Harakatuna.com. Teheran– Iran, Rusia, dan China akan mengadakan perundingan trilateral pada hari Selasa untuk membahas masa depan program nuklir Iran di tengah ancaman sanksi baru dari negara-negara Eropa. Hal ini diumumkan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam konferensi pers pada hari Senin.
Menurut Baghaei, selain membahas perkembangan terkini seputar program nuklir, pertemuan itu juga akan difokuskan pada ancaman dari Inggris, Prancis, dan Jerman—tiga negara yang tergabung dalam perjanjian nuklir 2015—yang telah menyatakan kemungkinan untuk menerapkan kembali sanksi PBB jika Iran tidak menunjukkan kemajuan signifikan dalam membatasi aktivitas nuklirnya.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, pekan lalu memperingatkan bahwa Paris dan sekutunya akan mempertimbangkan penerapan kembali sanksi bulan depan apabila Iran tidak menunjukkan itikad baik dalam mengurangi tingkat pengayaan uranium.
“Kami terbuka untuk diplomasi, tetapi jika tidak ada perubahan substansial, langkah-langkah tekanan akan kembali dipertimbangkan,” ujar Barrot dalam pernyataan tertulis kepada media Eropa.
Baghaei menanggapi ancaman tersebut dengan menegaskan bahwa tidak ada dasar hukum untuk menerapkan kembali sanksi yang sebelumnya telah dicabut berdasarkan kesepakatan nuklir yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). “Secara hukum dan logistik, tidak ada alasan untuk menerapkan kembali sanksi yang sudah dicabut berdasarkan kesepakatan nuklir 2015,” tegas Baghaei.
Baghaei menambahkan bahwa Iran telah menjalin komunikasi intensif dengan Rusia dan China, dua negara yang tetap menjadi anggota JCPOA dan memegang peran penting di Dewan Keamanan PBB. “Kami telah melakukan konsultasi yang baik dengan Moskow dan Beijing. Mereka tetap berkomitmen terhadap penyelesaian isu nuklir Iran melalui jalur diplomatik dan menolak penggunaan tekanan sepihak,” ujarnya.
Kedua negara tersebut sebelumnya juga menyatakan bahwa ketegangan seputar program nuklir Iran sebaiknya diselesaikan secara damai dan melalui mekanisme internasional, bukan dengan ancaman atau aksi militer.
Pertemuan dengan Tiga Negara Eropa
Selain perundingan dengan Rusia dan China, Iran juga dijadwalkan menggelar pembicaraan terpisah dengan perwakilan Inggris, Prancis, dan Jerman di Istanbul pada hari Jumat mendatang. Pertemuan ini akan berlangsung di tingkat wakil menteri luar negeri.
Meski begitu, Baghaei menegaskan bahwa Iran saat ini tidak memiliki rencana untuk membuka kembali dialog langsung dengan Amerika Serikat. “Saat ini tidak ada pembicaraan dengan pihak AS yang direncanakan,” katanya.
Ketegangan meningkat sejak Iran menangguhkan sebagian kerja samanya dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Teheran menuduh badan pengawas nuklir PBB itu menerbitkan laporan yang tidak obyektif, yang menurut Iran dimanfaatkan oleh Israel sebagai dalih untuk melancarkan serangan militer selama 12 hari ke wilayah Iran.
Serangan tersebut terjadi setelah kebuntuan dalam negosiasi nuklir antara Iran dan AS, yang gagal mencapai kesepakatan akibat desakan Washington agar Teheran sepenuhnya menghentikan program pengayaan uranium.
Sementara AS mencurigai bahwa kapasitas pengayaan uranium Iran dapat dimanfaatkan untuk memproduksi senjata nuklir, Teheran berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk tujuan damai dan mendukung sektor energi sipil dalam negeri.
Rusia dan China kembali menyerukan agar semua pihak mengedepankan diplomasi. Kedua negara tersebut menyatakan bahwa solusi atas isu nuklir Iran hanya dapat dicapai melalui dialog politik yang konstruktif.








Leave a Comment