Radikalisasi HTI dalam Event Ittiba’-Disconnect, Berantas!

Ahmad Khairi

28/07/2025

5
Min Read
Ittiba' Disconnect

On This Post

Harakatuna.com – Negara kita kembali dihadapkan pada sesuatu yang meresahkan: ideologi HTI yang masih berkeliaran dan meradikalisasi masyarakat. Meski secara hukum telah dibubarkan pada tahun 2017, HTI justru menemukan jurus baru untuk menyusup ke ruang keislaman publik. Mereka tak lagi berorasi di tengah jalan dengan panji hitam dan jargon khilafah. Mereka tampil dalam panggung teatrikal sejarah—mempropagandakan khilafah.

Itulah fakta yang terjadi dalam acara Ittiba’-Disconnect. Di permukaan, Ittiba’-Disconnect tampak seperti festival hijrah biasa: ada kajian, ada musik religi, ada teater islami, ada tausiyah penuh semangat. Namun, bila dicermati lebih dalam, acara tersebut adalah wujud transformasi strategi dakwah HTI yang kini menyasar Gen Z dan Muslim urban. Mereka melancarkan proyek indoktrinasi-radikalisasi yang berbayar dan berdampak besar.

Ini poster Ittiba’-Disconnect di web resmi mereka:

Semua aktor di Ittiba’-Disconnect adalah orang-orang HTI. Ada Ustaz Felix Siauw, ideolog HTI yang paling getol propagandakan khilafah. Di bawah asuhannya, Yuk Ngaji mendesain Ittiba’-Disconnect menjadi event luar biasa yang membuat penontonnya betah dan tidak ingin pulang. Seorang di Instagram komentar begini, “Sumpah, acaranya keren banget dan ingin ngulang”. Dan event tersebut akan berlangsung di berbagai kota di Indonesia.

Ironisnya, dan mungkin para penonton tidak sadari, tokoh sentral HTI yakni Taqiyuddin al-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir, dimunculkan dalam aksi teatrikal mereka. Persis mulai pakaiannya hingga pemikirannya. Sejarah yang ditampilkan adalah sejarah versi HTI, yang dijejalkan ke penonton sebagai fakta sejarah baru—tanpa para hadirin event Ittiba’-Disconnect tahu bahwa sejarahnya dibelokkan sesuai kepentingan ideologis Hizbut Tahrir.

Ini fotonya:

Pihak penyelenggara Ittiba’-Disconnect menyamarkan identitas pendiri Hizbut Tahrir, Syekh Taqiyuddin al-Nabhani, menjadi “Syekh Abu Gaza”. Jurus kamuflase ini untuk mengelabui para hadirin.

Apa yang Fatal dari Ittiba’-Disconnect?

Ittiba’-Disconnect adalah propaganda. Secara etimologis, ittiba’ memang berarti mengikuti, merujuk pada keharusan mengikuti Nabi Muhammad Saw. sebagai role model kehidupan. Sedangkan disconnect dipakai untuk melukiskan kondisi umat saat ini yang dianggap tercerabut dari akar Islam autentik karena tidak lagi menjalani sistem kehidupan sebagaimana dicontohkan Nabi—teokratis.

Di tangan HTI, dua istilah tersebut dijodohkan secara manipulatif untuk membangun logika bahwa kehidupan bernegara umat Islam hari ini—termasuk di Indonesia—adalah bentuk ‘keterputusan’ dari syariat. Dan keterputusan itu bisa dipulihkan hanya dengan kembali ke sistem yang dibawa Nabi dalam pendangan HTI: khilafah islamiah. Logika sederhana itu jelas menggugah emosi keagamaan banyak orang. Itulah kenapa event Ittiba’ tinggi peminat.

Tapi justru di situlah bahayanya. HTI tidak sedang mengajak umat sekadar mencintai Rasulullah. Mereka sedang membangun satu asumsi besar yang mematikan: bahwa sistem demokrasi adalah penyimpangan dari Islam, dan bahwa NKRI adalah produk kafir-Barat yang memisahkan umat dari syariat. Umat, dalam imajinasi HTI, digambarkan sebagai makhluk yang tersesat dan terjajah oleh sistem kenegaraan yang tak sesuai dengan ajaran Islam.

Dengan begitu, HTI secara halus membentuk dua kutub: umat yang ingin kembali kepada Nabi—tentu versi mereka—dan sistem negara yang menjadi musuh; yakni NKRI. Teater mereka di event Ittiba’ bahkan secara terang-terangan menampilkan Taqiyuddin al-Nabhani. Dari situlah radikalisasi merayap. Tidak dengan bom, tidak dengan senjata, tetapi dengan narasi. Radikalisasi HTI hari ini adalah radikalisasi yang halus namun menusuk.

Kanan: Syekh Taqiyuddin al-Nabhani. Kiri: Syekh Abu Gaza dalam teatrikal Ittiba’-Disconnect. Sungguh propaganda ulung Hizbut Tahrir!

Mereka menciptakan atmosfer ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara, terhadap demokrasi, terhadap hukum positif, dan bahkan terhadap simbol kebangsaan: Pancasila dan UUD 1945. Semua dianggap buatan manusia yang menjauhkan umat dari hukum Allah. Maka tidak heran bila dalam acara Ittiba’-Disconnect, para pengisi acara tidak akan bicara soal nasionalisme atau kebangsaan. Khilafah, khilafah, khilafah. Itulah propagandanya.

Ittiba’-Disconnect Meracuni Generasi Muda!

Celaka sekali! Bagaimana tidak, propaganda radikal HTI dalam event Ittiba’-Disconnect ditujukan kepada generasi muda, terutama mereka yang tengah mengalami keresahan identitas; proses hijrah. Anak muda yang baru saja menemukan semangat religius, yang haus akan kejelasan arah hidup, yang tengah mencari makna, jadi santapan maut HTI. HTI menyusup ke ruang-jejaring medsos dan beraksi brutal meracuni para generasi muda.

Memang, mereka tidak lagi berteriak keras menuntut khilafah. Mereka justru memeluk umat dengan lembut—untuk kemudian menggiring ke dalam proyek politik mereka. Komunitas Yuk Ngaji, yang berada di balik acara Ittiba’-Disconnect, adalah satu contoh konkret transformasi dakwah HTI—setelah sebelumnya acara Metamorfoshow terendus aparat dan viral. Donatur Ittiba’-Disconnect sepenuhnya adalah para dedengkot Hizbut Tahrir.

Dipimpin Ustaz Felix Siauw, Yuk Ngaji mampu menjaring ribuan pemuda dalam setiap acaranya. Ustaz Felix, dengan gaya bicara karismatik dan penampilan bersahaja, tampil jadi sosok yang seolah mewakili Islam: penuh semangat, lugas, ahli-paham sejarah, dan konsekuen terhadap sistem Islam. Tapi bila ditelisik lebih dalam, apa yang ia sampaikan tidak lain adalah reproduksi wacana HTI dalam bahasa anak-anak Gen Z. Bahaya!

Bagi HTI, Ittiba’-Disconnect merupakan alat membentuk persepsi publik bahwa Indonesia berada di jalan yang salah. Demokrasi adalah jalan kebinasaan. Nasionalisme adalah penyakit. Ketaatan pada hukum negara dianggap bentuk kedurhakaan terhadap hukum Allah dan keterputusan dari ajaran Nabi. Jelas, itu adalah ajakan untuk memutus kesetiaan terhadap negara, dan itu radikal sekali—tidak lagi bisa disangkal.

Dan jika itu dibiarkan tumbuh dan tidak diberantas, maka negara ini sedang menyulam generasi-generasi radikal masa depan. Maka, sudah saatnya negara dan masyarakat sipil menyadari bahwa pertarungan melawan radikalisme harus memasuki ruang-ruang narasi yang halus—sebagaimana yang HTI lakukan. Faktanya, ittiba’ Rasul Saw. tidak berarti harus menegakkan khilafah. HTI memfitnah Nabi demi kepentingan ideologisnya.

Sudah saatnya, acara Ittiba’-Disconnect dipantau secara serius. BNPT harus lebih gesit lagi dan tidak hanya ngomongin radikal-radikul namun hasilnya nihil. Ini soal perlindungan integritas kebangsaan. Islam tidak pernah mengajarkan masyarakat Muslim membenci negeri ini. Apa yang HTI propagandakan fitnah belaka; sesat dan menyesatkan. Islam bukan proyek ideologis sebagaimana yang HTI gembar-gemborkan.

Berantas HTI! Berantas semua acara Ittiba’-Disconnect! Tidak perlu banyak basa-basi, berantas saja. Radikalisasi HTI dalam event Ittiba’-Disconnect adalah bentuk baru perang ideologis yang tidak bisa dibiarkan. Itu bukan sekadar propaganda. Itu adalah ancaman yang sangat nyata. Dan seperti semua ancaman, ia harus diberantas sebelum terlambat, diberantas dan dilenyapkan hingga ke akar-akarnya.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post