Ketika Game dan Dakwah Bertemu: Jalan Baru Narasi Islam Damai?

M. Ridho Hardisk Pratama

28/07/2025

4
Min Read
Dakwah Mobile

On This Post

Harakatuna.com – Beberapa waktu terakhir, pemandangan ganjil tapi menarik muncul di jagat digital. Seorang ustaz berdakwah di tengah arena pertempuran Mobile Legends. Alih-alih mimbar atau panggung tabligh akbar, ia menyampaikan pesan Islam moderat dari balik headset dan layar smartphone. Bukan, ini bukan gimmick semata. Ini realitas baru, dakwah dan game telah bertemu, dan mungkin sedang membentuk wajah Islam yang baru. Lebih santai, lebih dekat, dan semoga lebih damai.

Fenomena tersebut menuntut kita untuk tidak sekadar menggelengkan kepala, tapi mulai menggali lebih dalam benarkah game bisa menjadi medium dakwah yang sah? Apa saja dampaknya? Dan apakah ini bisa menjadi jalan baru untuk melawan narasi-narasi kekerasan berbaju agama yang selama ini juga menyusup lewat ruang digital?

Dari Mimbar ke Stream: Dakwah ala Ustaz Abi Azkakia

Salah satu sosok yang menandai pergeseran ini adalah Ustaz Muhammad Abi Azkakia. Lewat kanal TikTok dan platform live-streaming lainnya, ia menggabungkan dua dunia yang selama ini dianggap bertolak belakang, dunia game dan dunia dakwah. Di sela permainan Mobile Legends, ia menyisipkan nasihat agama, memperingatkan agar tidak bersikap toksik, bahkan mengajak pemain berdzikir ketika mulai kesal atau kalah.

Tak sekadar lucu-lucuan, pendekatan ini menghasilkan dampak nyata. Salah satu pengikutnya mengaku menjadi mualaf setelah berkali-kali menonton dakwahnya di sela-sela game. Komunitas virtual yang ia bentuk bahkan punya nama: Majelis Nurul Legend. Sebuah istilah yang meski terdengar jenaka, menandai transformasi besar dalam cara kita memahami ruang dakwah di era digital.

Yang lebih menarik adalah dakwahnya tak disampaikan dalam bahasa tinggi atau ceramah formal. Ia menggunakan bahasa gamers, dengan humor yang relate, dan pendekatan yang santai. Ustaz Abi tidak sedang menggantikan ustaz-ustaz mimbar, tapi sedang membuka kanal baru untuk audiens yang selama ini mungkin alergi dengan gaya dakwah konvensional.

Fenomena ini mengajak kita kembali pada satu pertanyaan klasik: apakah media itu netral? Banyak yang masih memandang game hanya sebagai hiburan belaka, atau malah sebagai candu yang menjauhkan anak-anak dari akhlak.

Padahal dalam sejarahnya, game bisa menjadi alat ideologis yang sangat kuat. ISIS, misalnya, pernah merilis game edukatif bernama Huroof yang menyisipkan nilai-nilai kekerasan kepada anak-anak. Game seperti Muslim Massacre atau Faith Fighter juga pernah menuai kontroversi karena menggambarkan umat Islam secara stereotip dan penuh kekerasan. Ini menunjukkan bahwa medan permainan digital bukan sekadar dunia maya yang kosong nilai, tapi arena penuh narasi yang bisa dibajak siapa saja.

Lalu, jika kelompok ekstrem bisa masuk dan menggunakan game sebagai kendaraan ideologinya, mengapa umat Islam yang moderat tidak bisa melakukan hal serupa?

Narasi Damai dalam Dunia Game: Bisa atau Mustahil?

Berdasarkan riset dari Arditya Prayogi (IAIN Pekalongan), game bisa menjadi saluran pop dakwah yang efektif. Ada tiga dimensi yang ia soroti: pertama, game sebagai alat intervensi edukatif; kedua, sebagai simulasi dunia nyata yang meaningful; dan ketiga, sebagai lingkungan imersif yang bisa membentuk perilaku pemain. Ini bukan sekadar teori. Dalam praktiknya, kita sudah melihat bagaimana para pemain bisa terpengaruh secara emosional dan sosial dari cara game disajikan.

Namun tentu saja, pertanyaannya bukan hanya bisa atau tidak, melainkan bagaimana caranya? Game sebagai medium dakwah damai tidak bisa sekadar menyisipkan ceramah di sela-sela aksi menembak atau bertarung. Ia harus dibangun secara sadar sebagai narasi tandingan. Game-game seperti Engare, misalnya, yang mengambil inspirasi dari geometri Islam dan menyuguhkan pengalaman estetis-spiritual, menunjukkan bahwa pendekatan ini memungkinkan.

Namun tantangannya tetap besar. Banyak game Islami yang gagal menembus pasar karena terlalu normatif, kurang inovatif, atau terlalu kaku dalam menyampaikan nilai. Di sinilah pentingnya hadir para pengembang yang tidak hanya paham agama, tapi juga paham pasar, desain, dan psikologi pengguna.

Relasi dengan Etika dan Hukum Islam

Lantas, bagaimana agama memandang ini? Mayoritas ulama sepakat bahwa game tidak otomatis haram. Ia menjadi terlarang jika mengandung unsur kekerasan berlebihan, judi, pornografi, atau mengganggu kewajiban agama seperti salat. Tapi jika game digunakan sebagai medium edukatif atau spiritual, maka ia menjadi mubah bahkan bernilai positif.

Ini membuka ruang luas bagi narasi Islam damai untuk masuk secara strategis, tidak sekadar sebagai penonton, tapi sebagai game-changer.

Fenomena pertemuan antara game dan dakwah ini mungkin akan ditertawakan oleh sebagian kalangan yang masih memandang agama sebagai domain eksklusif masjid dan mimbar. Tapi di dunia yang terus berubah, terutama di tengah generasi digital yang mulai meninggalkan ruang-ruang keagamaan tradisional, kita perlu memikirkan ulang di mana dan bagaimana Islam seharusnya hadir.

Game, dengan segala daya tarik dan interaktivitasnya, bisa menjadi medium yang sangat potensial untuk menyampaikan pesan Islam yang damai, inklusif, dan membumi. Tapi tentu saja, itu hanya bisa terjadi jika kita bersedia turun ke arena dan ikut bermain dengan strategi, nilai, dan visi keislaman yang jelas.

Jangan sampai, game yang bisa menjadi jembatan justru dibiarkan menjadi jurang. Dan dakwah yang seharusnya mendekatkan, malah makin menjauh karena kita terlalu takut beradaptasi.

Leave a Comment

Related Post