompleks gereja. “Jenazah para korban masih berada di lokasi kejadian, dan para relawan sedang bersiap untuk menguburkan mereka di makam massal yang tengah kami siapkan di kompleks gereja Katolik,” ungkap Duranthabo dalam keterangannya kepada Sky News.

Ia mengecam keras insiden tersebut yang terjadi di kota yang seharusnya berada dalam pengawasan aparat keamanan. “Kami menuntut intervensi militer secepatnya, karena kami diberitahu bahwa musuh masih berada di dekat kota kami,” tegasnya.

Pejabat lokal lainnya, yang tidak disebutkan namanya, menyebutkan bahwa serangan ini mengakibatkan 38 orang tewas, 15 luka-luka, dan beberapa lainnya masih dinyatakan hilang.

Serangan ini merupakan bagian dari rangkaian kekerasan yang terus melanda kawasan timur Kongo dalam beberapa tahun terakhir. Hanya beberapa hari sebelumnya, lima orang dilaporkan tewas dalam serangan di desa terdekat, Machongani. “Mereka membawa beberapa orang ke dalam hutan. Kami tidak tahu ke mana mereka dibawa atau berapa jumlahnya,” ujar Lossa Dhekana, seorang pemimpin masyarakat sipil di Provinsi Ituri, kepada AP.

ADF sendiri merupakan kelompok pemberontak asal Uganda yang mulai terbentuk pada akhir 1990-an sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintahan Presiden Yoweri Museveni. Setelah mendapat tekanan dari militer Uganda pada 2002, kelompok ini memindahkan basis operasinya ke wilayah timur Republik Demokratik Kongo.

Menurut laporan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada 2019, ADF mulai menjalin hubungan dengan ISIS sejak akhir 2018 dan sejak saat itu bertanggung jawab atas ribuan kematian warga sipil di wilayah tersebut.

Pemerintah Kongo bersama pasukan internasional saat ini tengah berupaya memperkuat keamanan di kawasan tersebut. Namun, serangan terbaru ini kembali menunjukkan kerentanan wilayah timur Kongo terhadap ancaman kelompok ekstremis bersenjata.

Leave a Comment

Related Post