Harakatuna.com. Jakarta – Pakar terorisme Solahudin mengungkapkan adanya perubahan signifikan dalam lanskap terorisme di Indonesia, terutama terkait meningkatnya keterlibatan perempuan dalam aksi teror. Fenomena ini dinilai bukan sekadar kelanjutan dari pola yang sudah ada, melainkan bentuk baru yang patut menjadi perhatian.
“Salah satu perubahan penting dalam lanskap terorisme di Indonesia adalah keterlibatan aktif perempuan dalam tindak pidana terorisme,” ujar Solahudin saat menghadiri peluncuran buku “Keluar dari Jerat Kekerasan” karya Leebarty Taskarina di Gramedia Matraman, Jakarta Timur, Jumat (4/7/2025) sore.
Menurut Solahudin, selama era pengaruh ISIS, jumlah perempuan yang terlibat dalam aksi teror meningkat drastis. Ia mencatat, sekitar 55 perempuan tercatat terlibat dalam jaringan terorisme, jumlah yang lima kali lebih banyak dibandingkan periode sebelumnya.
“Ini bukan lagi peran pasif seperti yang terjadi pada masa lalu. Dulu, perempuan hanya terlibat karena relasi personal, seperti menjadi istri dari pelaku teror atau sekadar membantu menyembunyikan mereka,” jelasnya. Ia mencontohkan kasus istri dari Nurdin M. Top atau sejumlah perempuan yang ditangkap karena membantu menyembunyikan pelaku teror.
Namun, lanjut Solahudin, kini perempuan memainkan peran yang jauh lebih aktif. Ia menyoroti kasus Istiana, seorang perempuan yang terlibat dalam pendanaan, perekrutan, hingga provokasi untuk melakukan serangan teror.
“Istiana ini tidak hanya mendanai, tapi juga merekrut dan memprovokasi orang untuk melakukan penyerangan terhadap Wakapolres Karanganyar. Salah satu yang direkrutnya bahkan adalah mantan narapidana terorisme bernama Sujak,” ungkap Solahudin.
Ia menambahkan bahwa peran perempuan yang sedemikian dominan dalam jaringan teror belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia. Fenomena ini, menurutnya, menunjukkan bagaimana strategi kelompok teror seperti ISIS terus berkembang dan menyesuaikan diri, termasuk dengan melibatkan perempuan sebagai aktor utama.
“Dulu tidak pernah terbayang ada perempuan yang bisa merekrut, mendanai, sekaligus menggerakkan aksi kekerasan. Sekarang, itu sudah jadi kenyataan,” tegasnya.
Peluncuran buku “Keluar dari Jerat Kekerasan” yang turut menghadirkan diskusi mengenai peran perempuan dalam ekstremisme kekerasan ini, diharapkan dapat membuka ruang kesadaran baru bagi publik untuk memahami dinamika dan strategi baru dalam jaringan terorisme.







Leave a Comment