Harakatuna.com. Gaza – Serangan udara Israel kembali mengguncang wilayah Gaza Utara pada Jumat dini hari, 4 Juli 2025, waktu setempat. Ledakan-ledakan dahsyat terlihat menerangi langit malam di Jalur Gaza, sebagaimana terekam dalam video yang diambil dari wilayah selatan Israel dan dirilis oleh Kantor Berita Associated Press.
Serangan tersebut merupakan bagian dari kampanye militer Israel yang terus berlanjut, meski di tengah berlangsungnya negosiasi intensif untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan kelompok pejuang Palestina, Hamas.
Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza, jumlah korban tewas akibat operasi militer Israel sejak 7 Oktober 2023 telah melampaui 57.000 jiwa. Lebih dari setengah dari korban tersebut merupakan perempuan dan anak-anak. “Korban terus bertambah setiap hari. Rumah-rumah hancur, keluarga-keluarga terputus, dan anak-anak menjadi yatim,” tulis otoritas kesehatan Gaza dalam pernyataan resminya.
Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas akan benar-benar tercapai. Meski laporan terakhir menyebutkan bahwa negosiasi mulai menunjukkan kemajuan, eskalasi serangan militer masih berlangsung dan menyebabkan jatuhnya korban sipil yang terus meningkat.
Warga Gaza pun dilaporkan mengalami penderitaan yang semakin berat. Selain kehilangan tempat tinggal dan anggota keluarga, mereka juga kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok seperti air bersih, makanan, serta akses layanan medis yang memadai. “Kami tidak tahu sampai kapan ini akan berakhir. Setiap hari kami hidup dalam ketakutan,” ujar Ahmad Salim, seorang warga Gaza yang kehilangan kedua orang tuanya akibat serangan udara pekan lalu.
Kecaman terhadap agresi militer Israel terus berdatangan dari berbagai pihak internasional. Sejumlah organisasi kemanusiaan dan negara-negara sahabat mendesak dihentikannya kekerasan serta menyerukan perlindungan terhadap warga sipil yang menjadi korban utama dalam konflik yang telah berlangsung hampir 21 bulan tersebut.
“Situasi ini sangat memprihatinkan. Semua pihak harus menahan diri dan menghormati hukum internasional, khususnya perlindungan terhadap warga sipil,” kata Juru Bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam konferensi pers di Jenewa.
Sementara diplomasi masih diupayakan di meja perundingan, derita warga Gaza belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.








Leave a Comment