Harakatuna.com. Jakarta – Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, mengeluarkan peringatan keras kepada publik mengenai bahaya penyebaran ideologi radikal yang dikemas dalam bentuk literasi intelektual. Salah satu gerakan yang menjadi sorotannya adalah kampanye buku Indonesia Gelap, yang menurutnya mengandung narasi pesimisme dan anti-pemerintah, serta ditunggangi oleh kelompok eks Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk menyebarluaskan paham khilafah dan intoleransi.
Ken menegaskan bahwa gerakan literasi ini bukanlah upaya biasa dalam menyuarakan kritik terhadap kondisi bangsa. Ia menduga kuat adanya keterlibatan tokoh-tokoh yang memiliki latar belakang dalam jaringan dakwah HTI di balik kampanye tersebut.
“Arah narasinya jelas, membangkitkan emosi publik, memantik kebencian terhadap sistem yang ada, dan secara halus menggiring opini ke arah ideologi khilafah sebagai solusi,” kata Ken Setiawan kepada wartawan, Selasa (23/7).
Buku Indonesia Gelap yang diterbitkan oleh Penerbit Lakeisha merupakan kumpulan tulisan dari sejumlah aktivis muslim dan akademisi. Namun, beberapa nama penulis seperti Kusnadi Ar-Razy, Azizi Fathoni K, Pompy Syaiful Rizal, Utsman Zahid, Hasbi Aswar, Titok Priastomo, Doni Riw, dan Arief B. Iskandar disebut-sebut memiliki rekam jejak dalam memproduksi konten dakwah yang mengusung ide-ide HTI.
Menurut Ken, para penulis tersebut kerap menyuarakan sistem khilafah, menolak demokrasi, dan terlibat dalam penyebaran buletin Kaffah serta kajian kitab dengan narasi transnasional.
“Konten-konten mereka banyak beredar di YouTube, Instagram, dan blog pribadi. Meski berlabel akademisi, dosen, atau peneliti, namun garis pemikiran mereka tetap sama: menyebarkan ide khilafah dengan pendekatan yang lebih halus dan intelektual,” ungkapnya.
Ken juga menyoroti keterlibatan tidak langsung politisi Hanafi Rais, yang menurutnya kerap diberi panggung oleh simpatisan HTI bersama sang ayah, Amien Rais. Keduanya dinilai aktif dalam menyuarakan pembelaan terhadap ide-ide khilafah di berbagai forum.
Lebih lanjut, Ken menyebut strategi HTI ini bukanlah hal baru. Ia menilai bahwa kelompok tersebut terus beradaptasi dan menyusup ke berbagai sektor, termasuk gerakan mahasiswa hingga kampanye literasi.
“Apa yang tidak ditunggangi oleh HTI? Aksi 212 mereka sasar, mahasiswa mereka dekati, bahkan gerakan literasi pun mereka manfaatkan. Ini bukti kuat bahwa HTI belum mati—mereka masih eksis dan aktif berkamuflase dalam berbagai bentuk,” tegasnya.
Ken mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda dan pengguna media sosial, agar lebih kritis terhadap narasi-narasi yang dibungkus dalam kesan ilmiah namun mengandung pesan ideologis yang memecah belah.
“Literasi itu penting, tapi jika ujungnya merusak persatuan bangsa dan mengarah pada upaya mengganti sistem negara, maka itu bukan lagi literasi. Itu propaganda terselubung,” pungkasnya.







Leave a Comment