Judul: Semangat Nasionalisme dalam Bingkai Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara, Penulis: Ketut Rusmulyani, Penerbit: Nizamia Learning Center, Tahun Terbit: Agustus 2020, Jumlah Halaman: ix + 138 halaman, Ukuran: 15,5 cm x 23 cm, ISBN: 978-623-265-196-8, Peresensi: Muhammad Nur Faizi.
Harakatuna.com – Banyak orang berteriak “NKRI Harga Mati”, namun tidak paham esensi dari berbangsa dan bernegara. Ironisnya, nasionalisme kerap dijadikan jargon politik atau alat propaganda sesaat tanpa menyentuh akar realitas sosial. Di situlah buku Semangat Nasionalisme dalam Bingkai Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara karya Ketut Rusmulyani hadir sebagai koreksi terhadap pemahaman nasionalisme yang kian kehilangan makna di tengah arus globalisasi dan dekadensi moral bangsa.
Diterbitkan oleh Nizamia Learning Center pada tahun 2020, buku Rusmulyani bukan sekadar kumpulan teori kenegaraan, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana nasionalisme seharusnya hadir dalam denyut nadi kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa praktik kehidupan berbangsa dan bernegara hari ini semakin jauh dari semangat ideal yang digagas para pendiri bangsa. Korupsi merajalela, ketimpangan sosial makin tajam, intoleransi meningkat, dan elit politik sibuk dengan kepentingan kelompok. Lalu pertanyaannya: masih relevankah bicara tentang nasionalisme?
Ketut Rusmulyani dalam bukunya justru menantang pembaca untuk kembali mendefinisikan nasionalisme secara kritis. Ia menekankan bahwa nasionalisme bukan soal simbol-simbol kosong seperti mengibarkan bendera atau menyanyikan lagu kebangsaan, tetapi lebih pada bagaimana cinta tanah air diwujudkan dalam tindakan nyata. Menghormati hukum, menjunjung nilai keadilan sosial, merawat perbedaan, dan menjaga keutuhan bangsa, itulah bentuk nyata nasionalisme yang dirindukan (hlm. 21).
Sayangnya, berdasarkan data dari LIPI (2020), indeks integritas nasional Indonesia masih berada di bawah skor ideal, yang menunjukkan lemahnya nilai tanggung jawab kolektif terhadap bangsa. Dalam konteks ini, buku ini menampar kesadaran kita bahwa nasionalisme hari ini sedang “sakit” yang tumpul di tengah kekacauan sosial yang terus terjadi. Ketut tidak menggurui, namun secara perlahan mengajak pembaca untuk merefleksikan ulang peran kita sebagai warga negara.
Pendidikan Karakter yang Teralienasi
Salah satu bagian paling menarik dari buku ini adalah sorotan tajam terhadap pendidikan nasionalisme. Ketut Rusmulyani menyadari betul bahwa pembentukan karakter tidak bisa diserahkan hanya pada seremoni dan hafalan teks Pancasila. Ia menggugat praktik pendidikan yang masih normatif dan kurang menyentuh sisi afektif peserta didik.
Berdasarkan hasil survei Kemendikbudristek tahun 2021, lebih dari 60% siswa SMA tidak dapat menjelaskan makna mendalam dari nilai-nilai Pancasila. Ini bukan sekadar kegagalan kurikulum, tapi juga cerminan dari sistem pendidikan yang gagal membumikan nilai kebangsaan secara kontekstual.
Dalam buku ini, Ketut menyarankan agar pendidikan nasionalisme ditanamkan melalui keteladanan, diskusi kritis, praktik sosial, dan integrasi dalam seluruh mata pelajaran. Ia juga mengusulkan agar media digital dijadikan sarana edukatif, bukan sekadar konsumsi hiburan pasif. Nasionalisme tidak boleh menjadi dogma yang dibebankan pada generasi muda, tapi harus lahir dari kesadaran yang tumbuh dari pengalaman sosial, pemahaman sejarah, dan refleksi terhadap realitas bangsa.
Di tengah era disrupsi digital dan banjir informasi global, pendidikan nasionalisme merupakan sesuatu yang mendesak. Tanpa karakter, bangsa ini hanya akan menjadi sekumpulan individu tanpa arah dan identitas. Ketut melalui bukunya seolah ingin menggugah sistem pendidikan kita, apakah kita sedang mendidik warga negara, atau sekadar menghasilkan tenaga kerja?
Nasionalisme Buta
Salah satu kritik paling tajam dalam buku ini adalah bagaimana nasionalisme sering kali dipraktikkan secara semu. Ketut menyebut bahwa nasionalisme tidak boleh menjadi “agama baru” yang menuntut kesetiaan tanpa logika. Ia harus menjadi semangat hidup yang rasional, etis, dan membebaskan.
Fenomena seperti maraknya ujaran kebencian atas nama patriotisme, intoleransi terhadap minoritas dengan alasan kesatuan bangsa, hingga glorifikasi sejarah tanpa kritik, adalah contoh nyata nasionalisme semu. Ketut menyoroti pentingnya membedakan antara nasionalisme yang inklusif dan nasionalisme eksklusif yang berbahaya. Dalam konteks itu, buku ini menjadi alarm peringatan.
Menurut Laporan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) 2023, nilai toleransi dan partisipasi publik mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir. Artinya, nasionalisme kita kian rentan dimanipulasi demi kepentingan politik sempit. Di sinilah peran buku ini menjadi penting untuk membuka mata kita bahwa nasionalisme tidak boleh buta. Ia harus berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebijaksanaan.
Ketut juga mengajak pembaca untuk tidak terjebak dalam glorifikasi masa lalu. Menghormati sejarah penting, tetapi yang lebih penting adalah belajar darinya untuk membangun masa depan. Ia menekankan bahwa nasionalisme hari ini haruslah progresif yang mampu menjawab tantangan zaman seperti krisis iklim, ketimpangan teknologi, dan ancaman radikalisme global. Nasionalisme seperti ini mutlak diperlukan.
Semangat Nasionalisme dalam Bingkai Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara bukan buku pelajaran PPKn biasa. Ia adalah refleksi tajam terhadap arah bangsa ini. Ketut Rusmulyani menyajikan gagasan yang tegas namun membumi, dengan pendekatan edukatif dan humanistik. Buku ini menyadarkan bahwa nasionalisme bukan soal retorika, tapi soal tanggung jawab, etika, dan tindakan nyata dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi.
Diterbitkan dalam ukuran 15,5 cm x 23 cm, dengan 138 halaman yang dipadukan antara teori, refleksi, dan narasi praktis, buku ini cocok dibaca oleh pelajar, mahasiswa, guru, dosen, hingga pejabat negara yang ingin mengembalikan ruh kebangsaan ke tempatnya semula. Ketut mengajak kita bertanya: Apakah kita benar-benar mencintai bangsa ini, atau hanya mencintai simbol-simbolnya?
Jika kamu mencari bacaan yang tidak sekadar menenangkan hati tetapi juga mengguncang pikiran, maka buku ini adalah jawabannya. Sebuah karya penting di tengah kondisi bangsa yang sedang mencari jati dirinya kembali.








Leave a Comment