BNPT: Perempuan Bisa Jadi Kunci Cegah Radikalisme

Ahmad Fairozi, M.Hum.

06/07/2025

3
Min Read
BNPT: Perempuan Bisa Jadi Kunci Cegah Radikalisme

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta — Meningkatnya keterlibatan perempuan dalam jaringan terorisme menjadi perhatian serius Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Untuk merespons fenomena ini, BNPT menegaskan pentingnya pendekatan literasi berbasis kemanusiaan guna mencegah perempuan terpapar ideologi ekstrem dan kekerasan.

Salah satu langkah konkret yang mendapat apresiasi dari BNPT adalah peluncuran buku “Keluar dari Jerat Kekerasan” karya Dr. Leebarty Taskarina. Buku ini memuat kisah nyata 20 perempuan Indonesia yang pernah terlibat dalam jaringan terorisme, sekaligus menggambarkan proses mereka dalam melepaskan diri dari lingkaran kekerasan.

“Peluncuran buku ini patut diapresiasi karena membuka ruang refleksi. Kita jadi tahu bagaimana dan mengapa perempuan, yang identik dengan nilai keibuan dan kedamaian, bisa menjadi aktor dalam aksi terorisme,” ujar Kepala Subdirektorat Intelijen BNPT, Kombes Pol Bayu Wijanarko, pada Sabtu (5/7/2025).

Bayu menjelaskan bahwa peran perempuan dalam jaringan teroris kini mengalami transformasi signifikan. Jika dulu mereka lebih sering berperan sebagai pendukung logistik atau pengasuh ideologi dalam keluarga, kini perempuan juga terlibat langsung dalam aksi teror, termasuk perencanaan bom bunuh diri. “Transformasi ini harus ditanggapi secara serius. Kita perlu strategi pencegahan yang tidak hanya berbasis keamanan, tetapi juga melibatkan perempuan sebagai bagian dari solusi,” tegas Bayu.

Ia menambahkan bahwa perempuan memiliki potensi besar sebagai agen pencegahan radikalisme di akar rumput, khususnya dalam membangun ketahanan ideologis di lingkungan keluarga.

Lonjakan Keterlibatan Perempuan

Pakar terorisme Solahudin juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap tren meningkatnya keterlibatan perempuan sebagai pelaku tindak pidana terorisme. Berdasarkan penelitiannya, jumlah perempuan yang terlibat dalam aktivitas teror melonjak drastis. “Dulu hanya belasan, sekarang sekitar 55 perempuan terlibat. Ini peningkatan lima kali lipat dibanding era sebelumnya,” ungkap Solahudin.

Menurutnya, kelompok teroris memanfaatkan faktor media. Keterlibatan perempuan dianggap lebih ‘mengguncang’ publik sehingga mampu menarik perhatian luas. “Jika laki-laki yang jadi pelaku teror, itu sudah dianggap biasa. Tapi ketika perempuan yang terlibat, publik bereaksi lebih kuat. Ini yang dimanfaatkan oleh jaringan teror,” tambahnya.

Buku “Keluar dari Jerat Kekerasan” tidak hanya menyajikan kisah-kisah personal, tapi juga menjadi medium edukasi yang mengedepankan pendekatan humanistik. Dr. Leebarty Taskarina menulis buku ini dengan tujuan membuka perspektif baru dalam memahami radikalisasi perempuan.

“Saya berharap buku ini dibaca dengan lensa kemanusiaan, bukan dengan penghakiman. Dengan memahami kompleksitas latar belakang mereka, kita bisa merancang strategi pencegahan yang lebih adil dan efektif,” kata Leebarty.

Melalui pendekatan naratif, buku ini menggali aspek sosial, psikologis, hingga spiritual yang memengaruhi keputusan perempuan untuk masuk dan keluar dari jaringan ekstremis. Bayu juga menekankan pentingnya peran ibu dan perempuan dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap paham radikal. Menurutnya, literasi ideologis di lingkungan keluarga sangat krusial dalam mencegah penyebaran paham ekstrem.

“Kalau ekstremisme sudah melibatkan perempuan, maka pencegahannya juga harus menjadikan perempuan sebagai ujung tombak,” ujarnya.

BNPT mendorong sinergi antara akademisi, penulis, dan organisasi perempuan agar narasi kontra-radikalisasi lebih membumi dan menyentuh langsung masyarakat.

Leave a Comment

Related Post