Harakatuna.com. Damaskus — Angkatan Udara Israel dilaporkan telah menggempur markas besar Staf Umum militer Suriah di Damaskus, dalam serangan udara terbaru yang dikonfirmasi oleh sumber keamanan Israel kepada Radio Angkatan Darat. Serangan ini merupakan bagian dari operasi berkelanjutan Israel di tengah meningkatnya ketegangan militer di wilayah Suwayda, Suriah selatan, yang dihuni oleh komunitas Druze.
Langkah militer Israel ini terjadi setelah janji tegas pemerintah Israel untuk melindungi komunitas Druze di Suriah, yang diklaim tengah menghadapi ancaman dari pasukan pemerintah Suriah dan kelompok milisi yang didukung rezim Bashar al-Assad.
Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, menyatakan bahwa Israel tidak akan tinggal diam melihat kekerasan terhadap komunitas Druze. Ia menegaskan bahwa peringatan terhadap Damaskus telah berakhir, dan operasi militer Israel akan berlanjut hingga ancaman terhadap Druze benar-benar dihapus. “Kami akan terus beroperasi dengan tegas di Suwayda untuk menghancurkan pasukan yang menyerang komunitas Druze — hingga mereka mundur sepenuhnya,” ujar Gallant, Kamis (17/7).
Ia juga memperingatkan bahwa serangan Israel bisa meningkat dalam skala dan intensitas jika tuntutan Israel tidak diindahkan. “Tingkat respons kita akan segera meningkat jika pesan ini tidak dipahami. Kami akan menegakkan kebijakan perlucutan senjata yang telah kami adopsi,” tegasnya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyampaikan pesan khusus kepada warga Druze Israel dan publik luas. Dalam pernyataan resminya, ia menyoroti situasi genting yang sedang berlangsung di barat daya Suriah. “Warga Druze Israel, situasi di Suwayda dan Suriah barat daya sangat berbahaya,” kata Netanyahu.
“Tentara Israel sedang beraksi, angkatan udara sedang beraksi, dan pasukan lainnya pun bergerak. Kami berusaha menyelamatkan saudara-saudara Druze kami dan melenyapkan milisi rezim,” lanjutnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Suriah maupun media nasional yang mengonfirmasi atau mengomentari serangan udara Israel ke Damaskus. Namun, berbagai laporan dari lapangan menunjukkan bahwa ketegangan di wilayah Suwayda kian meningkat.
Menurut sumber-sumber lokal, pasukan pemerintah Suriah telah merebut kembali kendali atas pusat kota Suwayda setelah bentrokan dengan kelompok-kelompok bersenjata lokal yang sebelumnya disebut rezim sebagai “kelompok terlarang.” Sementara itu, kelompok-kelompok tersebut dikabarkan mundur ke wilayah pedesaan di selatan dan timur provinsi.
Wilayah Suwayda dihuni oleh mayoritas warga Druze dan selama konflik Suriah berlangsung, wilayah ini sempat menjadi relatif tenang. Namun dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan meningkat setelah faksi lokal menolak campur tangan militer rezim Assad dan menyerukan otonomi yang lebih besar.
Israel, yang memiliki populasi besar warga Druze, telah memantau situasi dengan saksama dan menyatakan bahwa keselamatan komunitas Druze di Suriah adalah “garis merah” yang tidak boleh dilanggar. “Seperti yang telah kami tegaskan dan peringatkan, Israel tidak akan meninggalkan Druze di Suriah,” tegas Gallant.
Serangan udara ke Damaskus ini menjadi sinyal bahwa Israel siap melakukan intervensi militer lebih jauh untuk melindungi kepentingan keamanan dan etnis Druze di kawasan. Di sisi lain, hal ini meningkatkan risiko eskalasi konflik lintas batas di wilayah yang sudah lama dilanda ketidakstabilan geopolitik.








Leave a Comment