Harakatuna.com – Pada 2023, Nigeria diguncang video deepfake yang menampilkan seorang pastor menyuruh umatnya membakar masjid. Setelah diselidiki, video itu palsu. Tapi keburu menyulut serangan balasan.
Begitu pula di Pakistan, di mana muncul rekaman palsu seorang tokoh minoritas yang tampak menghina Nabi. Kerusuhan pecah, nyawa melayang. Semua dimulai dari kebohongan yang direkam sempurna.
Padahal, video itu palsu. Hasil deepfake.
Deepfake bukan sekadar permainan teknologi. Ia adalah mesin kebohongan yang nyaris sempurna. Dengan kecerdasan buatan, wajah, suara, gerak bibir, hingga mimik tokoh agama bisa direkayasa untuk mengatakan apa pun. Termasuk hasutan kebencian, fatwa kekerasan, atau dukungan terhadap terorisme. Dalam konteks dunia yang mudah terpicu oleh sentimen keagamaan, satu video deepfake bisa menyalakan ledakan nyata.
Kasus semacam ini bukan bayangan masa depan. Tahun 2021, sebuah video viral di India menunjukkan pemuka Muslim seolah-olah menyerukan kekerasan terhadap umat Hindu. Video itu palsu. Tapi sebelum klarifikasi muncul, massa sudah turun ke jalan. Beberapa tempat ibadah diserang. Hoaks itu berubah jadi luka sosial.
Di Timur Tengah, akun-akun bayangan memanfaatkan teknologi serupa untuk memalsukan ucapan para tokoh Sunni dan Syiah. Seolah-olah mereka saling menghina simbol-simbol keimanan satu sama lain. Deepfake tak hanya melukai umat, tapi memperdalam jurang sektarianisme.
Kasus-kasus penipuan dan manipulasi dengan deepfake kian meningkat secara global. Menurut laporan Sumsub Global Deepfake Report 2024, insiden deepfake meningkat lebih dari 900% dalam dua tahun terakhir, dengan lonjakan tajam di wilayah Asia Tenggara dan Timur Tengah.
Salah satu kasus yang menghebohkan terjadi di Tiongkok pada April 2023, ketika seorang pria berhasil menipu temannya sebesar US$600.000 dengan video panggilan palsu yang menampilkan wajah bosnya—hasil deepfake.
Di Eropa, investigasi Der Spiegel mencatat penggunaan wajah tokoh Muslim terkenal untuk menyebar kampanye kebencian terhadap pengungsi. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa deepfake bukan sekadar bahaya yang tersembunyi—ia sudah menjadi ancaman nyata yang melintasi batas negara dan agama.
Bayangkan jika di Indonesia, beredar video yang menampilkan seorang kiai besar seolah-olah menyetujui bom bunuh diri. Atau sebaliknya, seorang ustaz moderat dipalsukan seolah-olah melecehkan simbol agama. Di negeri yang sudah rapuh oleh polarisasi, video seperti itu cukup untuk menyalakan perang kecil antarumat.
Masalahnya, banyak orang lebih percaya video daripada klarifikasi. Mata lebih cepat yakin daripada pikiran sempat mencerna. Dan dalam urusan iman, orang tak sempat memverifikasi. Mereka hanya merasa terluka. Dan luka itu sering dibalas dengan kekerasan.
Kelompok ekstremis, tentu, sudah melihat peluang ini. Deepfake memberi mereka alat yang sempurna. Tak perlu lagi merekrut melalui ceramah panjang. Cukup satu video palsu dari “ulama digital” yang menyerukan jihad, dan ratusan simpatisan bisa tergugah. Teroris tidak lagi butuh senjata. Cukup algoritma, wajah ulama, dan mikrofon buatan.
Lebih bahaya lagi, deepfake bisa digunakan untuk merusak kepercayaan internal. Bayangkan video yang tampak memperlihatkan tokoh mazhab tertentu bersumpah setia pada ideologi lawan. Atau memperlihatkan seorang pemuka agama memelintir ayat demi kepentingan politik. Dalam konflik sektarian, rekaman semacam ini bisa membunuh tanpa peluru.
Sayangnya, di Indonesia, belum ada regulasi yang secara spesifik mengatur deepfake dalam konteks keagamaan. UU ITE terlalu umum. Kominfo masih berkutat di wilayah hoaks lama. Padahal medan perangnya sudah berubah. Video palsu kini lebih nyata dari fakta.
Tahun 2024, seorang ustaz di Sumatra Barat hampir dibakar massa karena beredar video dirinya memeluk salib dan menyebut agama lain lebih benar. Setelah forensik digital dilakukan, terbukti video itu palsu. Tapi rumahnya terlanjur dibakar. Ia dan keluarganya mengungsi. Reputasinya hancur.
Ini bukan soal teknologi semata. Ini soal keamanan nasional, keutuhan umat, dan masa depan iman. Deepfake bukan cuma merusak kebenaran. Ia merusak rasa percaya. Dan tanpa kepercayaan, masyarakat runtuh. Agama jadi senjata. Mazhab jadi medan tempur.
Solusinya tak bisa hanya teknis. Detektor video palsu penting. Tapi yang lebih mendesak adalah pendidikan iman yang kritis. Kita perlu membangun budaya tabayyun digital—memeriksa sebelum percaya, menahan emosi sebelum menyebar. Pemuka agama perlu belajar teknologi, bukan untuk memakainya, tapi untuk mengenal bahayanya.
Bayangkan jika suatu hari, muncul video Nabi yang dibuat oleh AI. Dengan suara kharismatik dan wajah yang terasa suci, ia berbicara pada umat manusia. Mengutip ayat. Menyuruh berperang. Siapa yang akan membantah? Dan berapa banyak yang akan percaya?
Deepfake bukan sekadar ancaman masa depan. Ia sedang bekerja hari ini. Menyulut kebencian atas nama iman. Menyusup ke layar-layar kecil di tangan anak muda. Menyamar sebagai dalil. Dan mempersiapkan generasi baru radikalis yang tidak tahu bahwa mereka sedang ditipu oleh mesin.








Leave a Comment