Harakatuna.com. Rio de Janeiro – Negara-negara anggota BRICS secara tegas mengecam eskalasi kekerasan di Timur Tengah, termasuk serangan militer terhadap Iran, aksi terorisme di Suriah, serta pendudukan Israel atas wilayah Suriah. Dalam pernyataan bersama yang dirilis saat KTT BRICS ke-17 di Brasil, blok tersebut juga menegaskan bahwa Jalur Gaza merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Palestina.
“Kami mengutuk serangan militer terhadap Republik Islam Iran sejak 13 Juni 2025, yang merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa,” demikian bunyi deklarasi bersama yang dirilis pada Minggu (7/7), seperti dilaporkan kantor berita Anadolu. “Kami juga menyatakan keprihatinan mendalam atas memburuknya situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.”
Blok yang kini beranggotakan 11 negara tersebut juga menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB agar segera mengambil tindakan terkait situasi yang berkembang. “Dalam konteks ini, kami menegaskan kembali dukungan kami terhadap berbagai inisiatif diplomatik untuk menyelesaikan tantangan di kawasan ini,” lanjut pernyataan tersebut.
Ketegangan antara Israel dan Iran memuncak pada 13 Juni 2025, saat Israel meluncurkan serangan udara terhadap sejumlah sasaran strategis di Iran, termasuk fasilitas militer, nuklir, dan sipil. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan bahwa serangan tersebut menyebabkan sedikitnya 935 korban jiwa dan lebih dari 5.300 orang terluka.
Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan rudal dan drone yang menewaskan 29 orang dan melukai lebih dari 3.400 orang di wilayah Israel, menurut data dari Universitas Ibrani Yerusalem. Konflik ini akhirnya mereda setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat dan mulai berlaku pada 24 Juni 2025.
Dalam pernyataannya, BRICS juga “dengan keras” mengutuk pendudukan wilayah Suriah oleh Israel, menyebut tindakan itu sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan Perjanjian Penarikan Pasukan tahun 1974.” Mereka mendesak Israel untuk segera menarik pasukannya dari wilayah tersebut tanpa syarat.
Selain itu, blok tersebut menyambut baik pencabutan sanksi sepihak terhadap Suriah, menyatakan bahwa langkah itu dapat membuka jalan bagi stabilisasi dan rekonstruksi negara tersebut pasca konflik.
BRICS kembali menegaskan komitmennya terhadap hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, termasuk pendirian negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota. Jalur Gaza ditegaskan sebagai “bagian yang tidak terpisahkan” dari wilayah Palestina yang sah secara hukum internasional.
KTT BRICS ke-17 yang berlangsung di Rio de Janeiro diadakan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk perang yang terus berlanjut di Ukraina serta konflik dan kekerasan yang terjadi di Gaza dan Iran. Iran, yang bergabung dengan BRICS pada tahun 2024, kini menjadi salah satu titik fokus pertemuan dua hari tersebut.
BRICS pertama kali dibentuk pada 2009 oleh Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok. Afrika Selatan bergabung pada 2010. Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok ini berkembang dengan masuknya Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Ethiopia, Indonesia, dan Iran, sehingga memperkuat blok menjadi 11 negara anggota dan 10 mitra strategis.
Aliansi ini berupaya menciptakan sistem keuangan alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS, serta memperkuat suara dan pengaruh negara-negara Global Selatan di forum-forum internasional.








Leave a Comment