Ketua FKPT Aceh Peringatkan Bahaya Radikalisasi Lewat Media Sosial

Ahmad Fairozi, M.Hum.

23/07/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Banda Aceh – Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh, Wiratmadinata, mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap radikalisasi pemikiran yang berkembang di tengah masyarakat, baik secara individu maupun kelompok. Ia menilai, fenomena ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kondisi pribadi, keluarga, dan lingkungan sosial.

“Radikalisasi terjadi karena banyak faktor yang memengaruhi sistem keyakinan, persepsi, dan konsep berpikir seseorang. Semuanya membentuk sistem pengetahuan yang kemudian berkembang dalam kognisi publik,” ujar Wiratmadinata saat memberikan pembekalan kepada puluhan perwira muda Polda Aceh yang baru menyelesaikan pendidikan Sekolah Inspektur Polisi (Secapa) Polri, Selasa (22/7/2025).

Menurutnya, media sosial menjadi medium dominan dalam proses transformasi informasi tersebut. Ia menekankan bahwa jika tidak digunakan secara bijak, media sosial dapat menjadi saluran penyebaran hoaks dan manipulasi data yang menumbuhkan kebencian antar kelompok.

“Media sosial berperan besar dalam membentuk opini dan persepsi publik. Sayangnya, jika disalahgunakan, platform seperti WhatsApp, Facebook, atau Instagram bisa menjadi tempat berkembangnya ujaran kebencian dan provokasi,” jelasnya.

Ia juga menyoroti bagaimana media sosial digunakan untuk menyebarkan narasi-narasi menyesatkan yang memicu rasa frustasi dan kekecewaan dalam masyarakat, yang berujung pada tindakan radikal. “Begitulah proses terjadinya radikalisasi. Ini menjadi lahan subur bagi tumbuhnya mentalitas kekerasan yang bisa berujung pada aksi teror,” katanya.

Lebih lanjut, Wiratmadinata mengajak para perwira muda tersebut untuk aktif mengedukasi masyarakat guna mencegah radikalisasi. Salah satu pendekatan yang ia sarankan adalah memberikan informasi yang akurat terhadap isu-isu sensitif yang seringkali diputarbalikkan.

“Para pelaku terorisme saat ini tidak lagi bergerak secara fisik di lapangan sejak awal. Mereka memulai aksinya dari balik layar komputer—menyebarkan propaganda, menyulut kebencian terhadap negara, bahkan hingga merencanakan kekerasan. Semua dilakukan lewat media sosial, mulai dari cuci otak, penggalangan dana, hingga rekrutmen pelaku,” pungkasnya.

Leave a Comment

Related Post