Harakatuna.com. Doha — Pemerintah Israel memutuskan untuk menarik tim negosiasinya dari ibu kota Qatar, Doha, pada Kamis (24/7), menyusul tanggapan terbaru dari Hamas terkait proposal gencatan senjata dan pertukaran tahanan. Penarikan ini dilakukan untuk konsultasi internal lebih lanjut di Tel Aviv.
“Menyusul tanggapan yang disampaikan Hamas pagi ini, telah diputuskan untuk mengembalikan tim negosiasi untuk konsultasi tambahan di Israel,” demikian pernyataan resmi dari kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, seperti dikutip oleh kantor berita Anadolu.
Pernyataan itu juga menyampaikan apresiasi terhadap upaya negara-negara penengah dalam perundingan. “Kami menghargai upaya para mediator, Qatar dan Mesir, serta utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dalam mencoba mencapai terobosan dalam proses ini,” lanjut pernyataan tersebut.
Meskipun penarikan tim negosiasi ini menimbulkan kekhawatiran tentang kelanjutan proses perdamaian, seorang pejabat Israel yang berbicara kepada lembaga penyiaran publik KAN secara anonim menyebut langkah tersebut bukan sinyal kegagalan.
“Ini adalah langkah terkoordinasi antara semua pihak. Keputusan penting harus diambil, itulah sebabnya tim kembali ke Israel. Namun, momentumnya tetap positif,” ungkap pejabat tersebut.
Sebelumnya, Hamas menyatakan telah menyampaikan respons resmi terhadap proposal terbaru, bersama dengan masukan dari faksi-faksi Palestina lainnya, kepada para mediator internasional. Meski tidak diungkapkan secara publik, tanggapan tersebut kini tengah dikaji oleh pihak Israel.
Menurut laporan Channel 12, dalam tanggapannya Hamas meminta pembebasan 200 warga Palestina yang divonis hukuman seumur hidup atas tuduhan membunuh warga Israel, sebagai imbalan untuk 10 sandera Israel yang masih hidup. Hamas juga menuntut pembebasan 2.000 tahanan Palestina lainnya yang ditahan sejak dimulainya agresi Israel ke Gaza pada 7 Oktober 2023.
Padahal, berdasarkan proposal awal yang dilaporkan telah diterima Israel, pertukarannya hanya mencakup pembebasan 125 narapidana seumur hidup serta 1.200 tahanan lainnya yang ditangkap selama konflik.
Sumber militer yang dikutip Israel Hayom menyebut bahwa pasukan pertahanan Israel kini bersiap untuk memperluas operasi darat di Gaza, menyusul tanggapan yang dianggap belum memuaskan dari Hamas.
Seorang sumber lain yang mengetahui isi negosiasi mengungkapkan kepada media yang sama bahwa penarikan tim Israel dari Doha justru mencerminkan ketegangan yang meningkat.
“Langkah ini bukan pertanda positif,” kata sumber tersebut, sembari menuding Hamas sebagai pihak yang menghambat tercapainya kesepakatan damai. “Hamas terus menempatkan hambatan dalam proses negosiasi.”
Hingga saat ini, Israel memperkirakan ada sekitar 50 warganya yang masih disandera di Gaza, termasuk 20 orang yang diyakini masih hidup. Di sisi lain, lebih dari 10.800 warga Palestina ditahan di penjara-penjara Israel. Laporan dari berbagai lembaga hak asasi manusia menyebut bahwa para tahanan Palestina mengalami perlakuan buruk, termasuk penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis, yang telah menyebabkan banyak kematian.
Negosiasi tidak langsung antara Israel dan Hamas dimulai pada 6 Juli di Doha, dengan mediasi Qatar dan Mesir serta dukungan dari Amerika Serikat. Tujuan utama dari perundingan ini adalah untuk mencapai gencatan senjata permanen dan kesepakatan pertukaran tahanan di tengah konflik yang terus berkecamuk di Jalur Gaza.








Leave a Comment