Harakatuna.com – Beberapa hari lalu, di Bandung, komunitas Yuk Ngaji menggelar event yang berbayar, mewah, dan penuh propaganda dengan judul Ittiba’; Disconnect. Untuk diketahui, Yuk Ngaji Adalah komunitas HTI yang diampu oleh dai-influencer kenamaan, yaitu Felix Siauw. Isinya adalah para ideolog HTI, misalnya Fuadh Na’im dan Yuana Ryan Tresna—nama terakhir ini pernah viral karena propaganda film Jejak Khilafah di Nusantara, pada 2020 silam.
Menarik dicatat bahwa, Ittiba’ yang bertajuk Disconnect kemarin bukan sekadar soal gaya hijrah anak muda, bukan pula sekadar tentang teatrikal islami dan stand-up comedy bertema hijrah. Ia adalah medan tempur baru, ladang baru HTI. HTI memang sudah dibubarkan secara resmi oleh negara sejak 2017 karena tidak sejalan dengan ideologi Pancasila dan NKRI. Namun apakah pembubaran formal itu efektif? Seratus persen tidak.
Perppu Ormas tidak serta-merta membungkam suara para propagandis khilafah. HTI tidak mati. Ia hanya berganti wujud, menyelinap dalam bayang-bayang ruang publik digital, memanfaatkan kelengahan negara dan romantisme umat terhadap sejarah Islam yang telah mereka manipulasi. Yuk Ngaji yang diasuh Felix Siauw berselancar di atas gelombang budaya hijrah anak muda, dan menjadi instrumen penyusupan ideologis-transnasional.
Apa Itu Ittiba’; Disconnect?
Secara letterlijk, Ittiba’ Disconnect tampak seperti program dakwah yang memadukan budaya visual, retorika motivasional, dan kajian sejarah dalam format teater. Tapi di balik istilah disconnect dan ittiba’ yang tampaknya religius itu, terdapat racikan makna yang dipelintir untuk kepentingan agenda politik HTI. Dan ironisnya, itu propaganda berbahaya yang pemerintah gagal untuk deteksi dan cegah.
Ittiba’ adalah istilah fikih yang bermakna mengikuti, yakni mengikuti sunnah Rasulullah Saw. Tak ada Muslim waras yang menolak pentingnya ittiba’ kepada Nabi. Tapi dalam propaganda HTI, ittiba’ dipersempit hanya pada aspek politik: bahwa mengikuti Nabi Saw. artinya adalah mengikuti sistem pemerintahan Nabi, yaitu khilafah. Untuk itu, dalam propaganda HTI, satu-satunya jalan ialah menegakkan politik islami: negara khilafah ala HTI.
Sementara itu, disconnect dimaknai sebagai keadaan umat Islam yang tidak nyambung dengan syariat Islam karena tidak hidup dalam sistem khilafah. Demokrasi, nasionalisme, NKRI, bahkan sistem hukum positif yang berlaku hari ini HTI sebut sebagai disconnect dari ajaran Rasul. HTI mengklaim representasi eksklusif ajaran Islam, sekaligus secara sistematis merongrong kepercayaan publik terhadap sistem negara.
Ittiba’ bukan sekadar dakwah. Ia adalah upaya delegitimasi sistem negara dengan bahasa yang islami, dan itulah titik paling berbahaya dari acara-acara diam-diam yang dilarang untuk merekam dan memvideokan itu. Ittiba’ adalah jurus baru propaganda HTI; propaganda yang tidak frontal, tidak keras, tapi melalui soft propaganda yang menyusup generasi Muslim dan rindu Rasulullah. HTI memanfaatkan kepolosan umat untuk kepentingan ideologisnya.
Jadi, acara Ittiba’ Disconnect bukan forum diskusi terbuka. Ia adalah teater ideologi satu arah. Di dalamnya, semua kerusakan sosial dianggap bersumber dari absennya khilafah. Mereka menampilkan narasi bahwa umat Islam tertindas karena tidak menjalankan “sistem Nabi”, yaitu sistem pemerintahan Islam. Semua problematika umat diikat dalam satu benang merah simplistik: semua itu akan selesai jika umat kembali kepada khilafah. Bahaya!
Dalam narasi itu, NKRI dianggap menjadi penghalang karena demokrasi merupakan sistem kafir-Barat. Pemilu, partai politik, pluralisme, bahkan konstitusi, semuanya dianggap sebagai bentuk disconnect umat dari Islam sehati ala Nabi. Jelas, propaganda tersebut bukan lagi soal ibadah atau moralitas, melainkan bentuk paling brutal dari pemanfaatan simbol Nabi Saw. untuk membajak kesetiaan umat kepada negara.
Mengapa negara diam? Usut semua pihak yang terlibat dalam propaganda baru HTI tersebut!








Leave a Comment