Refleksi Kurban sebagai “Penyembelihan” Pemikiran Egosentris dan Sektarian 

Ahmad Fairozi, M.Hum.

13/06/2025

3
Min Read
Refleksi Kurban sebagai “Penyembelihan” Pemikiran Egosentris dan Sektarian 

On This Post

Harakatuna.com. Sukabumi – Meskipun Hari Raya Idul Adha 2025 telah berlalu, nilai dan makna yang terkandung dalam ibadah kurban tetap relevan dan mendalam. Kurban bukan sekadar ritual keagamaan, namun juga menjadi simbol persatuan dan rasa kebangsaan yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat Indonesia.

Dr. M. Najih Arromadloni, M.Ag., selaku pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU, menjelaskan bahwa ibadah kurban memiliki peran penting dalam merangkul perbedaan, termasuk perbedaan kepercayaan. Ia menyampaikan bahwa praktik berbagi daging kurban tidak hanya dilakukan oleh umat Islam kepada sesama, tetapi juga melibatkan umat non-Muslim yang turut serta memberikan hewan kurban untuk kemudian disembelih dan dibagikan kepada masyarakat.

Lebih jauh, tokoh yang dikenal sebagai Gus Najih ini menyatakan bahwa makna kurban sangat luas, bukan hanya sebatas penyembelihan hewan. Menurutnya, kurban juga mencerminkan pengorbanan ego pribadi dalam menjalin relasi sosial yang harmonis, terutama di tengah masyarakat yang majemuk.

“Kurban juga berarti mengesampingkan ego. Ketika kita hidup berdampingan dengan orang yang berbeda suku, agama, atau keyakinan, maka pengorbanan terbesar adalah kesediaan untuk menerima perbedaan itu,” ujar Gus Najih dalam pernyataannya di Sukabumi, Kamis (12/6/2025).

Ia menegaskan bahwa harmoni sosial hanya dapat tercapai jika setiap individu rela menahan diri dari sikap merasa lebih unggul. Ketika masih ada kelompok yang merasa paling benar atau paling tinggi derajatnya, potensi konflik dan perpecahan pun menjadi ancaman nyata.

Mengenai relevansi kurban dalam konteks berbangsa dan bernegara, Gus Najih menekankan pentingnya semangat pengorbanan dari seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, kemajuan dan kesejahteraan bangsa hanya bisa terwujud apabila semua warga negara bersatu, saling membantu, dan bergotong royong demi kepentingan bersama.

Ia juga menyebut bahwa penyelenggaraan ibadah kurban yang inklusif dan tersebar di seluruh penjuru negeri merupakan hasil nyata dari keberadaan Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila telah menjadi fondasi kokoh yang memungkinkan keberagaman tumbuh dalam suasana damai dan penuh toleransi.

“Pancasila menjadi titik temu bagi kemajemukan bangsa kita. Oleh sebab itu, berbagai bentuk ibadah, termasuk kurban, harus dijamin keberlangsungannya sebagai bentuk pengamalan nilai-nilai Pancasila,” jelasnya. Ia menyayangkan jika masih ada pihak yang justru memperkeruh suasana dengan mengklaim kebenaran secara sepihak, alih-alih berkontribusi bagi sesama.

Menutup pernyataannya, Gus Najih mengajak masyarakat untuk menjadikan momen hari besar keagamaan, termasuk Idul Adha, sebagai ruang untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama. Ia mengingatkan agar kurban tidak hanya dipahami secara simbolik sebagai penyembelihan hewan, tetapi juga dimaknai sebagai bentuk pengabdian dan kepedulian terhadap sesama.

“Apa pun yang kita cintai bisa menjadi bentuk pengorbanan – pikiran, tenaga, bahkan jiwa dan raga – selama itu untuk kepentingan bersama. Inilah esensi kurban: memberi demi kemaslahatan yang lebih luas,” pungkasnya.

Leave a Comment

Related Post