Harakatuna.com. Berlin — Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan kecaman keras terhadap rencana kontroversial Pemerintah Israel yang berencana merelokasi seluruh warga Palestina di Jalur Gaza ke sebuah kamp yang disebut sebagai “kota kemanusiaan” di wilayah Rafah, Gaza Selatan. Menurut Merz, langkah tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia (HAM) dan tidak dapat diterima oleh komunitas internasional.
“Apa yang sedang terjadi di Jalur Gaza saat ini tidak bisa diterima,” ujar Merz dalam wawancara dengan stasiun televisi publik Jerman, ARD, pada Minggu (13/7), seperti dikutip Anadolu Agency, Senin (14/7).
Merz mengungkapkan bahwa dirinya telah menyampaikan secara langsung penolakannya terhadap kebijakan tersebut kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam percakapan telepon sebelumnya. “Saya tidak menyukai apa yang telah dilakukan Pemerintah Israel di Jalur Gaza selama berminggu-minggu, dan saya juga telah menyatakannya langsung,” tegas Merz.
Dalam pernyataannya, pemimpin konservatif dari Uni Demokratik Kristen (CDU) tersebut menekankan perlunya peran aktif negara-negara Eropa bersama Amerika Serikat dalam mendorong penyelesaian damai yang adil dan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa solusi dua negara tetap menjadi satu-satunya jalan keluar jangka panjang bagi konflik Israel-Palestina.
“Saya berharap kita, sebagai bangsa Eropa bersama Amerika, dapat menciptakan solusi yang pada akhirnya menuju solusi dua negara. Warga Palestina memiliki hak untuk memiliki tempat tinggal mereka sendiri,” kata Merz.
Pernyataan Merz ini menyusul kebijakan terbaru Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang pekan lalu memerintahkan militer untuk mempersiapkan pemindahan seluruh penduduk Gaza ke area di Rafah yang disebut sebagai “kota kemanusiaan”. Katz menggambarkan zona tersebut sebagai tempat penampungan sementara sebelum warga Gaza diberikan opsi untuk beremigrasi ke negara lain.
Rencana ini memicu kecaman luas dari masyarakat internasional, termasuk lembaga-lembaga HAM dan organisasi kemanusiaan, yang menilainya sebagai bentuk pembersihan etnis secara sistematis. Para pengamat menilai, alih-alih meredakan konflik, kebijakan ini justru memperparah penderitaan warga Palestina yang telah lama hidup di bawah blokade dan agresi militer Israel.
Menanggapi situasi yang semakin memburuk, Merz kembali menyerukan perlunya tekanan internasional terhadap Israel agar segera menghentikan kekerasan dan membuka akses bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. “Langkah-langkah diplomatik harus segera ditempuh. Situasi di Gaza adalah krisis kemanusiaan yang mendesak, dan dunia tidak boleh tinggal diam,” ujar Merz.
Merz juga meminta peningkatan bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza yang kini menghadapi kehancuran besar akibat serangan militer dan blokade ketat yang terus diberlakukan oleh Israel.








Leave a Comment