Harakatuna.com. Yogyakarta – Stigma negatif terhadap eks narapidana terorisme (eks-Napiter) masih menjadi penghalang besar dalam proses reintegrasi mereka ke masyarakat. Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag., menekankan pentingnya pembinaan berkelanjutan serta upaya mediasi antara eks-Napiter dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan sosial yang lebih inklusif.
Pernyataan ini disampaikan Prof. Zuly usai menghadiri dialog kebangsaan bersama eks-Napiter wilayah DIY, yang digelar pada Minggu (8/6/2025) oleh Kepolisian Daerah DIY dalam rangka menyambut Idul Adha 1446 H.
“Masyarakat harus terbuka dan memahami bahwa para eks-Napiter tidak dilepas begitu saja. Mereka telah melalui pembinaan dari lembaga pemerintah dan bekerja sama dengan instansi, termasuk perguruan tinggi,” ujar Prof. Zuly saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (9/6/2025).
Menurut Guru Besar Sosiologi ini, pembinaan terhadap eks-Napiter mencakup banyak aspek, mulai dari nasionalisme, keagamaan, hingga pendidikan akademis. Tujuannya agar mereka tidak hanya kembali diterima di masyarakat, tetapi juga memiliki bekal keterampilan untuk mandiri secara finansial.
Prof. Zuly mencontohkan, sejumlah program rehabilitasi dan pendidikan sudah dijalankan di berbagai daerah. Salah satunya di Jawa Timur, di mana seorang eks-Napiter yang pernah terlibat dalam kasus Bom Bali II mendapatkan beasiswa kuliah hingga jenjang S3 di Universitas Muhammadiyah Malang. “Eks-Napiter tersebut dibina oleh BNPT dan UMM. Ini bukti bahwa dengan pendekatan yang tepat, mereka bisa berubah dan berkontribusi secara positif di masyarakat,” jelasnya.
UMY Siap Fasilitasi Pendidikan bagi Eks-Napiter
UMY sendiri, kata Zuly, membuka peluang untuk ikut serta dalam pembinaan eks-Napiter di wilayah DIY, termasuk melalui pemberian keringanan biaya kuliah bagi mereka atau keluarganya. “Ini bagian dari dakwah UMY. Kita ingin mereka menjadi warga negara yang utuh, punya kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan mencintai bangsanya,” tegasnya.
Dalam dialog kebangsaan tersebut, Prof. Zuly juga menegaskan bahwa tidak ada pertentangan antara nilai-nilai keagamaan dan kecintaan terhadap negara. Menurutnya, Islam justru mengajarkan ketulusan, keikhlasan, dan tanggung jawab sebagai warga negara.
“Saya melihat para eks-Napiter di Yogyakarta ini punya niat yang tulus. Terlepas dari masa lalu mereka, kita harus bisa saling menerima sebagai bentuk rekonsiliasi sosial yang perlu terus dikembangkan,” tambahnya.
Ia mengajak seluruh elemen bangsa—terutama lembaga pendidikan—untuk aktif dalam membangun narasi kebangsaan yang inklusif serta merangkul semua lapisan masyarakat, termasuk mereka yang pernah tersesat dalam jalur kekerasan.








Leave a Comment