Harakatuna.com. Jakarta – Generasi muda dinilai menjadi sasaran empuk kelompok radikal seperti Negara Islam Indonesia (NII) karena karakteristik usia yang tengah berada dalam fase pencarian jati diri. Hal ini disampaikan oleh pakar radikalisme Yuminah dalam sebuah dialog pencegahan paham ekstremisme.
“Pemuda menjadi target karena sedang berada dalam fase pencarian arah hidup. Mereka cenderung idealis, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan masih membentuk identitas. Ini dimanfaatkan oleh kelompok seperti NII melalui program-program bertema keagamaan seperti Syariah, Tarbiyah, dan Maliyah,” jelas Yuminah.
Ia menambahkan, kelompok radikal kerap menyusup ke dalam komunitas keagamaan dengan pendekatan yang terlihat moderat di awal. Namun seiring waktu, mereka mulai menanamkan ideologi eksklusif yang membenarkan kekerasan terhadap pihak yang dianggap berbeda pandangan.
“Mereka masuk dengan bahasa keagamaan yang sejuk dan familiar, namun perlahan menggiring pemikiran ke arah intoleransi dan pembenaran terhadap kekerasan,” tambahnya.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang disampaikan oleh Komisaris Polisi Agus Isnaini, M.Si., menunjukkan bahwa sekitar 11,7% masyarakat Indonesia telah terpapar paham radikal. Sementara itu, mayoritas masyarakat, yakni 88,3%, masih dinilai dalam kategori aman dari pengaruh radikalisme.
“Kalau melihat dari data statistik, ada 11,7% orang radikal di Indonesia. Dan ada 88,3% orang Indonesia yang sebenarnya baik, dan kita mempertahankan 88,3% orang Indonesia dengan kampanye yang dilakukan,” ujar Agus Isnaini dalam paparannya.
Agus juga menekankan bahwa rendahnya angka kejadian teror belakangan ini merupakan hasil dari sinergi berbagai elemen bangsa. Pendekatan yang digunakan mencakup dua strategi utama: penegakan hukum yang tegas serta edukasi melalui kampanye pencegahan.
Dialog ini menjadi salah satu upaya kolaboratif dalam membendung penyebaran ideologi ekstrem di kalangan generasi muda. Diharapkan, dengan kolaborasi antara institusi pendidikan, media, tokoh agama, dan aparat keamanan, pemuda Indonesia dapat menjadi lebih kritis dan tahan terhadap pengaruh radikal, baik di dunia nyata maupun ruang digital.
“Pencegahan harus dilakukan sejak dini, terutama di lingkungan pendidikan dan komunitas. Peran semua pihak sangat penting agar generasi muda kita tidak terjerumus dalam arus ekstremisme,” pungkas Yuminah.







Leave a Comment