Harakatuna.com – Ketika perbatasan dunia maya dan dunia nyata perlahan sirna, kita menghadapi fenomena baru yang relatif berbahaya: radikalisasi dalam lanskap “onlife“. Istilahnya boleh jadi masih asing di telinga banyak orang. Namun, jejaknya telah berada di setiap ruang digital yang masyarakat jamah. Onlife radicalization, demikian Harakatuna menginstilahkannya, tidak lagi memisahkan apa yang terjadi di layar dan apa yang terjadi di jalanan.
Onlife radicalization lahir dari kenyataan: kita hidup dalam keterhubungan total. Pengalaman daring dan luring telah menjadi satu-padu, hidup menyatu tanpa sekat. Di situlah benih-benih radikal-terorisme tumbuh tanpa kita sadari, perlahan membentuk sosok-sosok yang tampak berjalan sendiri, sang lone wolf yang diam-diam menyerap, menggemakan, dan suatu hari memutuskan untuk bertindak.
Kita terbiasa membayangkan teroris sebagai ancaman luring. Kita dibesarkan dengan narasi bahwa ancaman besar selalu berasal dari organisasi: sel-sel tidur, struktur komando, atau halakah luring eksklusif. Namun dunia berubah. Lone wolf hadir sebagai produk zaman yang memungkinkan radikalisasi tanpa sentuhan fisik, tanpa interaksi organisasi sama sekali, bahkan tanpa perlu seseorang keluar dari kamar pribadinya.
Lone wolf tak perlu latihan bersama sebagaimana kelompok teroris konvensional yang punya i’dad ‘askari. Mereka juga tidak perlu berbaiat secara formal, cukup dengan tautan yang ia klik, video yang ia tonton, dan diskusi yang ia ikuti di forum gelap yang membisikkan rasa radikalisasi secara instan. Ia sendirian, tapi tidak pernah benar-benar sendiri; pikirannya diisi ratusan konten radikal dan dorongan untuk menjadi teroris.
Tentu, onlife radicalization bukanlah jalur panjang yang penuh pertemuan rahasia dan agenda tersembunyi. Ia terjadi secara simultan, di antara rutinitas harian yang tampak wajar. Seseorang hanya perlu membaca komentar, menonton video, mengklik tautan yang direkomendasikan algoritma. Ia akan menemukan narasi yang menguatkan rasa sakitnya, dan ia perlahan terserap dalam pusaran yang menegaskan bahwa aksi teror adalah satu-satunya jawaban.
Prosesnya tidak njelimet sebagaimana teori klasik yang menyusun deradikalisasi dalam tahap-tahap formal. Onlife radicalization memungkinkan seseorang melompat dari paparan pertama ke tindakan ekstrem dalam hitungan minggu, bahkan hari. Jadi, jika Aman Abdurahman, dedengkot JAD, mengatakan bisa membuat seseorang jadi teroris hanya dengan diajak diskusi dua jam, maka hal itu adalah benar adanya. Radikalisasi itu cepat menyebar.
Bahaya terbesar onlife radicalization adalah keheningannya. Ia tidak meninggalkan jejak berupa pertemuan fisik; halakah dan sejenisnya. Ia tidak menyalakan radar yang biasanya mendeteksi pergerakan kelompok oleh aparat. Ia bergerak dalam senyap, berkamuflase dalam kerumunan digital, di antara ratusan ribu orang yang setiap hari memproduksi kata-kata kasar, ejekan, dan ujaran kebencian yang sering dianggap sebagai bagian dari riuhnya medsos.
Lone wolf dalam konteks onlife adalah seseorang yang tampak biasa: boleh jadi pelajar, pekerja korporat, bahkan pengangguran. Ia bukan seorang kombatan terlatih sebagai para teroris Jama’ah Islamiyah yang latihan militer ke Afghanistan. Lone wolf tidak harus memiliki keterampilan militer, namun memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: keyakinan tunggal yang diperkuat echo chamber digital yang tanpa henti memberinya legitimasi.
Fenomena onlife radicalization semakin kompleks ketika algoritma medsos juga menjadi kurator narasi. Algoritma yang dirancang untuk memanjakan preferensi user justru mempersempit ruang pandang mereka, menenggelamkan mereka dalam ruang gema yang memperkuat bias dan prasangka; semakin terperosok jurang radikal-terorisme. Ironisnya, bagi yang sedang mumet, algoritma akan menyodorkan narasi yang sejalan dengan kemarahannya.
Bagi seseorang yang sedang mencari musuh, sebagai contoh, maka algoritma akan mempertemukannya dengan kelompok yang akan meyakinkan bahwa kekerasan adalah perlawanan yang legal.
Lone wolf yang hidup dalam ekosistem onlife tidak membutuhkan instruksi. Seseorang tidak memerlukan perintah tertulis dari pimpinan teroris. Ia cukup membaca apa yang sudah dibagikan ribuan kali; ia cukup menonton apa yang sudah disukai jutaan orang yang sepemikiran, dan dari sana ia merakit makna sendiri. Seseorang bisa terinspirasi oleh penembak di Selandia Baru; terpicu oleh video perakitan bom, bahkan terdorong untuk bertindak karena melihat rekaman aksi teror sebelumnya. Mengerikan.
Apakah itu terjadi di luar negeri? Tidak. Di sekitar kita sudah semarak. Beberapa kasus terorisme di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pola yang sama. Pelaku muda, bahkan anak di bawah umur, yang terpapar radikalisme secara daring. Mereka merakit bom rakitan di rumah, dan dalam banyak kasus, keluarga mereka bahkan tidak menyadarinya. Onlife radicalization terjadi seperti ujug-ujug, karena pergerakannya lebih bebas daripada terorisme konvensional.
Sistem penanggulangan yang selama ini bertumpu pada deteksi jaringan dan pengawasan pertemuan fisik tidak akan efektif menghadapi model radikalisasi onlife. Pelaku teror lone wolf, sebagai contoh, hanya meninggalkan isyarat, sering kali dengan unggahan simbolik, komentar ekstrem yang anonim, atau search engine tentang aksi-aksi radikal. Tantangannya adalah membedakan noise dan signal. Delik apa yang bisa digunakan? Hampir tak ada.
Paradigma keamanan harus bergeser. Kontra-terorisme perlu memahami cara kerja algoritma menciptakan jalur radikalisasi. Artinya, perlu kolaborasi mendalam antara negara, platform medsos, kelompok pendidikan, dan keluarga. Negara tidak cukup hanya berkoordinasi dengan aparat, tetapi harus memaksa perusahaan teknologi membuka sistem mereka untuk diaudit, agar onlife radicalization dapat dikenali dan dicegah.
Di sisi lain, masyarakat harus mulai memahami bahwa literasi digital harus masuk pada dimensi etis, empatik, dan kritis terhadap konten radikal yang tersebar sangat mudah. Guru, orang tua, dan teman sebaya perlu peka terhadap tanda-tanda perubahan perilaku sekitar, baik secara offline maupun online. Radikalisasi onlife kerap bermula dari kekecewaan, bullying dan segala laku alienasi, dan kesenjangan sosial.
Fenomena lone wolf adalah peringatan tentang onlife radicalization yang meresahkan; lahir dari scroll dan agitasi algoritmatik. Onlife radicalization merupakan preseden globalisasi yang tak memilukan. Dan selama kita terus menganggap dunia maya dan dunia nyata sebagai dua dunia yang terpisah, selama kita terus memisahkan strategi kontra-terorisme siber dan strategi kontra-terorisme fisik, kita sesungguhnya sedang memberi ruang bagi mereka yang ingin menjadi lone wolf dengan menceburi onlife radicalization.
Itulah yang wajib, sekali lagi wajib, diwaspadai di sekitar kita. Onlife radicalization merupakan wajah baru ancaman terorisme yang tidak bisa kita abaikan. Ia hidup di tengah kita, dalam gadget kita, dalam ruang digital yang setiap hari kita huni. Mungkin ia tidak terlihat dan tidak terdeteksi. Namun, ia tumbuh perlahan seperti pasir waktu, menunggu waktu untuk meledak di tengah-tengah kita. Waspadalah dengan onlife radicalization. []








Leave a Comment