Upaya Gencatan Senjata di Gaza Masih Buntu, Israel Dituding Perkuat Cengkeraman Militer

Ahmad Fairozi, M.Hum.

12/07/2025

3
Min Read
Upaya Gencatan Senjata di Gaza Masih Buntu, Israel Dituding Perkuat Cengkeraman Militer

Harakatuna.com. Doha – Upaya internasional untuk mencapai gencatan senjata permanen di Jalur Gaza masih mengalami kebuntuan, di tengah tudingan bahwa Israel terus memaksakan syarat yang memperkuat kendali militernya atas wilayah yang terkepung tersebut.

Seorang sumber dari pihak Palestina mengatakan kepada Al Mayadeen pada Kamis (10/7) bahwa perundingan sejauh ini belum menunjukkan hasil signifikan. “Situasinya sangat sulit dan kompleks. Tidak ada kesepakatan yang tercapai sejauh ini karena sikap keras kepala dari pihak pendudukan yang terus menjadi hambatan utama,” ungkap sumber tersebut, yang tak disebutkan namanya karena alasan keamanan.

Menurut sumber itu, delegasi Israel bersikeras untuk mempertahankan kontrol atas lebih dari sepertiga wilayah Gaza. Selain itu, Tel Aviv disebut menuntut otoritas penuh atas kota Rafah serta tetap mempertahankan zona penyangga militer selebar lebih dari dua kilometer di sepanjang perbatasan timur dan utara Gaza.

Tak hanya itu, Israel juga diduga berupaya mempertahankan mekanisme distribusi bantuan kemanusiaan yang saat ini berlaku—rute-rute yang telah dikritik keras oleh warga Palestina sebagai “jebakan maut” karena membahayakan keselamatan sipil. “Rute-rute bantuan yang ditetapkan secara sepihak oleh pendudukan telah berulang kali menempatkan warga dalam bahaya dan menghambat akses terhadap bantuan penting,” tambah sumber tersebut.

Di sisi lain, gerakan Perlawanan Palestina, Hamas, menyatakan tetap berkomitmen pada upaya perdamaian. Dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis pada Rabu (9/7), Hamas menyatakan bahwa pihaknya “secara serius dan positif” terlibat dengan para mediator. “Kami bertekad untuk mengatasi berbagai hambatan yang sengaja diciptakan oleh pendudukan Israel,” tulis pernyataan Hamas.

Hamas juga menekankan bahwa tiga tuntutan utama mereka belum dipenuhi: penarikan penuh pasukan Israel dari seluruh wilayah Gaza, dibukanya akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, serta penghentian permanen atas seluruh bentuk permusuhan.

Awal pekan ini, Hamas bersama dengan faksi-faksi Palestina lainnya telah menyerahkan tanggapan kolektif kepada para mediator sebagai wujud konsensus nasional mengenai syarat-syarat gencatan senjata.

Israel: Gencatan Senjata Harus Sertakan Pelucutan Senjata Hamas

Namun, di pihak Israel, pemerintah tetap bersikukuh bahwa syarat utama dari gencatan senjata adalah pelucutan senjata Hamas secara total. “Jika Hamas menolak, kami akan lanjutkan operasi militer,” kata seorang pejabat Israel, mengindikasikan bahwa eskalasi masih sangat mungkin terjadi jika tuntutan Tel Aviv tidak dipenuhi.

Proposal sementara dari Amerika Serikat, yang disebut-sebut sebagai bagian dari inisiatif pemerintahan Trump, mencakup gencatan senjata selama 60 hari, penarikan militer secara bertahap, serta pertukaran tahanan. Namun, proposal tersebut menuai kekhawatiran dari warga Palestina yang menilai langkah itu bisa menjadi alat untuk mempertahankan dominasi Israel dan menunda solusi jangka panjang.

Sementara perundingan terus menemui jalan buntu, situasi di lapangan kian memburuk. Pada Rabu (9/7), serangan udara Israel dilaporkan menargetkan warga sipil yang tengah mengantre bantuan pangan di Deir al-Balah, Gaza tengah. Serangan tersebut menewaskan dan melukai sejumlah warga sipil, menambah panjang daftar korban di tengah meningkatnya krisis kelaparan.

Data terbaru menyebutkan bahwa jumlah korban tewas di Gaza telah melampaui 57.000 jiwa, akibat serangan udara, kelaparan, dan pengungsian besar-besaran sejak konflik memuncak pada 7 Oktober 2023.

Leave a Comment

Related Post