Harakatuna.com – Tidak lama lagi tiba hari Asyura. Bagi umat Islam, terutama dari kalangan Syiah, Asyura merupakan hari sakral karena mengenang syahidnya cucu Nabi, Sayidina Husein bin Ali bin Abi Thalib, di Karbala. Kendati demikian, di medsos, netizen masih ribut dengan debat kusir. Ukhuwah permedsosan bak mati total. Ashabiyah merebak dan mengotak-ngotakkan umat Islam. Padahal, apa yang mereka bicarakan itu tak seburuk aslinya.
Mari mulai dari peristiwa hari-hari ini. Ketika Iran akhirnya menanggalkan strategi ‘perang bayangan’ dengan meluncurkan ratusan drone dan rudal ke Zionis Israel, dunia Muslim bergemuruh; tapi tak bersatu. Yang terjadi justru pecahnya respons yang menunjukkan luka lama umat: fragmentasi, sikap ambigu, dan ketundukan terhadap garis batas negara dan sekutu geopolitik masing-masing.
Sebagian umat memuji keberanian Iran, meski selama ini mereka mencaci Syiah. Sebagian lain justru menuduh aksi itu sebagai provokasi sektarian, bahkan mempersoalkan motifnya: apakah demi Palestina, atau demi dominasi Iran di Timur Tengah? Negara-negara Arab Sunni seperti Mesir, Yordania, dan UEA memilih diam di bawah ketiak Zionis. Saudi bahkan malah mengutuk Iran; sungguh Raja Arab yang koplak dan bermental ‘jahiliah’.
Namun itulah wajah getir umat hari ini: ukhuwah islamiah ditangguhkan saat solidaritas dibutuhkan. Ashabiyah, dalam bentuknya yang baru, yakni fanatisme terhadap bangsa dan loyalitas pada blok politik global, telah mengebiri ruh persatuan umat. Mereka terpecah karena kepentingan negara masing-masing. Ashabiyah kini hidup subur dalam wujud pseudo-nasionalisme, dibungkus diplomasi dan jargon kedaulatan semu.
Di Indonesia juga demikian adanya. Saat Iran menyerang Israel, sebagian Muslim di tanah air ikut bersorak. Tapi selebihnya diam, skeptis, atau malah sinis, karena narasi sektarian lebih dominan daripada semangat keadilan universal. Yang terakhir ini dilakukan oleh orang-orang Wahabi dan HTI. Di medsos, perdebatan berkutat pada labelisasi Syiah-kafir, bukan pada analisis kolonialisme Zionis atau kejahatan apartheid Israel.
Bahkan solidaritas terhadap Palestina, yang dulu menjadi titik temu lintas ideologi Islam, kini mulai retak: dicurigai sebagai agenda politik, diwaspadai karena dianggap bagian dari gerakan transnasional, bahkan ditertawakan oleh kelompok Muslim sendiri yang sudah terlalu nyaman dengan narasi anti-Syiah. Ideolog HTI Felix Siauw baru-baru ini viral karena mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak paham kebenarannya.
Mengapa itu terjadi? Jawabannya, akibat ashabiyah yang diglorifikasi dalam bingkai negara-bangsa. Ia tak lagi tampil sebagai fanatisme kesukuan, melainkan perangkat sistemik yang mengatur siapa yang boleh dibela, sejauh mana solidaritas diperbolehkan, dan siapa yang akan dicurigai bila terlalu keras menyuarakan ukhuwah global. Nasionalisme hari ini kerap kali palsu, aslinya adalah primordialisme yang mamatikan rasa ukhuwah.
Ukhuwah, Solidaritas Islam, dan Identitas Negara
Dalam keributan netizen Muslim di TikTok, ukhuwah jadi mantra nir-makna: ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, ukhuwah basyariyah—semuanya slogan kosong. Ia dijunjung tinggi di mimbar, tetapi diruntuhkan di meja-meja diplomasi dan di arena kekuasaan. Ironi kian kentara ketika solidaritas Islam dihadapkan pada tembok tebal bernama identitas negara yang tertabrak kepentingan geopolitik.
Indonesia pun tidak lepas dari paradoks tersebut. Umat terkotakkan sentimen mazhab yang mengebiri potensi ukhuwah islamiah itu sendiri. Muslim Indonesia juga terjebak dilema: ketika menyeru persatuan umat global, mereka dianggap utopis; ketika bicara nasionalisme, mereka mencla-mencle. Dalam ambiguitas itu, ukhuwah tidak lagi menjadi semangat yang menggerakkan. Ia sekadar menjelma aksesori wacana.
Solidaritas Islam hari ini rapuh karena tidak punya wadah politik yang stabil, dan tidak pula didukung mentalitas kolektif yang merdeka dari kepentingan negara-bangsa. Ukhuwah dipaksa berdamai dengan batas teritorial. Akibatnya, ukhuwah berubah jadi romantisme masa lalu, tidak efektif menjawab krisis dunia Muslim kontemporer. Dan lebih tragis lagi, ketika ada seruan persatuan, perseteruan Sunni-Syiah menyeruak kembali.
Sepertinya umat Islam perlu merenung diri: apakah ukhuwah islamiah bisa hidup berdampingan dengan nation-state? Ataukah keduanya memang selalu saling menegasikan sebagaimana yang dipropagandakan para radikalis? Apakah mungkin membangun kembali rasa kebersamaan lintas negara tanpa harus menabrak tatanan dunia modern yang telah mapan, namun juga tak terjebak mazhab sektarian?
Pertanyaan-pertanyaan itu boleh jadi bukan sekadar soal teologi atau politik, melainkan masa depan umat Islam itu sendiri: apakah Muslim akan terus hidup sebagai kelompok yang saling mendoakan tapi tak pernah saling memperjuangkan, atau sebagai umat yang berani melampaui sekat-sekat negara demi muruah Islam? Jika solidaritas lintas negara sangat mungkin terjadi, lantas mengapa ukhuwah malah terjerembab ashabiyah? Naif.
Ashabiyah dalam Bingkai Kebangsaan
Ashabiyah, sebagaimana ditegaskan Ibn Khaldun, adalah bahan bakar kebangkitan sekaligus awal keruntuhan peradaban. Ia adalah ikatan primitif yang pada mulanya mengandung daya ikat dan daya dorong; semangat kolektif yang menyatukan umat untuk menghadapi dunia luar—Zionisme, umpamanya. Namun secara historis, ashabiyah juga kerap menjelma fanatisme buta, menumpulkan akal sehat, dan menutup pintu persatuan.
Dan hari ini, di era negara-bangsa, semua menyaksikan wajah ashabiyah. Ia tidak mati, hanya berganti rupa. Ia tak lagi mengenakan jubah kesukuan, tapi menyamar dalam simbol mazhab manipulatif yang terlampau dogmatis daripada agama itu sendiri. Kalau tidak percaya, lihatlah bagaimana Wahabi eksis di tengah-tengah umat. Mereka adalah personifikasi utuh dari ashabiyah yang mencederai ukhuwah Islam.
Lihat dengan mata telanjang; ketika saudara Muslim di Palestina dijajah, penguasa negeri Arab terdiam menjaga teritorinya masing-masing. Solidaritas iman diabaikan sama sekali. Bahkan dalam organisasi internasional Islam sekalipun, seperti OKI, suara yang keluar bukan dari nurani kolektif umat, melainkan dari kepentingan nasional anggota-anggotanya yang sering saling bertolak belakang. Apakah itu yang diinginkan prinsip ‘kebangsaan’?
Kita harus jujur mengakui: nasionalisme, dalam banyak wajahnya hari ini, tak sedikit melahirkan bentuk baru ashabiyah yang lebih terstruktur karena dibungkus legalitas konstitusional. Fanatisme melahirkan ketundukan membabi-buta, mengorbankan kebenaran demi loyalitas dalam maknanya yang sempit, serta membenarkan kekerasan dengan dalih menjaga stabilitas nasional. Padahal, prinsip kebangsaan tak begitu cara mainnya.
Ashabiyah dalam bingkai kebangsaan adalah persatuan di atas kemanusiaan. Tidak dipisahkan mazhab, suku bangsa, bahkan tidak dipisahkan teritorial negara. Jadi, apakah mungkin membangun identitas kebangsaan yang tidak menjadikan umat lain sebagai musuh laten? Jawabannya iya, sangat mungkin. Namun, ashabiyah perlu ditafsirkan ulang dalam bingkai kebangsaan. Agama dan negara tidak boleh saling menegasikan satu sama lain.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…








Leave a Comment